Pekalongan – Kelompok mahasiswa Program Studi S1 Farmasi Universitas Pekalongan (UNIKAL) menggelar kegiatan edukasi kesehatan mengenai persepsi masyarakat terhadap obat generik dan obat bermerek di Kecamatan Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan, Jumat (29/5/2026).
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat tersebut dilaksanakan oleh lima mahasiswa, yakni Anggun, Nadhifah, Putri, Bilqis, dan Reva. Melalui kegiatan ini, mereka berupaya meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai keamanan, efektivitas, dan kualitas obat generik yang selama ini masih sering dipandang sebelah mata.
Edukasi tersebut dilatarbelakangi oleh masih banyaknya masyarakat yang beranggapan bahwa obat generik memiliki kualitas lebih rendah dibandingkan obat bermerek karena harganya relatif lebih murah. Padahal, secara ilmiah obat generik memiliki kandungan zat aktif, khasiat, serta tingkat keamanan yang setara dengan obat bermerek.
Dalam kegiatan tersebut, Reva dan Bilqis bertindak sebagai pemateri utama. Keduanya menyampaikan materi kepada masyarakat dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami sehingga informasi dapat diterima dengan baik oleh peserta. Sementara itu, Anggun, Nadhifah, dan Putri berperan dalam mengoordinasikan kegiatan serta mendampingi peserta selama sesi diskusi berlangsung.
“Kami masih menemukan banyak masyarakat yang ragu menggunakan obat generik. Padahal, obat generik telah melalui proses pengawasan dan pengujian yang ketat. Kandungan zat aktifnya sama dengan obat bermerek sehingga manfaat terapeutiknya juga setara,” ujar Reva.
Menurutnya, perbedaan utama antara obat generik dan obat bermerek terletak pada nama dagang, desain kemasan, serta biaya promosi yang dikeluarkan oleh perusahaan farmasi.
Senada dengan itu, Bilqis menekankan pentingnya menjadi konsumen obat yang cerdas. Menurutnya, pemahaman yang baik mengenai obat akan membantu masyarakat memperoleh pengobatan yang efektif sekaligus lebih ekonomis.
“Melalui edukasi ini, kami ingin menumbuhkan kepercayaan masyarakat terhadap obat generik sehingga tidak ragu lagi menerima maupun menggunakan obat generik yang diberikan oleh puskesmas, rumah sakit, maupun apotek,” katanya.
Evaluasi kegiatan dilakukan dengan menyebarkan kuesioner pemahaman obat kepada 15 responden warga setempat. Hasilnya menunjukkan adanya peningkatan pemahaman yang baik, dengan nilai rata-rata mencapai 10,67 dari total 15 poin. Mayoritas warga kini berhasil mengidentifikasi contoh obat generik beserta logonya secara tepat.
Kegiatan berlangsung dengan antusias. Warga aktif mengajukan pertanyaan dan berbagi pengalaman terkait penggunaan obat dalam kehidupan sehari-hari. Diskusi yang berlangsung menunjukkan tingginya minat masyarakat untuk memperoleh informasi kesehatan yang benar dan terpercaya.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa S1 Farmasi UNIKAL berharap masyarakat semakin memahami bahwa obat generik merupakan pilihan pengobatan yang aman, efektif, berkualitas, dan terjangkau. Dengan demikian, stigma bahwa “obat murah pasti murahan” dapat perlahan dihilangkan melalui edukasi berbasis ilmu pengetahuan.





