Beranda Opini Standar Hidup Siapa yang Sedang Kita Kejar?

Standar Hidup Siapa yang Sedang Kita Kejar?

0
sumber foto: pexels.com

Oleh: Lintang Dianing (Mahasiswa Pascasarjana UIN K.H. Abdurrahman Wahid)

Ada kalanya kita merasa hidup baik-baik saja sampai melihat kehidupan orang lain. Ponsel yang kita pakai sebenarnya masih berfungsi, tetapi mendadak terasa ketinggalan zaman setelah melihat keluaran terbaru. Pakaian yang ada di lemari masih layak, tetapi rasanya kurang menarik ketika melihat orang lain tampil dengan barang yang sedang tren. Bahkan, rencana liburan yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan bisa tiba-tiba terasa penting setelah melihat unggahan orang lain.

Kita mungkin tidak benar-benar membutuhkan barang-barang itu. Namun, setelah melihat orang lain memilikinya, muncul keinginan untuk ikut merasakan hal yang sama. Tanpa disadari, ukuran tentang hidup yang cukup mulai berubah. Bukan lagi berdasarkan kebutuhan dan kemampuan sendiri, melainkan berdasarkan apa yang dimiliki orang lain.

Menurut saya, persoalannya bukan semata-mata karena seseorang suka berbelanja atau ingin menikmati hasil kerjanya. Setiap orang berhak menggunakan penghasilannya untuk hal-hal yang membuat hidup lebih nyaman. Persoalan muncul ketika keinginan tersebut lebih banyak ditentukan oleh ekspektasi sosial daripada pertimbangan pribadi. Kita mulai membeli sesuatu bukan karena benar-benar membutuhkannya, melainkan karena tidak ingin merasa tertinggal.

Media sosial membuat keadaan ini semakin mudah terjadi. Kita bisa melihat pencapaian, penampilan, barang-barang, hingga pengalaman menyenangkan orang lain setiap hari. Padahal, yang terlihat di layar hanyalah sebagian dari kehidupan mereka. Kita tidak selalu mengetahui kondisi keuangan, tanggungan, atau pengorbanan di balik apa yang ditampilkan. Membandingkan kehidupan kita secara utuh dengan potongan kehidupan orang lain tentu bukan ukuran yang adil.

Masalahnya, keinginan untuk mengikuti standar tersebut tetap membutuhkan biaya. Ketika penghasilan belum cukup, seseorang bisa mengurangi tabungan, menunda kebutuhan yang lebih penting, atau bahkan berutang demi mempertahankan penampilan. Pengeluaran yang semula hanya untuk menyenangkan diri perlahan berubah menjadi beban. Ironisnya, setelah satu keinginan terpenuhi, standar baru sering kali muncul. Barang yang hari ini dianggap istimewa bisa terasa biasa saja ketika orang lain mulai memiliki sesuatu yang lebih baru.

Dalam perspektif Hukum Ekonomi Syariah, harta tidak semestinya dipandang hanya sebagai alat untuk memenuhi keinginan, tetapi juga sebagai amanah yang perlu dikelola secara bertanggung jawab. Imam al-Ghazali membahas tujuan-tujuan pokok syariat, termasuk perlindungan harta (hifẓ al-māl), dalam kitab Al-Mustashfa: Rujukan Utama Ushul Fikih, Jilid 1, cetakan pertama, terbitan Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, 2022.

Prinsip perlindungan harta mengingatkan kita bahwa keputusan keuangan perlu mempertimbangkan manfaat dan akibatnya. Membeli barang yang disukai bukan sesuatu yang otomatis keliru. Namun, ketika pengeluaran untuk memenuhi ekspektasi justru mengganggu kebutuhan pokok, kewajiban, dan keamanan keuangan, kita patut mengevaluasi kembali keputusan tersebut. Kemampuan membeli sesuatu tidak selalu berarti kita perlu membelinya.

Lalu, bagaimana agar kita tidak terus-menerus mengejar standar hidup orang lain? Menurut saya, langkah pertama bukan berhenti menggunakan media sosial atau menolak semua tren. Kita justru perlu lebih jujur ketika menilai keinginan sendiri. Sebelum membeli sesuatu, tanyakan: apakah barang ini memang saya perlukan, sudah lama saya inginkan, atau baru terasa penting setelah melihat orang lain memilikinya?

Kedua, tentukan prioritas berdasarkan kondisi keuangan masing-masing. Kebutuhan sehari-hari, kewajiban, dana darurat, dan tabungan perlu diperhitungkan sebelum uang digunakan untuk memenuhi keinginan tambahan. Jika memang belum mampu, menunda pembelian bukan berarti gagal menikmati hidup. Itu adalah keputusan untuk menjaga kepentingan diri sendiri di masa mendatang.

Ketiga, jangan menjadikan utang sebagai jalan pintas untuk mempertahankan citra. Tidak semua hal yang terlihat menarik harus segera dimiliki. Kita tidak perlu membuktikan bahwa hidup kita baik-baik saja melalui barang yang dikenakan, tempat yang dikunjungi, atau hal-hal yang bisa dipamerkan. Ada banyak hal penting dalam hidup yang tidak perlu diketahui orang lain.

Pada akhirnya, setiap orang memiliki titik awal, tanggungan, dan tujuan keuangan yang berbeda. Karena itu, standar hidup yang masuk akal bagi seseorang belum tentu sesuai bagi orang lain. Kita boleh terinspirasi oleh kehidupan orang lain, tetapi tidak harus menyalinnya.

Mungkin sudah waktunya kita berhenti sebentar sebelum mengejar sesuatu yang tampak menarik di mata orang lain. Bukan untuk membatasi kebahagiaan, melainkan untuk memastikan bahwa keputusan kita benar-benar membawa manfaat. Sebab, hidup yang baik tidak harus selalu terlihat mengesankan. Yang lebih penting, kita mampu menjalaninya tanpa mengorbankan ketenangan hari ini dan kebutuhan kita di masa depan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini