Oleh: Hendri Hermawan Adinugraha*)
Ketika Organisasi Pariwisata Dunia PBB (UNWTO) merilis laporan bahwa wisata religi global bernilai lebih dari USD 18 miliar per tahun dan terus tumbuh rata-rata 5,8 persen setiap tahun, Indonesia tampaknya belum sepenuhnya menyadari bahwa Provinsi Jawa Tengah menyimpan salah satu aset paling strategis dalam rantai pasok wisata religi internasional. Borobudur, yang telah lama berdiri sebagai monumen Buddha terbesar di dunia, bukanlah sekadar warisan arkeologi, melainkan titik awal bagi sebuah ekosistem ekonomi yang berpotensi mengubah peta pariwisata Asia Tenggara secara fundamental.
Ambisi Jawa Tengah untuk menjadi hub pelancong global bukan sekadar retorika pembangunan daerah. Di balik wacana tersebut tersimpan kalkulasi ekonomi yang sangat serius: integrasi Borobudur dengan deretan situs religi lain di Jawa Tengah, mulai dari kompleks masjid agung di Semarang, makam Wali Songo yang tersebar di pesisir utara, hingga Candi Prambanan di perbatasan Yogyakarta, dapat menciptakan koridor pariwisata religi multifaith yang belum ada tandingannya di Asia Tenggara. Pertanyaan kuncinya bukan lagi apakah potensi itu ada, melainkan seberapa besar nilai ekonomi yang sesungguhnya sedang kita biarkan tidur.
Berdasarkan perspektif ekonomi makro, konsep multiplier effect dalam pariwisata religi bekerja secara unik dibandingkan dengan segmen wisata lainnya. Peziarah, terutama yang datang dengan motivasi spiritual, memiliki dwell time atau waktu tinggal yang jauh lebih panjang, pengeluaran per kunjungan yang lebih tinggi, serta tingkat loyalitas terhadap destinasi yang sangat kuat. Studi yang dilakukan oleh Liro dan Meneghello (2025) menunjukkan bahwa wisatawan religi rata-rata menghabiskan 40 persen lebih banyak dibandingkan wisatawan leisure konvensional, karena mereka cenderung mengonsumsi paket perjalanan yang lebih komprehensif, termasuk akomodasi premium, pemandu wisata spiritual bersertifikat, serta produk-produk budaya lokal yang autentik.
Jawa Tengah memiliki keunggulan komparatif yang luar biasa dalam hal ini. Provinsi ini merupakan satu-satunya wilayah di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, yang menawarkan konsentrasi situs religi dari tiga tradisi spiritual besar dalam radius geografis yang relatif kompak: Buddha (Borobudur dan Mendut), Hindu (Prambanan dan Gedong Songo), serta Islam (Masjid Agung Demak, makam Sunan Kalijaga di Demak, Sunan Kudus di Kudus, dan Sunan Muria di Pati). Konfigurasi multifaith ini menciptakan apa yang disebut oleh ekonom pariwisata sebagai destination bundling advantage, yaitu kemampuan untuk menarik segmen pasar yang beragam secara simultan tanpa perlu melakukan investasi besar dalam pengembangan atraksi baru.
Integrasi antarsitus ini, jika dikelola dengan pendekatan ekosistem yang terstruktur, dapat menghasilkan nilai tambah ekonomi yang jauh melampaui total dari masing-masing bagian. Bayangkan sebuah koridor Jateng Pilgrim Trail yang menghubungkan Borobudur, Prambanan, pesisir utara Wali Songo, dan dataran tinggi Dieng dalam satu paket perjalanan berdurasi 7 hingga 14 hari. Dengan rata-rata pengeluaran peziarah internasional sebesar USD 150 per hari, berdasarkan data Kementerian Pariwisata RI tahun 2023, dan asumsi kunjungan 1 juta peziarah mancanegara per tahun, koridor ini berpotensi menghasilkan devisa sebesar USD 1,05 hingga 2,1 miliar per tahun. Angka ini belum memperhitungkan efek berganda pada sektor pendukung seperti transportasi, kuliner, kerajinan tangan, dan industri halal tourism yang kini tengah mengalami akselerasi secara global.
Di sinilah pentingnya memahami posisi Indonesia dalam rantai pasok wisata religi internasional. Selama ini, Indonesia, dan khususnya Jawa Tengah, lebih sering berperan sebagai destinasi terminal, yakni tujuan akhir perjalanan yang tidak terintegrasi dalam jalur distribusi wisatawan religi secara global. Padahal, negara-negara seperti Yordania, Israel, dan India telah berhasil memposisikan diri sebagai hub, bukan sekadar destinasi.
Mereka membangun konektivitas dengan jaringan agen perjalanan religi internasional, membentuk kemitraan dengan komunitas diaspora keagamaan di berbagai negara, serta mengembangkan infrastruktur digital yang memudahkan proses perencanaan ziarah. Jawa Tengah perlu menempuh jalur yang sama jika ingin naik kelas dari sekadar objek wisata menjadi simpul utama dalam rantai distribusi wisata religi global.
Pembangunan ekosistem ekonomi yang berkelanjutan di sektor ini memerlukan tiga pilar utama yang bekerja secara sinergis. Pilar pertama adalah pengembangan infrastruktur konektivitas. Bandara Internasional Ahmad Yani di Semarang dan Bandara Internasional Yogyakarta di Kulon Progo harus diberdayakan secara optimal sebagai pintu masuk bagi peziarah mancanegara, dengan rute penerbangan langsung dari kota-kota sumber wisatawan religi utama seperti Kuala Lumpur, Bangkok, Tokyo, Mumbai, dan Shanghai. Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025 mencatat bahwa wisatawan mancanegara yang masuk melalui kedua bandara tersebut masih jauh di bawah potensinya, yakni tidak lebih dari 8 persen dari total kunjungan wisata mancanegara ke Indonesia.
Pilar kedua adalah standardisasi dan sertifikasi layanan pariwisata religi. Salah satu hambatan struktural terbesar yang dihadapi Jawa Tengah dalam menarik peziarah internasional adalah ketiadaan standar layanan yang diakui secara global. Pemandu wisata religi yang terlatih, akomodasi yang memahami kebutuhan ritual peziarah dari berbagai tradisi keagamaan, serta paket perjalanan yang dirancang sesuai kalender liturgi internasional merupakan kebutuhan mendasar yang belum terpenuhi secara sistematis. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah perlu bekerja sama dengan lembaga sertifikasi internasional seperti Global Sustainable Tourism Council (GSTC) untuk mengembangkan standar khusus wisata religi yang dapat dijadikan referensi bagi agen perjalanan di seluruh dunia.
Pilar ketiga, dan yang paling sering diabaikan, adalah pengembangan ekonomi komunitas lokal yang terintegrasi ke dalam rantai nilai pariwisata. Pengalaman dari Camino de Santiago di Spanyol, rute ziarah yang kini menarik lebih dari 400.000 peziarah per tahun dan menghasilkan dampak ekonomi langsung sebesar EUR 300 juta (Brumec, 2022), menunjukkan bahwa keberlanjutan ekosistem wisata religi sangat bergantung pada seberapa dalam manfaat ekonominya meresap ke komunitas sepanjang jalur perjalanan. Jawa Tengah memiliki modal sosial yang kuat untuk ini: kerajinan batik, gerabah, kuliner berbasis tradisi spiritual, dan pertunjukan seni keagamaan yang autentik dapat dikemas menjadi produk ekonomi kreatif bernilai tinggi yang memperkuat identitas kawasan sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat lokal.
Menurut kajian geopolitik ekonomi yang lebih luas, ambisi Jawa Tengah sebagai hub pilgrim global juga perlu dibaca sebagai bagian dari strategi Indonesia dalam memanfaatkan megatren global: pertumbuhan kelas menengah Asia yang memeluk nilai-nilai spiritual, meningkatnya minat generasi muda terhadap perjalanan bermakna (meaningful travel), serta momentum pemulihan pariwisata pascapandemi yang membuka peluang repositioning bagi destinasi-destinasi baru. World Economic Forum (2025) dalam laporan Travel & Tourism Development Index 2024, spiritual and heritage tourism menempati posisi kedua sebagai segmen dengan pertumbuhan tercepat setelah eco-tourism, dengan proyeksi nilai pasar global mencapai USD 25 miliar pada tahun 2030.
Indonesia, melalui Jawa Tengah, sesungguhnya memiliki semua prasyarat untuk memanfaatkan peluang ini. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk meninggalkan pendekatan sektoral yang selama ini mendominasi pengelolaan pariwisata dan menggantinya dengan pendekatan ekosistem yang memandang seluruh situs, pelaku ekonomi, komunitas, dan infrastruktur sebagai satu kesatuan yang saling terhubung secara organik. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif perlu menjadikan koridor wisata religi Jawa Tengah sebagai pilot project nasional untuk pengembangan hub pilgrim, dengan anggaran yang memadai, regulasi yang mendukung investasi swasta, serta sistem pemantauan dampak ekonomi yang transparan.
Menakar potensi ekonomi di balik ambisi Jawa Tengah sebagai hub pilgrim global bukan pekerjaan yang bisa diselesaikan dengan angka-angka di atas kertas semata. Ia menuntut perubahan cara pandang: bahwa pariwisata religi bukan sekadar urusan agama, melainkan urusan ekonomi nasional kelas satu. Borobudur bukan hanya warisan budaya dunia; ia adalah lokomotif yang dapat menarik gerbong-gerbong ekonomi di sepanjang jalur ziarah Jawa Tengah, menciptakan lapangan kerja, menghasilkan devisa, dan menempatkan Indonesia dalam peta wisata religi global dengan posisi yang jauh lebih terhormat daripada yang kita miliki saat ini.
Kita hanya perlu memiliki keberanian untuk memulai dan kecerdasan untuk tidak mengulang kesalahan lama dengan mengelola potensi sebesar ini setengah-setengah. Sebab dalam dunia pariwisata global yang semakin kompetitif, kesempatan untuk menjadi pemimpin tidak datang dua kali.
Referensi
Brumec, S. (2022). Life changes after the Camino de Santiago pilgrimage, including a deeper sense of spirituality. Journal for the Study of Spirituality, 12(1). https://doi.org/10.1080/20440243.2022.2042948
Liro, J., & Meneghello, S. (2025). Understanding Contemporary Religious Tourism Through the Lens of the Experience Economy Approach. In Creating the Sacred Landscape. https://doi.org/10.1007/978-3-031-86232-8_6
World Economic Forum. (2025). Travel & Tourism Development Index 2024. Report. https://www3.weforum.org/docs/WEF_Travel_and_Tourism_Development_Index_2024.pdf
*) Dosen UIN K.H. Abdurrahman Wahid





