Ternyata, yang namanya tempat parkir itu punya banyak fungsi. Tak sekadar sebagai tempat penitipan kendaraan, melainkan juga tempat untuk menitipkan kenangan. Paling tidak, bagi anak muda yang berpacaran, mungkin pernah sekali waktu ngajak janjian untuk bertemu di tempat parkir. Walau bisa saja pertemuan itu berlangsung amat singkat. Sekadar tempat transit bagi dua sejoli yang sedang kasmaran untuk kemudian pindah ke tempat nge-date yang telah disepakati.

Sayang, fungsi tempat parkir yang demikian kerap kali dilupakan. Entah sengaja atau tidak, entah disadari atau tidak. Tetapi, jika saya diperkenankan berasumsi, kelupaan itu barangkali sebagai akibat dari karakter tempat parkir itu sendiri. Sekadar menjadi tempat untuk menitipkan, bukan untuk menyimpan.

Sebagai tempat penitipan, tentu sifatnya sangat sementara. Rentang waktu yang diperlukan pun relatif lebih singkat. Sifat kesementaraan ini pula yang membuat kebanyakan orang lebih mudah melupakan.

Cobalah amati letak kendaraan yang berparkir setiap hari. Tentu, letaknya berubah-ubah. Kendaraan yang diparkir pun silih berganti. Jangankan di tempat parkir umum yang jelas-jelas kendaraannya silih berganti, di tempat parkir yang hanya diperuntukkan bagi karyawan sebuah kantor, dengan kendaraan yang sama setiap hari saja tata letaknya bisa berubah-ubah saban hari.

Betapa, tempat parkir menjadi tempat yang dinamis. Perubahan-perubahan terjadi sedemikian cepat. Tanpa terskenario sebelumnya.

Sayang, kerap kali dinamika ini luput dari perhatian maupun pencermatan. Kebanyakan orang, usai meletakkan kendaraan akan bergegas meninggalkan tempat parkir. Merasa sudah aman. Merasa sudah menitipkan pada orang yang sudah pasti dapat dipercaya. Padahal, di sela-sela rasa percaya itu ada celah yang memungkinkan bagi kejadian-kejadian di luar dugaan.

Ambil contoh, helm hilang, spion copot, plat motor penyok, atau yang lainnya. Karena merasa ada sesuatu yang tidak beres, si penitip lantas meminta pertanggungjawaban penjaga parkir. Mula-mula menanyakan tentang kejadian itu. Dilanjutkan dengan adu argumen. Sampai-sampai, kadang dibela-belain menengkari penjaga parkir.

Begitulah, kadang-kadang. Orang mudah betul menitipkan sesuatu, mungkin juga—tanpa sadar—menitipkan kenangan tanpa merasa perlu menjaganya baik-baik. Mungkin, menganggap kenangan sekadar angin lalu. Tidak terlalu penting untuk diingat.

Dan, disadari atau tidak, rasa-rasanya itu pula tabiat manusia dalam menjalani kehidupan. Mudah menitipkan apa yang mestinya menjadi tanggung jawabnya kepada orang lain, atau bahkan kepada Tuhan sekalipun. Setelah itu, melenggang santai tanpa memperhatikan apa yang mestinya menjadi perhatiannya.

Lantas, begitu timbul masalah, barulah merasa ada sesuatu yang tidak beres. Tetapi, ketidakberesan itu dilimpahkan kepada yang dititipi. Sedang, ketidakberesan pada diri sendiri acap kali terlupakan.

Mengapa begitu? Umumnya, ketika sesuatu telah dititipkan, orang merasa tak perlu memikirkan hal itu. Apalagi merisaukannya. Walau memang, orang yang dititipi mestinya menjaga kepercayaan si penitip. Tetapi, mesti dipahami pula, bahwa orang yang dititipi mestinya menyadari kapasitas diri.

Sayangnya, terkadang orang lebih gedhe rasa inginnya. Ingin mendapatkan keuntungan besar. Ingin memiliki nama baik. Ingin disanjung puja. Dan, seabrek keinginan lainnya. Itu pula yang kadang membuat seseorang menjadi lupa untuk membaca batas dan keterbatasan.

Jadi, agaknya manusia memang jenis makhluk yang serba lupa. Tetapi, kadang berlagak tak punya kelupaan. Ah, alangkah gilanya manusia. Hanya gara-gara tempat parkir.

Eit! Tolong jangan anggap serius tulisan ini. Saya juga nggak serius nulisnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini