Beranda Opini Manusia, Air, dan Dzikir: Mengapa Hati Perlu Dijaga?

Manusia, Air, dan Dzikir: Mengapa Hati Perlu Dijaga?

0

Oleh: Heru Sunarko

Dalam sebuah tulisan berjudul Air sebagai Medium Do’a: Dari Eksperimen Emoto hingga Amalan Rebo Wekasan yang dimuat di NU Online Jawa Barat, dijelaskan bahwa air tidak hanya dipahami sebagai sumber kehidupan, tetapi juga sering dipandang sebagai medium spiritual yang membawa doa dan keberkahan. Dalam tradisi Islam, air kadang digunakan sebagai media doa, misalnya dengan membacakan ayat-ayat Al-Qur’an atau doa tertentu, kemudian air tersebut diminum sebagai bentuk ikhtiar memperoleh keberkahan dan perlindungan dari Allah.

Tulisan tersebut juga menyinggung penelitian dari ilmuwan Jepang, Masaru Emoto, yang menyatakan bahwa air dapat merespons kata-kata, pikiran, atau doa manusia. Dalam eksperimennya, air yang diberi kata-kata baik atau doa menghasilkan bentuk kristal yang indah ketika dibekukan, sedangkan air yang diberi kata-kata negatif menghasilkan bentuk kristal yang tidak beraturan.

Terlepas dari perdebatan ilmiah mengenai metode penelitian tersebut, gagasan ini memberikan sebuah refleksi menarik yaitu kata-kata dan suasana yang baik dapat memberi pengaruh pada sesuatu yang sangat mendasar dalam kehidupan kita, yaitu air.

Hal ini menjadi semakin menarik jika kita mengingat bahwa tubuh manusia sebagian besar terdiri dari air. Para ahli menyebutkan bahwa sekitar 70% tubuh manusia adalah air. Air terdapat dalam darah, sel, otak, dan hampir seluruh sistem tubuh manusia. Dengan kata lain, unsur terbesar yang menyusun tubuh kita adalah air.

Jika air saja dapat dipengaruhi oleh kata-kata dan suasana, maka manusia yang tubuhnya dipenuhi air tentu juga sangat dipengaruhi oleh apa yang ia dengar, pikirkan, dan rasakan. Di sinilah kita bisa memahami mengapa dalam ajaran Islam manusia dianjurkan untuk memperbanyak dzikir, doa, dan menghadiri majelis ilmu atau majelis dzikir

Dzikir adalah aktivitas mengingat Allah dengan lisan dan hati melalui kalimat-kalimat yang penuh makna kebaikan seperti tasbih, tahmid, takbir, dan doa. Ketika seseorang berdzikir, ia sebenarnya sedang mengisi dirinya dengan kata-kata yang baik dan penuh keberkahan. Begitu pula ketika seseorang menghadiri majelis ilmu atau majelis dzikir, ia berada dalam lingkungan yang dipenuhi nasihat, doa, dan pengingat tentang Allah.

Al-Qur’an sendiri menegaskan bahwa dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram. Ketika hati dipenuhi dzikir, pikiran menjadi lebih tenang, emosi lebih terjaga, dan kehidupan terasa lebih terarah. Jika diibaratkan dengan air, manusia juga seperti air yang harus dijaga kejernihannya. Air yang dibiarkan dalam lingkungan yang kotor akan menjadi keruh dan berbau. Tetapi air yang terus mengalir akan tetap segar dan bersih.

Begitu pula manusia. Jika ia terus berada dalam lingkungan yang dipenuhi kata-kata buruk, pikiran negatif, dan pergaulan yang tidak baik, maka hatinya perlahan akan menjadi keruh. Namun jika ia sering menghadiri majelis ilmu, mendengar nasihat, dan memperbanyak dzikir, maka hatinya akan tetap jernih dan hidup.

Pada akhirnya, perumpamaan air ini memberi pelajaran penting bagi manusia. Tubuh membutuhkan air untuk hidup, tetapi jiwa membutuhkan dzikir untuk tetap tenang. Sebagaimana air yang jernih memberi kehidupan bagi makhluk hidup, dzikir dan majelis ilmu memberi kehidupan bagi hati manusia. Wallahu’alam.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini