Pekalongan – Komunitas GUSDURian Pekalongan bersama Gus Dur Center for Humanitarian Studies menggelar nonton bareng dan diskusi film Bloody Nickel Episode 3: “Republik Rente” di Meetingroom Gedung FEBI Lantai 3 UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan pada Senin (7/9/2026).
Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian Harlah Gus Dur ini digelar untuk membedah dampak hilirisasi nikel terhadap kerusakan lingkungan, keselamatan pekerja, hingga persoalan kemanusiaan.
Koordinator GUSDURian Pekalongan, Amir Muzaki, menjelaskan bahwa momentum kegiatan pada 7 September ini disengaja untuk mengingat kembali jejak perjuangan kemanusiaan Gus Dur dan aktivis HAM, Munir. Melalui forum ini, nilai keberanian dan keberpihakan diharapkan terus hidup di tengah masyarakat.
Dalam diskusi tersebut, Guru Besar Ilmu Hukum UIN Gus Dur, Prof. Dr . Shinta Dewi Rismawati, M.H., yang tampil sebagai narasumber, menyoroti relasi hukum dan kekuasaan yang kerap berpihak pada pemilik modal. Menurutnya, aturan hukum modern sering kali dirancang secara legal, namun menyimpan niat yang menguntungkan kelompok tertentu.
“Kita selalu dininabobokan oleh mitos-mitos hukum, equality before the law, semua orang di mata hukum sama. Padahal realitasnya hukum tidak objektif, melainkan subjektif,” tegas Shinta.
Senada dengan hal tersebut, Murid Gus Dur, Saiful Huda Shodiq, menilai film ini berhasil membuka mata publik bahwa dalang di balik kerusakan alam hari ini bukan lagi didominasi pihak luar.
“Film ini menggambarkan bukan lagi orang asing yang jadi aktor utama developmentalisme dan oligarki kerusakan alam. Justru aktor utamanya yaitu dari dalam negeri,” ungkapnya.
Di sisi lain, Wakil Rektor I UIN Gusdur, Dr. Nur Kholis, M.A mengajak seluruh peserta agar menghayati dan mempraktikkan nilai-nilai Gus Dur dalam kehidupan. Ia menekankan pentingnya sikap tawadhu dan keteguhan prinsip.
“Ketika kita lepas dari ikatan, kita bebas sebebas-bebasnya. Tidak butuh validasi, kita berani pantang mundur,” tuturnya.
Suasana diskusi yang dihadiri puluhan perwakilan organisasi kemahasiswaan, komunitas pemuda, hingga komunitas literasi se Pekalongan ini makin hangat saat Budayawan Ribut Achwandi memberikan Refleksi harlah Gus Dur. Ia mengingatkan kembali ungkapan iconik Gus Dur, “Gitu aja kok repot.”
“Ungkapan itu bukan berarti bersikap masa bodoh. Maksudnya, masalah itu bukan cuma untuk dipikirkan, tapi untuk diselesaikan,” gurau Ribut di hadapan peserta.
Rangkaian Harlah Gus Dur di Pekalongan yang sebelumnya telah diisi dengan Jagongan Pemikiran dan Walking Tour Keberagaman ini rencananya akan berlanjut hingga puncak acara Konferensi Pemikiran Gus Dur pada Oktober mendatang.
Kontributor: Muhammad Maelal Marom
Editor: Khairul Anwar





