Beranda Opini Timnas Spanyol dan Relevansi Teori Emile Durkheim

Timnas Spanyol dan Relevansi Teori Emile Durkheim

0

Di panggung terbesar si kulit bundar, sejarah kembali ditulis dengan tinta merah-kuning. Timnas Spanyol akhirnya membungkam juara bertahan Argentina 1-0. Namun, kemenangan ini bukan sekadar tentang satu gol atau satu trofi. Ia adalah buah dari kesabaran, disiplin, dan keberanian sebuah generasi muda yang memilih bermain sebagai satu kesatuan, bukan sekadar mengandalkan kecemerlangan individu. Di saat dunia menyoroti duel Lamine Yamal melawan Lionel Messi, justru kolektivitas, ketenangan, dan kekuatan sistem permainan Spanyol yang menjadi penentu.

Sejak peluit pertama dibunyikan di MetLife Stadium, New Jersey, arah laga sebenarnya sudah terbaca. Tim Matador benar-benar mengendalikan final layaknya seorang dirigen yang memimpin orkestra, dengan penguasaan bola sekitar 64 persen, melepaskan 20 tembakan, sementara Argentina hanya mampu menghasilkan dua shoots sepanjang pertandingan dan nyaris tak memberikan ancaman berarti hingga menit-menit akhir. Bahkan, selama 90 menit waktu normal, Messi cs gagal mencatatkan satu pun tembakan tepat sasaran.

Pencapaian luar biasa timnas Spanyol di Piala Dunia 2026 mengingatkan saya pada generasi emas era Xavi-Iniesta, ketika mereka menguasai eropa dan dunia (2008-2012). Meskipun secara kebintangan pemain, dan estetika permainan, Spanyol era Xavi-Iniesta terlihat lebih unggul dibanding era sekarang.   

Tidak sedikit orang menilai permainan Spanyol di Piala Dunia kali, terutama saat menumbangkan Prancis di semifinal, ada kemiripan dengan era terdahulu. “Saya yakin Spanyol akan jadi juara, umpan-umpan pendek yang diperagakan pemain seperti Rodri, Olmo, dan Yamal, cukup memikat mata”, kata teman saya, usai laga semifinal beberapa waktu lalu. Dan betul, hari ini, Rodri dkk berhasil merebut trofi yang diidam-idamkan seluruh pemain di muka bumi.

Tak dapat dipungkiri, banyak orang terpukau oleh kemampuan La Furia Roja menguasai bola, membangun serangan, dan menciptakan peluang. Namun, di balik permainan yang indah itu, terdapat satu kekuatan yang sering luput dari perhatian: keseimbangan antara menyerang dan bertahan.

Ketika menguasai bola, tim racikan Luis De La Fuente bermain dengan penuh kreativitas. Umpan-umpan pendek mengalir cepat, para pemain bergerak dinamis membuka ruang, sementara lini depan terus mencari celah untuk mencetak gol. Namun, saat kehilangan bola, seluruh pemain segera berubah. Mereka menutup ruang, melakukan tekanan bersama, dan kembali ke posisi masing-masing. Tidak ada yang merasa tugas bertahan hanya milik bek. Semua ikut bertanggung jawab menjaga keseimbangan tim.

Filosofi itu sesungguhnya tidak hanya berlaku di lapangan hijau. Ia juga menjadi cermin kehidupan manusia.

Banyak orang hari ini sibuk “menyerang”. Ada yang berlomba mengejar karier, tak sedikit pula yang memperluas jaringan bisnis, membangun popularitas, dan bahkan mengumpulkan kekayaan meskipun dengan cara-cara yang terkadang melewati batas aturan. Ambisi untuk maju tentu bukan sesuatu yang keliru. Justru masyarakat membutuhkan orang-orang yang memiliki semangat berkarya dan terus berkembang.

Namun, kehidupan tidak hanya membutuhkan keberanian untuk melangkah, tetapi juga kebijaksanaan untuk menjaga. Banyak orang berhasil membangun usaha, tetapi kehilangan kesehatan. Entah karena jarang olahraga, pola makan yang nggak terkontrol, atau apa pun itu. Ada pula orang yang mencapai jabatan tinggi, tetapi mengorbankan waktu bersama keluarga. Tak sedikit yang dikenal luas di ruang publik, tetapi kehilangan kejujuran dan integritas. 

Dalam sepak bola, tim yang hanya menyerang akan mudah dihukum melalui serangan balik. Sebab melupakan barisan pertahanan. Dalam kehidupan, orang yang hanya mengejar pencapaian sering kali lupa merawat fondasi yang menopang keberhasilannya.

Keseimbangan Tim Spanyol tidak hanya lahir dari strategi pelatih, tetapi juga dari kesadaran setiap pemain akan kedudukannya. Seorang kiper fokus menjaga gawang agar tidak ditembus striker lawan. Bek bertugas mengamankan pertahanan sekaligus membangun serangan dari belakang. Gelandang mengatur ritme permainan dan menghubungkan semua lini. Penyerang menjadi ujung tombak, tetapi juga menjadi pemain pertama yang menekan lawan ketika kehilangan bola. Tidak ada yang merasa lebih penting daripada yang lain. Mereka memahami bahwa kemenangan lahir ketika setiap orang menjalankan amanahnya dengan baik.

Sang gelandang Rodri, misalnya, mungkin tidak selalu menjadi pencetak gol, tetapi ia menjaga keseimbangan permainan. Pau Cubarsí dan Aymeric Laporte menjadi fondasi ketenangan di lini pertahanan. Lamine Yamal, Alex Baena, dan Mikel Oyarzabal, di sisi lain, menghadirkan kreativitas di lini serang. Masing-masing memiliki karakter dan tugas yang berbeda, tetapi semuanya bergerak menuju tujuan yang sama, menghadirkan senyum buat para fans La Roja. Mereka tidak berebut sorotan kamera, melainkan saling melengkapi.

Pelajaran ini sangat relevan dengan kehidupan masyarakat. Sebuah keluarga tidak akan harmonis jika semua ingin menjadi pengambil keputusan, tetapi tidak ada yang bersedia menjadi mendengar. Sebuah sekolah tidak akan maju jika semua guru hanya ingin tampil di depan, sementara tidak ada yang tekun membimbing peserta didik. Sebuah organisasi tidak akan melesat jika seluruh anggotanya berlomba menjadi pemimpin, tetapi enggan menjadi pelaksana. Bahkan sebuah bangsa tidak akan kuat jika para pejabatnya sibuk memperkaya diri, namun mengabaikan kewajiban kepada rakyat.

Pembagian Peran Versi Sosiolog

Sosiolog Prancis Émile Durkheim (1893) menjelaskan bahwa masyarakat dapat bertahan karena adanya pembagian peran (division of labour). Masyarakat modern, menurutnya, justru menjadi kuat ketika setiap individu menjalankan fungsi yang berbeda tetapi saling melengkapi. Solidaritas tidak lahir karena semua orang melakukan pekerjaan yang sama, melainkan karena setiap orang menyadari bahwa dirinya membutuhkan orang lain. 

Apa yang diperlihatkan Tim Spanyol di lapangan menjadi gambaran nyata dari teori tersebut. Sebelas pemain dengan peran yang berbeda mampu menghadirkan satu permainan yang utuh. Sebab, setiap keindahan, kemenangan, dan kejayaan, dimulai dari sebuah tim yang solid, saling menjaga, kompak, dan tidak ada yang merasa paling pintar sendiri. 

Sejalan dengan Konsep Wasathiyah

Nilai tersebut juga sejalan dengan konsep wasathiyah atau jalan tengah dalam Islam. Allah Swt. menyebut umat Islam sebagai ummatan wasathan (QS. Al-Baqarah: 143), yaitu umat yang adil, proporsional, dan mampu menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. Jalan tengah bukan berarti bersikap setengah-setengah, melainkan menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban, antara ikhtiar dan tawakal, antara kepentingan pribadi dan kemaslahatan bersama. I

Moderasi beragama juga mengajarkan bahwa kehidupan tidak dibangun oleh satu kelompok atau satu profesi saja. Ulama membutuhkan guru, guru membutuhkan petani, petani membutuhkan pedagang, pedagang membutuhkan pekerja, dan semuanya membutuhkan pemimpin yang amanah. Setiap profesi memiliki kemuliaannya sendiri selama dijalankan dengan jujur dan bertanggung jawab. Perbedaan peran bukanlah sumber perpecahan, melainkan fondasi kerja sama untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik.

Di sinilah sepak bola memberikan pelajaran yang melampaui olahraga. Tim yang hebat bukanlah tim yang diisi sebelas penyerang, tetapi sebelas pemain yang memahami tugas, batas, dan tanggung jawabnya. Begitu pula masyarakat yang maju bukanlah masyarakat yang dipenuhi orang-orang hebat secara individual, melainkan masyarakat yang mampu mengubah kehebatan individu menjadi kekuatan kolektif.

Pencapaian hebat Spanyol, terutama di Euro 2024, dan Piala Dunia 2026, menunjukkan bahwa harmoni selalu lebih kuat daripada ego. Kolaborasi lebih kokoh daripada kompetisi yang tidak sehat. Dan keseimbangan antara keberanian untuk melangkah serta kesediaan menjalankan peran dengan penuh tanggung jawab adalah kunci meraih kemenangan, baik di lapangan hijau maupun dalam kehidupan bermasyarakat.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini