Jagad maya Indonesia kembali bergemuruh, kali ini panggungnya adalah perseteruan viral antara “Yai Mim” dan “Sahara”. Jutaan pasang mata seketika menjadi juri, dan kolom komentar berubah menjadi arena perang tanpa henti. Namun, di balik riuhnya dukungan dan caci maki, ada sebuah refleksi yang lebih sunyi dan jauh lebih penting untuk kita renungkan. Fenomena ini bukanlah sekadar drama personal yang tersaji untuk konsumsi publik, melainkan sebuah cermin retak yang memantulkan kondisi budaya kita yang sesungguhnya, khususnya nilai-nilai luhur Jawa yang kian terlupakan.
Inti dari kearifan sosial Jawa terletak pada falsafah tiga serangkai yang tak terpisahkan: Asah, Asih, dan Asuh. Ini bukan sekadar rangkaian kata, melainkan sebuah sistem etika yang utuh. Asah adalah semangat untuk saling menajamkan akal budi, memberikan kritik yang mencerahkan, bukan menjatuhkan. Asih adalah kewajiban untuk menebar welas kasih dan sayang kepada sesama, membangun ikatan batin yang kuat. Sementara Asuh adalah tanggung jawab untuk saling membimbing, mengayomi, dan melindungi, di mana yang lebih tua menuntun yang muda dengan kebijaksanaan.
Namun, apa yang kita saksikan di panggung digital hari ini adalah antitesis dari semua itu. Prinsip asah telah bermutasi menjadi ajang saling mempermalukan di depan umum, di mana nasihat tak lagi bertujuan membangun, melainkan menghancurkan reputasi. Semangat asih terkubur dalam-dalam di bawah tumpukan komentar penuh kebencian dan fitnah, menciptakan kubu-kubu yang saling membenci. Lalu, prinsip asuh sirna digantikan oleh arogansi dan pamer kekuatan, di mana dialog yang mengayomi antara generasi atau pandangan yang berbeda mustahil terjadi.
Selain tiga serangkai tadi, ada satu lagi pilar utama yang kini terasa goyah, yaitu Tepo Seliro. Ini adalah sebuah “ilmu merasa” yang agung, kemampuan untuk menempatkan diri pada posisi orang lain, menimbang perasaan mereka sebelum kita berucap dan bertindak. Tepo seliro adalah rem sosial yang mencegah kita menyakiti orang lain, fondasi dari masyarakat yang harmonis dan saling menjaga perasaan atau guyub rukun. Ia mengajarkan kita untuk berpikir: “Jika saya berada di posisinya, bagaimana perasaan saya jika diperlakukan seperti ini?”
Di era digital yang serba cepat, tepo seliro menghadapi tantangan terbesarnya. Kecepatan jempol sering kali mengalahkan kepekaan nurani. Tabir layar gawai menciptakan jarak psikologis yang membuat kita mudah melontarkan kata-kata tajam tanpa membayangkan dampaknya. Interaksi digital seolah mengamputasi empati kita, karena kita tidak melihat langsung raut wajah sedih atau sakit hati dari orang yang kita komentari. Akibatnya, ruang maya menjadi tempat yang kejam, di mana penghakiman instan lebih dihargai daripada pemahaman yang mendalam.
Lunturnya nilai-nilai ini membawa konsekuensi yang nyata bagi tatanan sosial kita. Ketika asah, asih, asuh, dan tepo seliro hilang, yang tersisa adalah masyarakat yang rapuh dan mudah terbelah. Rasa hormat kepada yang lebih tua (unggah-ungguh) terkikis, digantikan oleh keberanian semu untuk menghardik siapa saja. Polarisasi menjadi semakin tajam, karena tidak ada lagi jembatan welas asih yang menghubungkan perbedaan. Kita berisiko menjadi sebuah masyarakat yang reaktif, mudah tersulut amarah, dan kehilangan kemampuan untuk menyelesaikan masalah dengan kepala dingin dan hati yang lapang.
Maka, tulisan ini bukanlah untuk menghakimi pihak mana pun dalam kasus yang sedang viral. Ini adalah sebuah panggilan, sebuah pengeling (pengingat) untuk kita semua agar melakukan introspeksi kolektif. Menjadi orang Jawa, atau menjadi orang Indonesia yang berbudaya, bukanlah tentang status warisan, melainkan tentang pilihan sikap setiap hari. Sudah saatnya kita berhenti menjadi penonton pasif atau komentator beringas. Mari kita latih kembali jempol kita untuk menulis apa yang dilandasi oleh semangat asah dan asih, bukan kebencian. Mari kita kembalikan adab dalam berkomunikasi, baik kepada yang lebih tua maupun yang lebih muda.
Kasus Yai Mim vs. Sahara biarlah menjadi lonceng pengingat yang nyaring bagi kita semua. Kita berada di persimpangan jalan: memilih untuk terseret arus degradasi moral di era digital, atau secara sadar berpegang teguh pada akar budaya kita yang luhur. Pilihan ada di tangan kita. Mari kita buktikan bahwa kearifan leluhur tidak lekang oleh zaman dan masih relevan untuk menuntun kita. Mari kita kembali menjadi manusia yang memanusiakan manusia. Mari kita kembali menjadi Jawa. Jawa sing njawani.





