Beranda Opini Belajar Merdeka dari Ki Hajar Dewantara

Belajar Merdeka dari Ki Hajar Dewantara

0

Oleh: M. Khaqim*)

“ Pemerintah menyatakan bahwa wafatnya Ki Hajar Dewantara merupakan hilangnya seorang pendekar, yang sifat-sifatnya telah memberi kekuatan batin pada perjuangan kemerdekaan politik, kemerdekaan sosial, ekonomi, maupun perjuangan kebudayaan dan keruhanian” (Soekarno, Presiden RI Pertama).

Siapa yang tidak mengenal Ki Hajar Dewantara? Setiap anak bangsa Indonesia tentu mengenalnya. Terlahir dengan nama Raden Mas Suwardi Suryaningrat. Ia berasal dari sebuah lingkungan keluarga keraton Yogyakarta. Raden Mas Suwardi Suryaningrat, saat berusia 40 tahun berganti nama menjadi Ki Hajar Dewantara. Semenjak itu ia tidak lagi menggunakan gelar kebangsawanan di depan Namanya. Pergantian nama ini dimaksudkan agar ia dapat bebas dekat dengan rakyat, baik secara fisik maupun batin.

Ia menamatkan Sekolah Dasar di ELS (Sekolah Dasar Belanda), dan sempat melanjutkan studi di STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera), akan tetapi tidak tamat, karena sakit-sakitan pada waktu itu, dan ada lagi isu karena Ki Hadjar Dewantara sudah terlihat nasionalis oleh mata Belanda pada waktu itu sehingga pemutusannya pun secara sepihak dilakukan oleh Belanda.

Ki Hadjar Dewantara mengawali pekerjaannya sebagai wartawan di beberapa surat kabar seperti Sedyotomo, Midden Java, De Express, Oetusan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer, danPoesara. Tulisan-tulisannya sangat komunikatif, tajam, dan patriotic sehingga mampu membangkitkan semangat anticolonial bagi orang yang membacanya.

Ia adalah aktivis pergerakan kemerdekaan Indonesia, kolumnis dan pelopor Pendidikan bagi bangsa Indonesia. Sepanjang perjalanan hidupnya sarat dengan perjuangan dan pengabdian demi kepentingan Negara. Tak heran jika peran dan jasanya begitu besar dalam mengawal Impian bangsa Indonesia untuk menjadi bangsa yang Merdeka dari segala macam bentuk penjajahan.

Untuk mengawali Impian tersebut, ia menggunakan media Pendidikan. Baginya Pendidikan bukanlah tujuan, melainkan media untuk mencapai tujuan perjuangan, yaitu mewujudkan manusia Indonesia yang Merdeka lahir dan batin. Merdeka lahiriah berarti tidak terjajah secara fisik, ekonomi, politik, dan lain-lain, sedangkan Merdeka  batiniah berarti mampu mengendalikan diri dan mandiri dengan tanpa melanggar kemerdekaan orang atau golongan lain.

Lalu, bagaimanakah kepribadian Ki Hadjar Dewantara sebenarnya, sebagai Bapak Pendidikan Indonesia,  sebagai Menteri pertama Pendidikan dan Pengajaran di Indonesia.

  • Merakyat dan Humanis

Suwardi (Ki Hajar Dewantara) lahir dari dalam lingkungan Keraton Pakualaman, Yogyakarta. Namun sejak kecil ia terbiasa mengajak teman-temannya yang merupakan anak-anak rakyat jelata untuk masuk ke Pura Pakualaman. Misalnya untuk melihat pergelaran wayang kulit dan berbagai pertunjukan kesenian lainnya.

Suwardi juga sering kali harus berkelahi dengan sinyo-sinyo Belanda yang menghina anak-anak pribumi. Itulah, antara lain, bukti sikap Suwardi yang merakyat dan mencintai sesame manusia.

