Kebijakan moneter merupakan instrumen penting dalam mengatur perekonomian suatu negara. Di Indonesia, Bank Indonesia (BI) sebagai otoritas moneter memiliki tanggung jawab untuk menjaga stabilitas nilai rupiah, mengendalikan inflasi, dan mendukung pertumbuhan ekonomi. Stabilitas moneter merupakan aspek fundamental dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan di Indonesia. Bank Indonesia, sebagai otoritas moneter, menghadapi berbagai tantangan dan peluang dalam merumuskan kebijakan yang tidak hanya efektif dalam jangka pendek, tetapi juga berkelanjutan dalam jangka panjang. Sehingga dalam kondisi global yang terus berubah, tantangan dan peluang untuk menerapkan kebijakan moneter yang berkelanjutan.
Inflasi yang Fluktuatif dan Pertumbuhan Ekonomi merupakan tantangan utama yang dihadapi oleh BI adalah fluktuasi inflasi. Faktor Inflasi yang tinggi dapat menggerogoti daya beli masyarakat dan mengganggu stabilitas ekonomi. Di sisi lain, inflasi yang terlalu rendah juga dapat mengindikasikan lemahnya permintaan dalam perekonomian. Sehingga BI harus mampu menyeimbangkan antara menjaga inflasi dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Menyeimbangkan target inflasi dengan pertumbuhan ekonomi menjadi tantangan utama. Bank Indonesia harus mempertahankan inflasi dalam rentang target 2,5±1% sambil mendukung pemulihan ekonomi pasca pandemi. Menurut studi (Nasution dan Rahman 2023) , trade-off antara stabilitas harga dan pertumbuhan ekonomi semakin kompleks di era digital.
Ketidakpastian Global (Volatilitas) Ketidakpastian di pasar global, seperti perubahan suku bunga di negara maju, perang dagang, dan gejolak geopolitik, dapat mempengaruhi stabilitas ekonomi Indonesia. Kebijakan moneter yang diambil oleh negara lain, terutama Amerika Serikat, dapat berdampak langsung pada arus modal dan nilai tukar rupiah. BI perlu mengantisipasi dampak dari perubahan ini dan merespons dengan kebijakan yang tepat. Ketidakpastian ekonomi global, termasuk fluktuasi nilai tukar dan arus modal internasional, memberikan tekanan signifikan terhadap stabilitas rupiah. Data Bank Indonesia menunjukkan bahwa volatilitas nilai tukar rupiah mencapai tingkat yang cukup tinggi selama periode 2020-2023, terutama dipengaruhi oleh kebijakan moneter negara maju dan tensi geopolitik (Warjiyo, 2023).
Perubahan Iklim dan Transformasi Digital. Isu perubahan iklim semakin menjadi perhatian global, dan Bank Indonesia tidak bisa mengabaikannya. Kebijakan moneter yang berkelanjutan harus mempertimbangkan dampak lingkungan dari setiap keputusan yang diambil. BI perlu berkolaborasi dengan lembaga lain untuk memastikan bahwa kebijakan yang diterapkan mendukung tujuan keberlanjutan. Transformasi Digital Merupakan Perkembangan teknologi finansial dan digitalisasi sistem pembayaran menghadirkan tantangan baru dalam transmisi kebijakan moneter. Bank Indonesia perlu beradaptasi dengan landscape keuangan yang berubah cepat (Siswanto & Pribadi, 2024).
Peluang Kebijakan Moneter ada 3 hal yaitu Digitalisasi dan Inovasi Keuangan Perkembangan teknologi keuangan (fintech) memberikan peluang bagi Bank Indonesia untuk meningkatkan efisiensi dalam pelaksanaan kebijakan moneter. Digitalisasi dapat mempermudah akses masyarakat terhadap layanan keuangan, serta meningkatkan transparansi dan akuntabilitas. Bank Indonesia dapat memanfaatkan teknologi untuk memperkuat sistem pembayaran dan mengoptimalkan pengawasan terhadap lembaga keuangan. Transformasi digital membuka peluang untuk meningkatkan efisiensi operasional dan efektivitas kebijakan moneter. Pengembangan CBDC (Central Bank Digital Currency) dan modernisasi sistem pembayaran dapat memperkuat transmisi kebijakan moneter (Bank Indonesia, 2024).
Kerjasama Internasional dan Koordinasi Kebijakan dalam menghadapi tantangan global, kerjasama internasional menjadi sangat penting. Bank Indonesia dapat memperkuat hubungan dengan bank sentral negara lain untuk berbagi informasi dan pengalaman dalam menghadapi tantangan ekonomi. Kerjasama ini juga dapat membuka peluang untuk investasi asing yang dapat mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia. Penguatan koordinasi antara kebijakan moneter, fiskal, dan makroprudensial dapat menciptakan sinergi yang mendukung stabilitas sistem keuangan secara keseluruhan. Forum Koordinasi Makroekonomi memberikan platform ideal untuk mengoptimalkan bauran kebijakan (Kementerian Keuangan RI, 2023).
Keberlanjutan dan Penguatan Framework Kebijakandengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya keberlanjutan, Bank Indonesia memiliki kesempatan untuk menjadi pelopor dalam penerapan kebijakan moneter yang ramah lingkungan. Bank Indonesia memiliki peluang untuk memperkuat kerangka kebijakan moneter melalui implementasi instrumen baru dan penyempurnaan sistem operasional. Pengembangan instrumen derivatif dan pasar uang yang lebih dalam dapat meningkatkan efektivitas transmisi kebijakan. BI dapat mengembangkan instrumen keuangan yang mendukung proyek-proyek berkelanjutan, seperti green bonds, yang tidak hanya memberikan imbal hasil finansial tetapi juga memberikan dampak positif bagi lingkungan. (Warjiyo & Juhro, 2023).
Kebijakan moneter yang berkelanjutan merupakan tantangan sekaligus peluang bagi Bank Indonesia. Dalam menghadapi tantangan inflasi, ketidakpastian global, dan isu perubahan iklim, BI perlu mengambil langkah-langkah strategis yang tidak hanya fokus pada stabilitas ekonomi, tetapi juga pada keberlanjutan. Dengan memanfaatkan teknologi dan menjalin kerjasama internasional. Bank Indonesia perlu terus berinovasi dan beradaptasi untuk menciptakan kebijakan yang efektif dan berkelanjutan dalam mendukung stabilitas makro ekonomi Indonesia.
Referensi
Bank Indonesia. (2024). Laporan Kebijakan Moneter Triwulan IV 2023. Jakarta: Bank Indonesia.
Kementerian Keuangan RI. (2023). Laporan Koordinasi Kebijakan Fiskal-Moneter 2023. Jakarta: Kemenkeu.
Nasution, A., & Rahman, M. (2023). “Monetary Policy Transmission in Digital Era: Evidence from Indonesia”. Journal of Asian Economics, 45(2), 78-95.
Siswanto, B., & Pribadi, M. (2024). “Digital Transformation and Monetary Policy Effectiveness”. Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan, 26(1), 1-22.
Warjiyo, P. (2023). Central Banking in the Digital Era: Challenges and Opportunities. Singapore: World Scientific.
Warjiyo, P., & Juhro, S. M. (2023). Central Bank Policy: Theory and Practice. Emerald Publishing Limited.
Bank Indonesia. (2023). Laporan Perekonomian Indonesia. https://www.bi.go.id/id/default.aspx
World Bank. (2023). Indonesia Economic Prospects. https://www.worldbank.org/ext/en/home
International Monetary Fund. (2023). Global Financial Stability Report. https://www.imf.org/en/Home
United Nations Environment Programme. (2023). Financing Sustainable Development. https://www.unep.org/
Penulis: M. Luthfi Maulana Rohman (10122049)
Mahasiswa Hukum Keluarga Islam, UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan dan GenBI Tegal





