Pekalongan – Di tengah meningkatnya ancaman krisis iklim, pencemaran, dan kerusakan lingkungan yang terjadi di berbagai wilayah, PAC ISNU Kecamatan Tirto Kabupaten Pekalongan menggelar Webinar Lingkungan bertajuk “Tarbiyah Lingkungan: Solusi Islam Hadapi Krisis Lingkungan?”. Kegiatan yang dilaksanakan secara daring ini berhasil menarik sekitar 300 peserta dari berbagai kalangan, mulai dari akademisi, mahasiswa, guru, aktivis lingkungan, hingga warga Nahdlatul Ulama yang memiliki kepedulian terhadap masa depan bumi.
Webinar ini menghadirkan narasumber Dosen UNIKA Semarang Amrizarois Ismail, M.Ling. yang menyampaikan materi mengenai fenomena krisis lingkungan dan antroposentrisme. Sementara itu, Prof. Dr. Abdul Khobir, M.Ag. memberikan penguatan tentang pentingnya membangun kesadaran ekologis sebagai bagian dari implementasi nilai-nilai keislaman dan semangat hijrah menuju peradaban yang lebih berkelanjutan.
Dalam pemaparannya, Amrizarois menjelaskan bahwa krisis lingkungan yang terjadi saat ini tidak semata-mata disebabkan oleh persoalan teknis, melainkan berakar pada krisis etika dan cara pandang manusia terhadap alam. Menurutnya, dominasi paradigma yang menempatkan manusia sebagai pusat segala kepentingan telah mendorong eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan sehingga memicu berbagai kerusakan ekologis.
“Krisis lingkungan pada hakikatnya adalah krisis kesadaran. Ketika manusia memandang alam hanya sebagai objek yang dapat dieksploitasi tanpa batas, maka kerusakan menjadi sesuatu yang tidak terhindarkan. Islam menawarkan paradigma yang berbeda, yaitu manusia sebagai khalifah yang bertugas menjaga dan memakmurkan bumi,” ujar Amri yang juga Ketua Griya Riset Indonesia tersebut.
Ia menambahkan bahwa pendidikan lingkungan berbasis nilai-nilai Islam perlu diperkuat melalui berbagai institusi sosial dan keagamaan. Menurutnya, masjid, pesantren, sekolah, dan keluarga memiliki peran strategis dalam menanamkan kesadaran ekologis sejak dini agar lahir generasi yang bertanggung jawab terhadap kelestarian alam.
Sementara itu, Prof. Dr. Abdul Khobir, M.Ag. menegaskan bahwa nilai-nilai Islam memiliki landasan kuat dalam membangun kepedulian terhadap lingkungan. Disampaikan bahwa konsep khalifah, amanah, dan mizan (keseimbangan) menjadi prinsip dasar yang harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Menjaga lingkungan bukan sekadar aktivitas sosial, tetapi juga bagian dari pengabdian kepada Allah SWT. Kerusakan alam yang terjadi saat ini mengingatkan kita bahwa manusia harus kembali kepada peran dasarnya sebagai penjaga keseimbangan bumi, bukan sebagai perusak,” jelas Prof Khobir yang juga Dewan Ahli PAC ISNU Tirto.
Menurut Guru Besar UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan tersebut, momentum Tahun Baru Hijriah juga dapat dimaknai sebagai ajakan berhijrah dari pola hidup yang konsumtif dan eksploitatif menuju gaya hidup yang lebih sederhana, bertanggung jawab, dan ramah lingkungan.
Ketua PAC ISNU Tirto, Khairul Anwar, dalam sambutannya menyampaikan bahwa webinar ini merupakan bagian dari ikhtiar ISNU untuk menghadirkan kajian-kajian keislaman yang responsif terhadap persoalan aktual masyarakat, termasuk isu lingkungan yang semakin mendesak.
“Krisis lingkungan saat ini bukan lagi isu masa depan, tetapi telah menjadi realitas yang dirasakan masyarakat dalam bentuk perubahan iklim, banjir, kekeringan, dan berbagai bencana ekologis lainnya. ISNU memandang penting untuk menghadirkan perspektif Islam yang mampu memberikan landasan etis dan spiritual dalam upaya menjaga kelestarian lingkungan,” ujarnya.
Khairul Anwar yang juga anggota GRI berharap kegiatan tersebut dapat menjadi sarana edukasi sekaligus membangun kesadaran kolektif bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab keagamaan.
“Melalui webinar ini, kami ingin menegaskan bahwa Islam memiliki ajaran yang sangat kaya terkait kepedulian terhadap alam. Semoga peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga terdorong untuk menjadi agen perubahan yang menghadirkan praktik-praktik ramah lingkungan di keluarga, lembaga pendidikan, maupun komunitas masing-masing,” pungkasnya.
Webinar yang dipandu Anna Zayyana berlangsung interaktif, ditutup dengan sesi tanya jawab dan diskusi peserta. Berbagai gagasan mengenai pendidikan lingkungan, peran komunitas keagamaan, hingga strategi membangun budaya ekologis berbasis nilai-nilai Islam mengemuka dalam forum yang berlangsung selama lebih dari dua jam tersebut. Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal bagi lahirnya gerakan lingkungan yang lebih masif di kalangan warga Nahdlatul Ulama dan masyarakat luas.
Kontributor: M. Fajrul Falah




