Beranda Opini Mengungkap Keajaiban Tidur 309 Tahun: Kisah Ashabul Kahfi dan Keterkaitannya Dengan Sains

Mengungkap Keajaiban Tidur 309 Tahun: Kisah Ashabul Kahfi dan Keterkaitannya Dengan Sains

0

Kisah Ashabul Kahfi, sekelompok pemuda yang tidur dalam gua selama lebih dari tiga abad, merupakan salah satu cerita yang paling menarik dan penuh makna dalam al-Qur’an. Kisah ini terdapat dalam Surah Al-Kahfi (18:9-26) dan tidak hanya menyampaikan pelajaran spiritual, tetapi juga memunculkan rasa ingin tahu tentang fenomena tidur panjang yang mirip dengan hibernasi. Fenomena ini, yang sebelumnya dianggap mustahil, kini dapat dijelaskan dengan temuan-temuan ilmiah modern. Dalam artikel ini, kita akan membahas kisah mengenai Ashabul Kahfi, tafsir dari para ulama besar, dan kaitannya dengan penelitian ilmiah mengenai hibernasi.

Dalam Surah Al-Kahfi (18:18), Allah SWT. berfirman:

وَتَحْسَبُهُمْ أَيْقَاظًا وَهُمْ رُقُودٌ ۚ وَنُقَلِّبُهُمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَذَاتَ الشِّمَالِ ۖ وَكَلْبُهُمْ بَاسِطٌ ذِرَاعَيْهِ بِالْوَٰسِطِ ۚ لَوِ اطَّلَعْتَ عَلَيْهِمْ لَوَلَّيْتَ مِنْهُمْ فِرَارًا وَلَمُلِئْتَ مِنْهُمْ رُعْبًا
“Dan kamu mengira mereka itu bangun, padahal mereka tidur; dan Kami bolak-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka menjulurkan kedua lengannya di muka pintu gua.” (QS. Al-Kahfi 18:18).

Ayat ini menggambarkan bagaimana tubuh Ashabul Kahfi tampak seperti orang yang terjaga, padahal mereka sedang tidur dalam waktu yang sangat lama. Keajaiban ini menarik perhatian kita untuk merenungkan bagaimana tubuh manusia dapat bertahan tanpa mengalami kerusakan selama 309 tahun. Allah menggambarkan bahwa tubuh mereka dibolak-balikkan untuk mencegah kerusakan akibat tekanan yang berlebihan pada satu sisi tubuh. Keajaiban ini dapat dijelaskan melalui fenomena hibernasi dalam ilmu pengetahuan modern.

Para mufassir terkenal seperti Ibnu Katsir dan Al-Qurthubi menjelaskan bahwa kisah ini adalah bukti dari kekuasaan Allah yang menjaga kehidupan hamba-Nya. Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyatakan bahwa meskipun mereka tidur dalam waktu yang sangat lama, tubuh mereka tetap terjaga dan dilindungi oleh Allah. Dalam Surah Al-Kahfi (18:25), dikatakan bahwa mereka tidur selama 309 tahun tanpa mengalami penuaan atau kerusakan tubuh yang signifikan:

وَلَبِثُوا فِي كَهْفِهِمْ ثَلاثَ مِائَةٍ سِنِينَ وَازْدَادُوا تِسْعًا

“Dan mereka tinggal di dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun.”
(QS. Al-Kahfi 18:25).

Kisah ini mengajarkan kita bahwa Allah memberikan perlindungan dan penjagaan kepada hamba-Nya dalam kondisi yang sangat tidak terduga sekalipun. Para pemuda ini memiliki keteguhan iman dan dilindungi Allah SWT dalam tidur panjang mereka.

Untuk memahami fenomena tidur panjang ini, kita dapat mengaitkannya dengan konsep hibernasi, sebuah fenomena biologis yang memungkinkan makhluk hidup menurunkan aktivitas metabolisme mereka untuk bertahan hidup dalam kondisi ekstrem. Hibernasi biasanya terjadi pada hewan-hewan tertentu, seperti beruang atau tupai, yang tidur dalam waktu yang lama selama musim dingin atau ketika kondisi lingkungan tidak mendukung kehidupan mereka. Dalam hibernasi, tubuh hewan tersebut mengurangi suhu tubuh, detak jantung, dan laju pernapasan hingga mencapai tingkat minimum, yang memungkinkan mereka bertahan hidup meskipun tidak makan atau minum selama berbulan-bulan.

Kondisi tubuh Ashabul Kahfi bisa dianggap mirip dengan hibernasi, meskipun tidak dijelaskan secara biologis dalam Al-Qur’an. Namun, prinsip dasar dari kedua fenomena ini adalah kemampuan tubuh untuk bertahan hidup dalam kondisi ekstrem tanpa mengalami kerusakan atau penuaan. Tubuh Ashabul Kahfi tetap terjaga, tidak mengalami kerusakan atau atrofi otot meskipun tidur dalam waktu yang sangat lama. Hal ini dapat dianalogikan dengan bagaimana hewan-hewan yang berhibernasi dapat menghindari kerusakan jaringan meskipun tidak bergerak dalam waktu lama.

Salah satu aspek penting dari hibernasi adalah perubahan posisi tubuh secara berkala untuk menghindari kerusakan akibat tekanan yang berlebihan pada satu sisi tubuh. Dalam kisah Ashabul Kahfi, Allah berfirman bahwa tubuh mereka dibolak-balikkan selama tidur mereka untuk mencegah kerusakan tersebut. Ini menunjukkan keselarasan antara konsep hibernasi dan apa yang digambarkan dalam Al-Qur’an.

Penelitian ilmiah tentang hibernasi juga membuka kemungkinan untuk menginduksi keadaan hibernasi pada manusia. Beberapa ilmuwan sedang mengembangkan metode untuk memanfaatkan kondisi hibernasi ini, misalnya untuk mengurangi konsumsi energi saat operasi medis atau untuk mempersiapkan tubuh manusia menghadapi perjalanan luar angkasa jangka panjang. Teknologi ini terinspirasi oleh kemampuan tubuh hewan yang berhibernasi untuk bertahan hidup dalam kondisi ekstrem.

Kisah Ashabul Kahfi tidak hanya mengajarkan keteguhan iman, tetapi juga membuka wawasan ilmiah tentang bagaimana tubuh bisa berfungsi dalam kondisi tidur panjang. Meskipun sains dapat memberikan penjelasan mekanistik tentang bagaimana tubuh bisa bertahan dalam kondisi seperti itu, Al-Qur’an mengajarkan kita bahwa semua ini terjadi atas izin dan kekuasaan Allah. Al-Qur’an memberikan dasar spiritual yang kokoh, sementara sains membantu kita memahami ciptaan Allah dengan lebih dalam.

Kisah ini juga menunjukkan bahwa sains dan Al-Qur’an tidak bertentangan, melainkan saling melengkapi. Sains memberikan penjelasan tentang mekanisme biologis, sementara Al-Qur’an mengajarkan kita untuk selalu mengagumi kebesaran Allah dalam menciptakan kehidupan. Dengan mengkaji fenomena alam seperti hibernasi, kita dapat lebih mengagumi ciptaan-Nya dan meningkatkan rasa syukur kita atas segala kebesaran Allah.

Referensi

Kementerian Agama RI. Al-Qur’an dan Terjemahannya. 2023.
Ibnu Katsir. Tafsir Ibnu Katsir. Terjemahan oleh M. Abdurrahman. Pustaka Imam Asy-Syafi’i, 2022.
Storey, Kenneth B. & Churchill, T.A. “Hibernation and Torpor in Mammals: Biochemical Adaptations.” Annual Review of Physiology, Vol. 84, 2022.
Geiser, Fritz. Ecological Physiology of Daily Torpor and Hibernation. Springer, 2021.
Andrews, M.T. “Advances in Understanding Mammalian Hibernation.” Journal of Experimental Biology, 2022.
Al-Qurthubi. Tafsir Al-Qurthubi. Terjemahan oleh A. Muhaimin. Darul Haq, 2022.

Penulis: Mislaili Fitriani

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini