Pekalongan – Pesisir Mulyorejo, Kabupaten Pekalongan, Minggu (24/5/2026), tidak hanya dipenuhi aroma laut dan lumpur mangrove. Di sudut kawasan Eduwisata Mangrove Banawa Sekar Mulyo Asri, wangi rebusan buah mangrove menyeruak pelan dari dapur sederhana. Uap panas mengepul dari panci besar. Gelas-gelas bening mulai disiapkan. Hari itu, mangrove tidak sekadar ditanam dan dijaga. Ia diracik menjadi sirup segar yang dipercaya mampu menjaga stamina tubuh.
Tim Riset The Mora Air Funds 2026 UIN Gus Dur bersama Kementerian Agama dan LPDP menggelar Program Inovasi dan Hilirisasi Mangrove. Program ini merupakan bagian dari riset besar bertajuk Dekolonialisasi Adaptasi dan Mitigasi Perubahan Iklim: Gerakan Perempuan Pesisir Menjaga Tradisi, Ekonomi dan Lingkungan yang Berkelanjutan.
Kegiatan tersebut mempertemukan riset akademik dengan praktik kehidupan masyarakat pesisir. Tidak hanya berbicara tentang ancaman perubahan iklim, tetapi juga tentang cara bertahan hidup melalui inovasi lokal yang sederhana namun bernilai besar.
Agenda yang paling menarik perhatian peserta adalah proses pembuatan sirup mangrove yang difasilitasi langsung oleh Mas Tayo. Dengan gaya santai dan penuh semangat, ia mengajak peserta mengenal lebih dekat potensi buah mangrove sebagai bahan minuman sehat dan bernilai ekonomi.
Di atas meja sederhana, buah mangrove yang telah dibersihkan tampak tersusun rapi. Warnanya hijau. Bentuknya unik. Mas Tayo lalu mulai menjelaskan tahap demi tahap pengolahan.
Buah mangrove dikupas, direbus untuk menghilangkan rasa getir alaminya. Setelah lunak, buah dihaluskan dan disaring hingga menghasilkan sari mangrove yang lembut. Cairan itu kemudian dimasak bersama gula dan bahan alami lainnya hingga menghasilkan aroma manis yang khas. “Kalau diolah dengan benar, mangrove punya rasa segar dan manfaat yang baik untuk tubuh,” ujar Mas Tayo di hadapan peserta.
Suasana mendadak hidup ketika peserta mulai mencoba langsung proses pengolahan. Sebagian mengaduk rebusan sirup. Sebagian lain sibuk menyaring sari buah mangrove. Tawa dan percakapan ringan mengalir di antara aroma manis yang memenuhi ruang edukasi.
Setelah matang, cairan sirup dituangkan ke dalam botol-botol bening. Warnanya merah kecokelatan. Saat dicampur air dingin dan es batu, minuman itu tampak menyegarkan. Peserta pun bergantian mencicipi. Rasanya manis dengan sentuhan asam alami yang ringan. Tidak sedikit peserta yang terkejut karena mangrove ternyata dapat diolah menjadi minuman yang nikmat dan segar.
Menurut Mas Tayo, pengolahan sirup mangrove memiliki potensi besar sebagai produk unggulan masyarakat pesisir. Selain mudah dibuat, bahan bakunya juga melimpah dan dekat dengan kehidupan warga pantai. “Kalau masyarakat bisa mengolah mangrove menjadi produk seperti ini, nilai ekonominya akan naik. Mangrove jadi bukan hanya pelindung pantai, tapi juga sumber penghidupan,” katanya.
Ketua Tim Riset The Mora Air Funds 2026, Prof. Dr. Maghfur Ahmad, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk nyata dari upaya membangun kesadaran ekologis sekaligus ekonomi masyarakat pesisir. “Mangrove tidak semata-mata pohon. Mangrove adalah peradaban, pengetahuan, ideologi, dan sumber kehidupan,” ujar Maghfur dalam sambutannya.
Pernyataan itu terasa relevan sepanjang kegiatan berlangsung. Mangrove tidak lagi dipandang sebagai tanaman liar di kawasan berlumpur. Ia hadir sebagai simbol ketahanan hidup masyarakat pesisir menghadapi krisis iklim.
Di samping membuat sirup segar, peserta juga mengikuti pembibitan dan penanaman mangrove, pembuatan dodol mangrove, hingga menyaksikan proses eco-print Batik Mangrove. Semua kegiatan dirancang untuk memperlihatkan bahwa konservasi dapat berjalan berdampingan dengan kreativitas ekonomi.
Narasumber Ketua Banawa Sekar, Mas Ridho, bersama fasilitator Mas Tayo dan Mas Hendri terus mendampingi peserta dengan santai dan sabar. Tidak ada jarak antara ilmu pengetahuan dan pengalaman warga. Mangrove hari itu tidak hanya tumbuh di tanah berlumpur. Ia mengalir dalam gelas-gelas sirup segar. Menjadi rasa. Menjadi energi. Menjadi harapan baru bagi masa depan masyarakat pesisir.