Ihwal sikap kemanusiaannya Suwardi itu memiliki latar belakang yang unik. Selain secara pribadi, ia memang tidak canggung untuk bergaul dengan siapapun juga, karena ia rupanya selalu mengingat pesan-pesan Ibundanya.

Alkisah, sang Ibunda pernah mengajak Suwardi ke Candi Borobudur. Di sana sang bunda berkata “Anakku Suwardi, lihatlah stupa di puncak candi itu. Manis dan indah bukan? Tetapi ketahuilah Wardi, bahwa stupa itu takkan berada di puncak candi jikalau tidak ada batu-batu dasar yang mendukungnya. Itulah ibarat rakyat jelata, itulah ibaratnya rakyat jelata, itulah Gambaran para budak dan hamba sahaya para raja. Oleh sebab itu, jikalau Tuhan memang mentakdirkan dirimu ke atas puncak dari segala puncak kemegahan Kerajaan warisan nenek moyangmu. Cintailah dan hargailah sesamamu, terutama rakyatmu yang memerlukan uluran tenaga dan pikiranmu”.

  • Keras tapi Tidak Kasar

Mr. Ali Sastroamidjojo, mantan Duta Besar RI untuk Amerika Serikat, anggota Majelis Luhur Tamansiswa, dan guru Tamansiswa di Yogyakarta, mengatakan, “Ki Hajar Dewantara adalah bapak yang ramah dan lemah lembut. Namun, di bawah kelemahlembutannya itu tersimpan keyakinan yang kuat, juga iman yang teguh laksana batu granit yang tidak dapat dipecahkan.”

Ali Sastroamidjojo sebelumnya mengira Ki Hajar Dewantara kalau berbicara selalu berkobar-kobar. Ia menduga Ki Hajar Dewantara sebagai pribadi yang keras dan kasar. “Saya jadi bingung Ketika berhadapan dengan seorang pemimpin yang lemah lembut, halus dalam Bahasa dn tingkah lakunya. Seoalah-olah perasaan yang berkobar-kobar tadi dipadamkan dengan air sejuk di waktu fajar menyingsing. Hatiku menjadi tenteram, semangatku yang berapi-api beku,” kata Ali Sastroamidjojo Ketika bertemu Ki Hadjar Dewantara pada tahun 1930-an.

Dalam kenangan keluarga dan para murid, Ki Hajar Dewantara juga merupakan sosok guru yang sangat tegas, penuh wibawa, tetapi berhati lembut. Tak banyak orang tahu bahwa Sebagian pemikiran luhur Ki Hajar Dewantara lahir dari kisah mengharukan, pengalaman, dan interaksi sehari-hari dengan orang -orang terdekatnya. Inilah ciri khas kepribadian Ki Hajar Dewantara yang diakui rekan-rekan sejawatnya. Keras namun tidak pernah kasar. (kras maar nooit grof).

  • Nasionalis Sejati

Rektor Universitas Gadjah Mada Prof. Dr. M. Sardjito dalam pidato pemberian gelar Doctor Honoris Causa, bertepatan dengan Dies Natalis VII UGM, pada 19 Desember 1956, mengatakan bahwa Ki Hajar Dewantara adalah sosok seperti berlian yang indah dengan banyak fasetnya. Perjuangan dalam bidang politik untuk mencapai Indonesia Merdeka telah mengakibatkan ia harus berurusan dengan polisi, pengadilan, penjara dan tempat pengasingan. Tetapi ini semua tidak membuat Ki Hajar Dewantara putus harapan dan lemah semangat.

Tentang kejawaan Ki Hajar Dewantara, seperti juga tentang keindonesiaannya, tidak ada kiranya satu orang pun yang sanggup menyangsikannya. Ia sama sekali bukan seorang fatalis. Selain itu, walaupun ia lahir dari dalam lingkungan keraton, namun anak-anak rakyat jelata yang menjadi teman-temannya selalu diajak masuk ke Pura Pakualaman. Misalnya untuk melihat pergelaran wayang kulit dan pertunjukan kesenian lainnya. Suatu waktu tidak jarang Suwardi harus berkelahi dengan sinyo-sinyo Belanda yang menghina anak-anak pribumi.

Jiwa kebangsaannya memang telah tertanam sejak muda. Jiwa kebangsaan ini memberikan kontribusi dan dorongan kuat pada dirinya untuk melahirkan konsep-konsep Pendidikan yang berwawasan kebangsaan.

  • Pemimpin Konsisten

Ajaran kepemimpinan Ki Hajar Dewantara yang sangat terkenal di kalangan Pendidikan adalah, Ing Ngarso Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani. Ajaran ini pada intinya menjelaskan bahwa seorang pemimpin harus memiliki tiga sifat agar dapat menjadi panutan bagi bawahan atau anak buahnya. Ing Ngarso Sung Tuladha berarti seorang pemimpin harus mampu memberikan teladan bagi bawahan atau anak buahnya. Sebagai seorang pemimpin atau komandan harus memiliki sikap dan perilaku yang baik dalam segala Langkah dan tindakannya agar dapat menjadi panutan bagi anak buah atau bawahannya. Banyak pimpinan saat ini yang sikap dan perilakunya kurang mencerminkan sebagai figur seorang pemimpin, sehingga tidak dapat digunakan sebagai panutan bagi anak buahnya.

Sama halnya dengan Ing Madya Mangun Karsa, Ing Madya artinya di Tengah, Mangun berarti membangkitkan atau menggugah, dan Karsa berarti sebagai bentuk kemauan atau niat. Jadi, makna dari kata itu adalah seorang pemimpin di Tengah kesibukannya harus juga mampu membangkitkan atau menggugah semangat kerja anggota bawahannya. Karena itu, seorang pemimpin juga harus mampu memberikan inovasi-inovasi di lingkungan tugasnya dengan menciptakan suasana kerja yang lebih kondusif untuk keamanan dan kenyamanan kerja.

Demikian juga dengan Tut Wuri Handayani. Tut Wuri artinya mengikuti dari belakang dan Handayani berarti memberikan dorongan moral atau dorongan semangat. Tut Wuri Handayani artinya seorang komandan atau pimpinan harus memberikan dorongan moral dan semangat kerja dari belakang. Dorongan moral ini sangat dibutuhkan oleh bawahan, karena paling tidak hal ini dapat menumbuhkan motivasi dan semangat kerja.

  • Berani dan Setia

Walaupun gagal menjadi dokter karena dikeluarkan dari STOVIA, Suwardi dengan senang hati dan penuh kebanggaan menerimanya sebagai konsekuensi untuk sebuah perjuangan. Dengan penuh haru tetapi membanggakan, teman-temannya seperti Cipto Mangunkusumo, Sutomo, Suradji Tirtonegoro, melepas Suwardi meninggalkan bangku STOVIA.

Bidang juralistik dan politik adalah babak baru perjuangan Suwardi. Bersama dengan Douwes Dekker dan dr. Cipto Mangunkusumo, ia mendirikan dan memimpin Indische Partij. Indische Partij adalah organisasi politik pertama dalam Sejarah Indonesia. Dengan tegas dinyatakan bahwa tujuan Indische Partij adalah tercapainya Indonesia Merdeka. Dan perjuangan pun tidak mengenal Lelah.

  • Sosok Bersahaja

Ki Hajar Dewantara adalah sosok yang memberi teladan. Sebagai pejabat negara, dulu ia tidak sungkan membeli perabotan bekas dari teman atau pelelangan. Di zaman penjajahan, warga Belanda yang ingin Kembali ke negaranya karena sudah pension biasa melelang rumah berikut perabotannya. Kesempatan ini tidak dilewatkan oleh keluarga Ki Hajar Dewantara. Selain harganya murah, toh yang penting kan kegunaannya. Nilai fungsi suatu benda bukan karena baru atau mahalnya benda tersebut, melainkan manfaatnya yang harus menjadi pertimbangan utama. 

*) Dosen UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini