Oleh: Slamet Tohirin
Malam ini bertepatan dengan tanggal 16 april 2024 pukul 19.00 WIB. kami berkesampatan mengunjungi tempat dimana pemotongan lopis raksasa akan dilaksanakan di esok harinya yaitu tanggal 17 april 2024 oleh Walikota Pekalongan.
Mengenal Tradisi Syawalan dan Lopis Raksasa
Masyarakat Kota Pekalongan, khususnya di daerah Krapyak memiliki tradisi Syawalan yang unik, yaitu tradisi Lopisan atau Lopis Raksasa. Tradisi ini dilaksanakan pada tanggal 8 Syawal, atau sepekan setelah jatuhnya Hari Raya Idul Fitri.
Pada momen Lebaran 2024, tradisi Lopisan atau Lopis Raksasa akan kembali dilaksanakan untuk merayakan tradisi Syawalan, yaitu tepatnya pada tanggal 17 april 2024
Pada hari istimewa ini, ribuan orang akan berkumpul untuk bisa silaturahim dan saling berkunjung untuk menikmati segala hidangan yang disediakan warga krapyak Kota Pekalongan secara gratis.
Ciri khas pelaksanaan tradisi ini adalah kemunculan Lopis Raksasa yang pada tahun ini 2024 ukurannya mencapai tinggi 232 cm dengan diameter 250 cm dan berat mencapai 2018 Kg. Karena ukuran yang sangat besar, maka proses memasak lopis raksasa ini biasanya membutuhkan waktu 4-5 hari dengan menggunakan dandang berukuran besar. Setelah matang, untuk memindahkannya juga tidak mudah karena harus memakai katrol. Setelah acara doa bersama, Lopis Raksasa ini akan dipotong oleh Walikota Pekalongan dan dibagi-bagikan kepada warga.
Sejarah tradisi syawalan
Menurut sejarah, sosok yang pertama kali memelopori tradisi Syawalan ini adalah seorang ulama Krapyak yaitu KH Abdullah Sirodj yang masih keturunan Tumenggung Bahurekso (Senopati Mataram). Mulanya KH Abdullah Sirodj rutin melaksanakan puasa Syawal yang kemudian diikuti masyarakat sekitar Krapyak Pekalongan. Sehingga meski masih dalam suasana hari raya, warga tidak bersilaturahim demi menghormati yang masih melanjutkan ibadah puasa Syawal. Baru pada hari ke-8 Syawal, suasana Lebaran di wilayah ini mulai benar-benar terasa. KH Abdullah Sirodj kemudian memilih suguhan lopis sebagai simbol Syawalan di krapyak Pekalongan. Panganan ini terbuat dari beras ketan yang memiliki daya rekat yang kuat, sehingga menyimbolkan persatuan. Lebih lanjut, meski konon tradisi ini sudah ada sejak tahun 1885, namun perayaannya mulai dilakukan secara besar-besaran pada tahun 1950 dengan memotong lopis berukuran besar oleh kepala daerah setempat.
Makna lopis raksasa dalam syawalan
Ketan yang menjadi bahan dasar lopis memiliki makna persatuan yang dalam bahasa Jawa disebut dengan kraket berarti erat. Hal ini karena ketan yang sudah direbus memiliki daya rekat yang kuat dibanding nasi yang terbuat dari beras. Tak hanya itu, di dalamnya terkandung pesan yaitu sebagai sesama Muslim harus memiliki rasa saling peduli dan saling mengingatkan satu sama lain. Beras ketan yang putih bersih juga memiliki makna kesucian atau kembali fithri yang terkait dengan suasana Lebaran.
Selanjutnya, bungkus lopis dari daun pisang memiliki arti yaitu perlambang Islam dan kemakmuran, bahwa agama Islam selalu menumbuhkan kebaikan dan menjaga karunia Tuhan. Selain itu ikatan atau tali pembungkus lopis dari serat pelepah pisang, melambangkan kekuatan. Hal ini berhubungan dengan pesan bahwa sesuatu yang sudah dicapai (kembali fithri) harus dijaga agar tidak luntur ataupun berkurang, dan akan lebih baik jika semakin bertambah atau ditingkatkan. Pengikat ini juga memiliki makna bahwa sesama muslim harus selalu menjalin tali silaturahim.





