Pemandangan langit yang tiba-tiba keruh mengundang banyak tanya. Apa yang sedang terjadi? Mengapa bisa begitu? Semua pertanyaan itu menghempas begitu saja. Tanpa satu pun jawaban yang setidaknya dapat dijadikan tambatan, walau sementara.
Begitu pula yang dialami warga Kotapraja Hastinapura. Perasaan heran beradu dengan rasa ingin tahu. Akan tetapi, keduanya mesti dibenturkan pula pada kecekaman. Lalu, tanpa mengenyahkan pertanyaan-pertanyaan, mereka berlari dengan pertanyaan lain. Dimana tempat yang paling aman untuk bersembunyi dan menyelamatkan diri?
Mula-mula semua tegun. Memandang langit yang tak biasa. Pikiran mereka dihinggapi rasa ingin tahu yang terlampau besar. Menerka dan mencoba memecahkan misteri di balik keajaiban langit.
Tetapi, lambat laun rasa ingin tahu itu malih rupa. Menjadi kecekaman. Pusaran awan yang menggantung di langit seolah-olah akan segera menelan segala yang ada di muka bumi. Orang-orang menghambur. Meninggalkan rumah, mencari tempat sembunyi.
Mengetahui perihal kekisruhan itu, putra sulung Prabu Drestarasta, Duryodhana segera beringsut dari istana. Dikawal Dursasana dan beberapa prajurit, ia memeriksa keadaan dari atas benteng istana. Betapa, terkejut ia, manakala menemui pemandangan langit yang mengerikan itu.
“Ini benar-benar aneh. Sulit dimengerti,” gumam Duryodhana.
“Apakah ini tanda akhir dunia, Kakang Prabu?” tanya Dursasana.
“Tidak. Ini bukan tanda akhir dunia, Dursasana adikku. Penglihatan batinku menangkap ada kemarahan yang tersulut. Tetapi, siapa dan apa yang menyebabkannya, aku tak mampu menjangkaunya,” jawab Duryodhana.
“Apa sebaiknya kita lakukan, Kakang Prabu?” Dursasana kembali bertanya.
Belum sempat pertanyaan itu terjawab, seorang prajurit datang menghampiri. Mengirim kabar, Bisma segera tiba. Katanya, kakek Duryodhana itu ingin menemuinya.
Tak butuh lama, Bisma sudah berdiri di belakang Duryodhana. Tanpa basa-basi, ia berkata, “Aku minta padamu, buka gerbang istana.”
“Oh, salam hormatku, Kakek,” ucap Duryodhana bermanis-manis.
“Bukan saatnya untuk bertata krama macam itu, cucuku. Saat ini seluruh warga Kotapraja Hastina tengah mencari keselamatan. Dan kau, sebagai pemimpin, sudah selayaknya memberi mereka jaminan keselamatan yang mereka cari. Buka gerbang istana, cucuku,” balas Bisma, mengulang permintaannya.
“Maaf, Kakek Bisma, bukan aku tidak ingin. Akan tetapi, apakah usulan kakek bisa menjamin, bahwa kedatangan mereka tidak akan membuat kegaduhan di istana? Apakah ada jaminan pula, bahwa mereka tidak akan menjarah apa-apa yang ada di istana?” sergah Duryodhana.
“Nyawa seorang manusia lebih penting dari sebutir mutiara, cucuku.”
“Istana adalah wilayah yang sakral, Kakek. Muruahnya mesti dijaga. Apa jadinya kalau istana diinjak-injak kaki mereka yang kotor?” kilah Duryodhana.
Mendengar jawaban itu Bisma terdiam. Setengah tak percaya, bahwa cucunya sama sekali tak menghiraukan ucapannya. Kesal dengan sikap cucunya, ia pun berujar, “Baiklah. Aku sendiri yang akan membukanya. Aku yang bertanggung jawab atas kehormatan istana!”
Lantas, Bisma enyah dari wajah cucunya. Tak memedulikan kemarahan cucunya nanti. Baginya, keselamatan rakyat Hastina merupakan keselamatan bagi negeri Hastina. Titik!
Lain Duryodhana, kesal dengan sikap Bisma. Hanya, kebesaran wibawa Bisma mencegahnya untuk melawan. Duryodhana tak cukup punya nyali untuk bertindak lebih. Setidaknya, masih ada sejumput rasa hormat, walau bibit kekurangajaran di dalam hatinya terus tumbuh dan menancapkan akarnya kuat-kuat. Tak lain, karena cemburu. Para putra Pandu telah merebut kasih sayang Bisma, kakeknya. Sampai-sampai, Duryodhana dan saudara-saudaranya merasa kehilangan sosok pengasuh yang baik. Sejak itu, benih-benih permusuhan tumbuh subur menghampar di atas ladang batin Duryodhana.
Gerbang istana dibuka. Ribuan orang merangsek masuk. Berharap, mereka selamat. Walau, tak ada jaminan pula. Tetapi, setidaknya mereka cukup mendapatkan perlindungan. Apalagi benteng pertahanan istana Hastina sangat kokoh. Selain oleh bangunannya, dengan dinding tebal dan tinggi menjulang, juga karena penjagaan para prajurit yang perkasa. Mereka adalah para pendekar pilihan.
Itu tak lain berkat Duryodhana. Sebagai seorang pemanah, ia terasah untuk mengamati siapa yang layak menjadi prajuritnya. Sebagai seorang yang menguasai siasat perang, kemampuan untuk menempatkan orang-orang pilihannya boleh dibilang tidak pernah meleset.
Bahkan, di bawah kepemimpinan Duryodhana, Kurawa kerap menang perang. Berhasil pula menaklukkan kerajaan-kerajaan lawan. Sampai-sampai, membuat kerajaan-kerajaan itu menjadi sekutu bagi wangsa Kurawa.
Terpaan angin terasa melemah. Pusaran awan di langit mulai melambat pergerakannya. Wajah langit yang semula muram perlahan menampakkan perubahan. Warna biru langit mulai tampak jelas.
Tetapi, perubahan itu justru membuat orang-orang makin bingung. Kecemasan yang menguasai pikiran belum sepenuhnya sirna. Cekam pada segenap batin mereka belum pula melepaskan cengkeramannya. Mereka memandang, kejadian aneh itu makin aneh.
Di tengah gelombang bimbang itu Bisma lantang berseru, “Tenang. Tenang wahai rakyat Hastina! Tak ada yang perlu kalian cemaskan lagi! Badai itu sudah pergi! Sudah tidak mungkin akan datang lagi! Sekarang, duduklah kalian semua bersamaku! Tundukkan kepala kalian! Dan, rapalkan japa mantra demi keselamatan Hastina. Aku yakin, dewa-dewa pasti akan lebih mendengarkan.”
Bisma pun memimpin upacara. Kedua matanya memejam. Kedua telapak tangannya ditangkupkan di atas dada. Lalu, mulutnya merapal mantra.
Dalam beberapa saat kemudian, suara gumam rapalan mantra itu memenuhi seluruh sisi istana. Suara itu bagai dengung lebah yang memutari istana. Makin lama makin kuat pula pengaruh mantra itu. Sampai-sampai, istana Hastina seakan-akan meninggalkan kesan istananya. Malah, ia cenderung mirip sebagai tempat persembahyangan.
Tingkah Bisma sontak membuat Dursasana tersinggung. Pikirnya, tindakan itu adalah penghinaan. Tanpa pamit pada kakaknya, ia bergegas melangkah. Sayang, dalam tiga langkah, Duryodhana menyeru.
“Jangan, dimas! Biarkan,” perintahnya.
Kata-kata itu seketika menghentikan langkah Dursasana. Sebentar kemudian, menoleh ke arah Duryodhana. Lalu berkata, “Bukankah….”
“Kalau kau memaksa, lakukanlah! Tapi, apa kau rela kewibawaan kita jatuh di hadapan rakyat Hastina?” tukas Duryodhana.
Dursasana menunduk. Pundaknya naik turun seirama dengus napasnya yang kencang. Memperlihatkan amarahnya belum juga reda.
“Lihatlah, mereka sungguh menghormati kakek Bisma. Apalagi setelah mereka tahu, bahwa kakek Bisma telah bersumpah untuk tidak mewarisi tahta Hastina, hanya demi menghindari perselisihan di antara wangsa Kuru. Makin besar pula cinta mereka itu kepada kakek Bisma,” ungkap Duryodhana.
Dursasana terbenam dalam renungnya. Meski dalam hati, ia tak terima.
(Bersambung)





