Beranda Berita Launching Buku Perempuan Pesisir dan Keadilan Iklim: Akademisi Dorong Kebijakan Berbasis Gender...

Launching Buku Perempuan Pesisir dan Keadilan Iklim: Akademisi Dorong Kebijakan Berbasis Gender dan Ekologi

0

Pekalongan — Isu krisis iklim tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga menyentuh langsung kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat pesisir, khususnya perempuan. Hal itu mengemuka dalam kegiatan Seminar Perempuan Pesisir Bercerita Krisis Iklim dan Launching Buku, Senin (11/5/2026), di Meeting Room Fakultas Syariah UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Dekan Fakultas Syariah, Prof. Dr. Maghfur, M.Ag., yang juga menjabat sebagai Ketua Tim Riset MORA The Air Funds. Seminar menghadirkan para penulis buku Perempuan Pesisir dan Keadilan Iklim. Sebanyak 23 penulis menyampaikan tulisannya tentang perubahan iklim, krisis air bersih, perjuangan perempuan pesisir, hingga kajian green economy.

Dalam sambutannya, Prof. Maghfur menegaskan bahwa perempuan pesisir merupakan kelompok yang paling merasakan dampak krisis iklim, namun seringkali suaranya kurang mendapat perhatian dalam penyusunan kebijakan. Menurutnya, ruang akademik harus menjadi tempat lahirnya narasi dan solusi yang berpihak pada masyarakat rentan.

“Perempuan pesisir bukan hanya korban perubahan iklim, tetapi juga penjaga ketahanan keluarga dan lingkungan. Karena itu, pengalaman mereka penting untuk didengar dan dijadikan dasar dalam merumuskan kebijakan yang lebih adil dan berkelanjutan,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa perempuan menghadapi beban ganda akibat krisis iklim. Selain harus membantu menopang ekonomi keluarga ketika hasil laut menurun, perempuan juga tetap memikul tanggung jawab domestik di tengah kondisi lingkungan yang semakin tidak menentu.

“Krisis iklim membuat perempuan bekerja dua kali lebih berat. Mereka harus bertahan secara ekonomi, sekaligus menjaga keluarga dalam situasi yang serba sulit. Oleh karenanya perspektif gender dalam kebijakan lingkungan menjadi sangat penting,” tambah Prof. Maghfur.

Sementara itu, anggota tim riset, Dr. Siti Mumun Muniroh, menyoroti dampak psikologis yang dialami perempuan akibat bencana iklim seperti banjir dan rob yang terus berulang di kawasan pesisir. Dikatakan, kondisi tersebut memunculkan rasa cemas, stres, hingga kelelahan mental karena perempuan harus menghadapi ketidakpastian hidup dalam jangka panjang.

“Ketika banjir dan rob datang terus-menerus, perempuan bukan hanya kehilangan rasa aman, tetapi juga mengalami tekanan psikologis yang berat. Ibu-ibu rumah tangga misalnya, memikirkan keselamatan keluarga, kebutuhan ekonomi, kesehatan anak, hingga kondisi rumah yang rusak akibat bencana,” jelasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Dr. Hendri Hermawan Adinugraha, salah satu penulis buku hasil riset tersebut, menegaskan bahwa perempuan pesisir memiliki potensi besar sebagai penggerak green economy berbasis masyarakat. Menurutnya, perempuan selama ini telah menjalankan praktik ekonomi ramah lingkungan melalui pengelolaan hasil laut, usaha rumah tangga, hingga pemanfaatan limbah menjadi produk bernilai ekonomi.

“Perempuan pesisir sesungguhnya adalah aktor penting dalam pembangunan ekonomi hijau. Mereka tidak hanya menjaga keberlangsungan ekonomi keluarga, tetapi juga memiliki kesadaran ekologis dalam memanfaatkan sumber daya alam secara berkelanjutan,” ungkapnya.

Selain itu, penulis lainnya, Irawinne Rizky Wahyu Kusuma, turut menyoroti pentingnya kearifan lokal dalam menghadapi krisis iklim melalui tradisi Mabuug-buugan. Tradisi tersebut menurutnya tidak hanya menjadi warisan budaya masyarakat pesisir, tetapi juga mengandung nilai harmoni antara manusia dan alam yang relevan di tengah ancaman perubahan iklim saat ini.

“Peran perempuan pesisir dan pelaksanaan tradisi Mabuug-buugan menunjukkan bagaimana kearifan lokal dapat menjadi strategi efektif dalam adaptasi dan mitigasi krisis iklim. Pendekatan ini tidak hanya menjaga keberlanjutan ekosistem dan budaya, tetapi juga meningkatkan kapasitas komunitas pesisir untuk bertahan dan berkembang di tengah tekanan lingkungan yang terus berubah.” tuturnya.

Seminar berlangsung interaktif dengan menghadirkan diskusi mengenai ekologi, keadilan sosial, serta peran perempuan dalam menjaga keberlanjutan lingkungan pesisir. Peserta yang terdiri dari mahasiswa, dosen, pegiat lingkungan, dan masyarakat umum tampak antusias mengikuti jalannya kegiatan.

Melalui seminar ini, Fakultas Syariah berharap kesadaran terhadap krisis iklim semakin meningkat sekaligus memperkuat perspektif keadilan gender dalam isu lingkungan dan pembangunan berkelanjutan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini