Beranda RESENSI BUKU/FILM Saat Lorong Tanpa Akhir Menjadi Mimpi Buruk yang Nyata

Saat Lorong Tanpa Akhir Menjadi Mimpi Buruk yang Nyata

0

Oleh:  T.H. Hari Sucahyo*) 

Tidak banyak film horor yang lahir dari fenomena internet mampu mempertahankan atmosfer menyeramkan ketika dipindahkan ke layar lebar. Namun Backrooms membuktikan bahwa sebuah konsep sederhana dapat berkembang menjadi pengalaman sinematik yang mencekam apabila berada di tangan kreator yang memahami sumber materialnya.

Film debut panjang Kane Parsons ini merupakan adaptasi dari serial pendek viral ciptaannya sendiri yang sejak 2022 berhasil menghidupkan mitos internet tentang ruang-ruang kosong tak berujung yang dikenal sebagai “Backrooms”.

Dengan dukungan A24, konsep yang semula hanya berupa lorong-lorong kuning dengan pencahayaan lampu neon kini menjelma menjadi film horor psikologis yang tidak hanya mengandalkan jumpscare, tetapi juga mengajak penonton merasakan ketakutan yang lahir dari kesunyian, kehilangan arah, dan rapuhnya kewarasan.

Cerita berpusat pada Clark, seorang pemilik toko furnitur yang kehidupannya tidak berjalan seperti yang diharapkan. Ia pernah bercita-cita menjadi arsitek, tetapi kenyataan membawanya pada rutinitas yang monoton dan penuh penyesalan. Suatu malam, ketika listrik di tokonya padam, Clark menemukan sebuah dinding yang tampak tidak wajar di ruang bawah tanah.

Rasa penasaran membawanya memasuki sebuah celah yang ternyata menjadi pintu menuju dimensi asing berupa labirin ruangan kuning tanpa akhir. Tempat tersebut seolah berada di luar ruang dan waktu, membuat siapa pun yang memasukinya kehilangan orientasi sekaligus perlahan kehilangan kewarasan.

Ketika Clark menghilang, terapisnya, Mary, memutuskan memasuki dimensi itu demi menemukan sang pasien. Premis tersebut terdengar sederhana, tetapi justru kesederhanaan itulah yang menjadi kekuatan utama film ini. Hal pertama yang langsung mencuri perhatian adalah desain visualnya.

Kane Parsons memahami bahwa ketakutan tidak selalu berasal dari monster yang tampak jelas. Lorong-lorong kosong dengan karpet lusuh berwarna kuning, suara dengung lampu neon yang tidak pernah berhenti, serta tata ruang yang berulang menciptakan rasa tidak nyaman yang terus meningkat. Penonton dibuat merasa seolah-olah ikut tersesat bersama para tokohnya.

Kamera bergerak perlahan, sering kali membiarkan ruangan kosong memenuhi layar selama beberapa detik tanpa dialog. Keputusan artistik seperti ini mungkin terasa lambat bagi sebagian penonton, tetapi justru menjadi fondasi utama atmosfer film. Kesunyian menjadi ancaman yang sama besarnya dengan makhluk misterius yang sesekali muncul di kejauhan.

Kane Parsons menunjukkan kedewasaan yang mengesankan sebagai sutradara. Mengingat usianya yang masih sangat muda ketika pertama kali menciptakan semesta Backrooms, pencapaiannya dalam mengembangkan cerita sepanjang lebih dari seratus menit patut diapresiasi. Ia tidak terjebak menjadikan film ini sekadar kompilasi adegan menyeramkan.

Sebaliknya, ia mencoba menyisipkan lapisan psikologis yang membuat Backrooms dapat ditafsirkan sebagai representasi trauma, penyesalan, bahkan ketakutan manusia terhadap ruang yang tidak dapat dipahami. Beberapa adegan memang terasa abstrak dan membuka ruang interpretasi yang luas, tetapi justru di situlah identitas film ini terbentuk.

Akting Chiwetel Ejiofor sebagai Clark menjadi salah satu kekuatan terbesar film. Ia mampu memerankan sosok pria yang perlahan kehilangan pegangan hidup tanpa harus berlebihan. Rasa lelah, frustrasi, dan ketakutan tampak melalui ekspresi wajah maupun bahasa tubuhnya.

Penonton dapat merasakan perubahan emosional Clark sejak masih berada di dunia nyata hingga akhirnya terjebak dalam dimensi yang menghancurkan logika. Renate Reinsve juga tampil meyakinkan sebagai Mary. Karakternya menjadi jangkar emosional yang menjaga cerita tetap memiliki sisi kemanusiaan di tengah atmosfer surealis yang mendominasi film.

Dari sisi sinematografi, Backrooms berhasil menciptakan ilusi ruang yang nyaris tidak memiliki batas. Banyak sudut pengambilan gambar memanfaatkan perspektif panjang sehingga lorong tampak semakin dalam dan mengintimidasi. Cahaya putih kekuningan yang monoton tidak pernah memberikan rasa nyaman.

Sebaliknya, pencahayaan tersebut justru memperkuat kesan bahwa para karakter benar-benar terjebak dalam dunia yang tidak memiliki jalan keluar. Efek visual digunakan secara efektif tanpa terasa berlebihan. Sebagian besar rasa takut muncul dari komposisi gambar, desain suara, dan ritme penyuntingan yang sabar.

Desain suara merupakan aspek yang mungkin paling mengganggu sekaligus paling mengesankan. Dengungan lampu neon yang terus-menerus terdengar perlahan berubah menjadi sumber tekanan psikologis. Ditambah langkah kaki yang bergema, napas para karakter, serta suara-suara asing dari balik lorong, penonton dibuat terus berada dalam kondisi waspada.

Musik tidak selalu hadir untuk membangun suasana. Justru ketika suara musik menghilang, ketegangan terasa semakin nyata. Pendekatan minimalis seperti ini membedakan Backrooms dari banyak film horor modern yang terlalu bergantung pada efek suara keras untuk mengejutkan penonton.

Walaupun demikian, film ini bukan tanpa kelemahan. Alur yang sengaja dibuat lambat dapat menguji kesabaran penonton yang mengharapkan horor konvensional. Banyak pertanyaan yang tidak dijawab secara eksplisit mengenai asal-usul Backrooms maupun makhluk yang menghuni tempat tersebut.

Bagi sebagian orang, akhir cerita mungkin terasa menggantung dan membingungkan. Akan tetapi, bagi penonton yang menikmati horor psikologis, ketidakjelasan tersebut justru menjadi bagian dari pengalaman menonton. Film ini tidak berusaha memberikan semua jawaban karena misteri merupakan inti dari dunianya.

Hal menarik lainnya adalah bagaimana Backrooms tetap menghormati akar internetnya. Alih-alih mengubah konsep menjadi film monster biasa, Kane Parsons mempertahankan esensi liminal space yang menjadi ciri khas Backrooms sejak awal kemunculannya sebagai creepypasta. Rasa takut muncul karena ruang yang tampak akrab tetapi terasa salah.

Lorong kantor kosong, dinding berwarna kuning kusam, serta pencahayaan yang tidak pernah berubah menciptakan perasaan asing yang sulit dijelaskan. Inilah jenis horor yang bekerja perlahan di dalam pikiran, bahkan setelah film selesai ditonton.

Secara keseluruhan, Backrooms merupakan salah satu adaptasi fenomena internet yang paling berhasil dalam beberapa tahun terakhir. Film ini tidak hanya menawarkan pengalaman visual yang unik, tetapi juga mengajak penonton merenungkan bagaimana manusia menghadapi kesendirian, trauma, dan rasa takut terhadap sesuatu yang tidak dapat dipahami.

Kane Parsons membuktikan bahwa kreativitas yang lahir dari internet mampu berkembang menjadi karya layar lebar dengan identitas artistik yang kuat. Walaupun ritmenya lambat dan narasinya tidak selalu mudah diikuti, pengalaman yang diberikan film ini terasa berbeda dibandingkan horor komersial pada umumnya.

Bagi pencinta horor atmosferik dan thriller psikologis, Backrooms adalah tontonan yang layak diapresiasi. Film ini mungkin tidak akan memuaskan penonton yang mencari banyak adegan kejar-kejaran atau jumpscare, tetapi mampu meninggalkan kesan mendalam melalui atmosfer yang menghantui dan visual yang terus terbayang setelah lampu bioskop menyala.

Dengan keberanian mengeksplorasi ketakutan yang bersifat eksistensial, Backrooms menunjukkan bahwa horor terbaik sering kali bukan berasal dari apa yang terlihat, melainkan dari apa yang tidak dapat dijelaskan.

Judul                           : Backrooms
Sutradara                    : Kane Parsons
Penulis Skenario         : Will Soodik
Pemeran Utama          : Chiwetel Ejiofor, Renate Reinsve, Mark Duplass, Finn Bennett, Lukita                                          Maxwell
Durasi                          : 111 menit
Tahun Rilis                  : 2026

*)pegiat di Cross-Diciplinary Discussion Group “Sapientiae” 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini