Pelayanan yang buruk itu bikin nyesek di hati. Bener nggak sih? Anda, pernah mendapatkan pelayanan buruk? Kalau pernah, itu artinya kita sama.
Sebagai konsumen, mendapatkan pelayanan yang baik dari tempat kita membeli sesuatu merupakan hal yang sangat kita dambakan. Ya kan? Sayangnya, nggak semua pelaku bisnis bisa memberikan pelayanan yang baik kepada konsumen. Tentu, ada banyak faktornya. Tapi, saya tidak sedang ingin berteori tentang apa saja penyebabnya. Yang ingin saya ungkap kali ini seputar pengalaman saya mendapatkan pelayanan yang tidak menyenangkan. Bolehlah, ini dibilang curcolan. Siapa tahu dengan curcolan ini kita bisa mengambil pelajaran penting. Ya nggak?
Jadi gini, beberapa hari lalu, tepatnya sekitar 4 tahun lalu sih, saya membeli batagor di sebuah usaha pribadi milik seseorang. Saat itu, saya merasa mendapatkan pelayanan yang sama sekali, menurut saya, nggak memuaskan. Bahkan boleh dikatakan, sangat jorok. Nggak etis banget untuk dilakukan seorang pedagang, apalagi penjual makanan. Oh ya, untuk menjaga nama baik si penjual, nama warungnya sengaja saya rahasiakan. Juga lokasi warungnya. Yang jelas, masih di daerah Pekalongan. FYI, itu pertama kalinya saya beli batagor di tempat itu. Dan, ini bukan pertama kalinya saya menemukan pedagang yang beginian. Sebelumnya, pernah di tempat lain.
Nah, lanjut ya ceritanya. Ketika saya membeli batagor, saya nggak cuma duduk-duduk menunggu pesanan saya jadi. Tapi, saya sengaja ikut menyaksikan proses produksinya. Saya penasaran dengan proses produksinya. Mulai dari penggorengan sampai cara mengemasnya, saya ikuti.
Saat itu, saya lihat si penjual tersebut memasukan barang dagangannya ke dalam bungkus plastik. Rupanya, dia nggak memakai alat penjepit makanan atau minimal pakai garpu. Tapi menggunakan tangan kosong. Ya, pakai tangan kosong, bisa Anda bayangkan sendiri.
Semula, saya berpikir, mungkin si penjual lupa naruh alat penjepit makanan atau lupa membawanya. Atau juga, memang nggak mau ribet. Tapi apapun alasannya, saya tetap nggak peduli. Saya tetap menilai kelakuan si penjual memasukkan makanan ke dalam plastik tanpa alat bantu termasuk perbuatan nggak etis.
Meskipun agak sedikit dikecewakan, saya tetap membayarnya. Saya sendiri tentu tidak menyebut diri saya sok bersih atau apalah. Tapi ini kan soal makanan yang mau kita makan. Saya cuma berusaha membiasakan diri agar hidup dengan sikap yang hati-hati. Apalagi kita nggak tahu semuanya, siapa tahu di makanan tersebut tertempel kuman dan sejenisnya. Jadi kadar higienis makanan bisa dikata menurun.
Dan bagi saya, menjamin makanan tetap higienis kepada pembeli itu penting. Sebab, tidak semua pembeli memiliki kondisi kesehatan yang super prima. Makanya, memberikan pelayanan yang baik kepada pelanggan atau pembeli merupakan hal yang harus dilakukan pedagang, produsen dan sebagainya.
Bagaimana mau dapat untung jika melayani pembeli saja dilakukan secara buruk. Yang ada mau untung malah buntung, karena bisa saja orang-orang yang dikecewakan secara pelayanan, tidak mau membeli lagi di tempat tersebut. Orang-orang tentu akan lebih memilih membeli sesuatu entah itu berupa barang, makanan atau jasa di tempat yang menjadikan ia merasa nyaman, merasa dihargai, dan tentu saja menerima pelayanan yang berkualitas.
Konsepnya begini, dalam dunia bisnis, kualitas pelayanan yang baik itu sangatlah berpengaruh terhadap keberhasilan sebuah usaha. Dengan kualitas pelayanan yang baik akan tercipta pelanggan loyal yang biasanya akan merekomendasikan bisnis kepada orang lain. Akan tambah lagi pelanggan-pelanggan baru.
Nah, kalau yang terjadi seperti yang saya ceritakan di atas, bagaimana mungkin saya mau merekomendasikan bahwa tempat tersebut makanannya enak, higienis, murah, pelayanan ramah dan lain-lain.
Meningkatkan pelayanan kepada konsumen adalah salah satu strategi marketing dalam meningkatkan penjualan. Seorang pelaku usaha jangan sampai menyepelekan hal tersebut. Banyak pedagang yang nggak menempatkan layanan konsumen sebagai prioritas. Dan, ini merupakan kesalahan yang besar.
Setiap pelayanan yang baik pasti akan diingat oleh konsumen. Sehingga ada kemungkinan di kemudian hari orang tersebut akan datang lagi untuk membeli produk Anda. Sebaliknya, konsumen yang nggak puas akan memberitahu ke orang lain mengenai ketidakpuasannya. Hal ini bisa memberikan image yang buruk bagi perusahaan atau bisnis yang sedang Anda jalani.
Sekali lagi, jika tidak mau usaha anda bangkrut, maka layanilah konsumen dengan sebaik-baiknya. Selain pelayanan yang baik dalam hal pengemasan produk, pelaku usaha juga harus memberikan pelayanan lainnya seperti bersikap ramah, selalu tersenyum, informatif, dan sabar dalam menghadapi konsumen.
Kualitas Pelayanan dianggap baik apabila pelayanan yang diberikan sesuai dengan yang diharapkan oleh konsumen. Sementara jika melebihi apa yang diharapkan konsumen, maka dapat dikatakan pelayanan sangat memuaskan. Berangkat dari peristiwa yang saya alami, saya ingin menyampaikan kepada pedagang, pengusaha, dan lain sebangsanya di manapun berada, khususnya yang bergerak di bidang kuliner, untuk secara istikamah meningkatkan kualitas pelayanan yang berkualitas. Misalnya, ketika ada konsumen yang datang duluan, ya untuk didahulukan proses pemesanannya. Jangan sampai kita sudah datang duluan malah yang didahuluin orang lain, yang notabene baru saja datang.
Pelaku usaha harus ingat, kalau di luar sana banyak pesaing dengan bisnis yang sama, yang siap merebut pelanggan, jika Anda sendiri nggak mau mengubah atau nggak mau ningkatin kualitas pelayanan kepada pembeli. Tak sekadar ningkatin pelayanan, tingkatkan juga tuh kualitas produk. Karena konsumen akan merasa senang jika mendapatkan pelayanan yang memuaskan, plus produk yang kita beli (dalam hal ini makanan) terasa enak ketika dimakan.
Intinya berikan kesan yang baik kepada konsumen, jangan sampai momen memasukan makanan ke dalam plastik pakai tangan terjadi lagi. Bagi para pedagang batagor, siomay, dan sebangsanya, tolonglah, untuk nggak ngelakuin hal konyol begituan lagi. Misal nggak mau ribet pakai penjepit makanan atau garpu, ya paling nggak tangannya dibungkus pakai sarung tangan plastik, jadi untuk meminimalisir kuman yang masuk ke makanan tersebut.





