Pekalongan – Suasana hangat dan penuh kekeluargaan menyelimuti kegiatan Sahur Keliling bersama Dr. (HC). Hj. Shinta Nuriyah Wahid, M.Hum., dalam rangka Dialog Kebangsaan bertema “Puasa Berbalut Bencana dan Goyahnya Demokrasi”. Kegiatan yang berlangsung di Gedung Student Centre Kampus 2 UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan, Minggu (22/02/2026), dihadiri para pimpinan dan tamu undangan dalam suasana hangat dan meneduhkan.
Nyai Shinta sapaan akrabnya mengungkapkan rasa haru dan syukur atas penggunaan nama Abdurrahman Wahid sebagai nama universitas. Ia berharap nilai-nilai perjuangan Gus Dur, diantaranya kemanusiaan, demokrasi, keadilan, dan persamaan senantiasa mewarnai jiwa sivitas academika. Pesan itu disampaikan olehnya di hadapan 700-an peserta sahur keliling.
“Puasa bukan sekadar ibadah tahunan. Puasa adalah jalan untuk menjadi pribadi yang bertakwa, yang mampu mengubah perilaku menjadi lebih baik secara keberlanjutan.” jelasnya.
Ibu dari 4 putri itu menambahkan, Makna la’allakum tattakun adalah perubahan akhlak dan berbudi pekerti luhur yaitu kejujuran, kesabaran, saling menghormati, dan saling menolong, bukan hanya selama Ramadhan, tetapi sepanjang hayat. Diterangkannya lagi, Indonesia adalah bangsa majemuk. Meski berbeda suku, agama, dan budaya, tetapi tetap satu saudara. Toleransi dan saling menghargai adalah fondasi kehidupan berbangsa.”
“Menghormati sesama manusia sama dengan menghormati Sang Pencipta. Dan sebaliknya merendahkan sesama manusia juga sama dengan merendahkan penciptanya. Boleh berbeda pilihan dan berebut peran, tetapi jangan sampai memecah belah. Semua harus bermuara pada kebaikan dan pembangunan bangsa.” terangnya.
Nyai Shinta juga menuturkan bahwa tradisi sahur keliling telah ia lakukan sejak mendampingi Gus Dur, sebagai wujud kasih sayang dan persaudaraan lintas kalangan. Sahur dapat digelar di mana saja, baik di pasar, terminal, hingga halaman rumah ibadah sebagai simbol kebersamaan dan penghormatan antarsesama.
Menutup dialog kebangsaan, beliau mengajak hadirin mengenang Gus Dur melalui lantunan syiir Munajat Abu Nawas, sebagaimana kebiasaan almarhum Gus Dur saat menutup pidatonya. Suasana pun kian khidmat dan reflektif.
Melalui kegiatan ini, diharapkan semangat kemanusiaan, toleransi, dan persaudaraan semakin tumbuh, serta nilai-nilai luhur perjuangan Gus Dur terus hidup dalam langkah dan pengabdian seluruh keluarga besar UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan.
Pengirim: Anik Maghfiroh
Editor: K. Anwar





