Beranda Opini Mengapa Kita Harus Meneladani Ki Hajar Dewantara?

Mengapa Kita Harus Meneladani Ki Hajar Dewantara?

0
foto: suara.com

Oleh: Khayatun Nufus*

Peran Pendidikan sangatlah penting bagi kehidupan. Saya yakin mayoritas sepakat akan hal itu. Pendidikan merupakan faktor utama dalam membentuk kepribadian seseorang. Dengan pendidikan kita akan mendapatkan pengetahuan yang tidak kita ketahui. Saya meyakini, setiap orang pasti membutuhkan pendidikan. Sejatinya sejak kecil kita diberi pendidikan oleh orang tua kita, bukan? seperti dididik untuk berbicara sopan, berperilaku adil, berfikir positif dan sebagainya.

Ruang lingkup pendidikan sangatlah luas dan bermacam-macam. Kita bisa mendapatkan pendidikan dari mana saja, misalnya di rumah, di sekolah dan di lingkungan masyarakat. Di rumah kita cenderung mendapatkan pendidikan karakter seperti saling menyayangi, saling mengasihi, dan lain-lain. Di sekolah kita mendapatkan banyak pengetahuan tentang kehidupan contohnya pelajaran tentang agama, ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, matematika, dan masih banyak lagi. Di masyarakat kita diajarkan bersosialisasi, berkomunikasi dengan baik, kerjasama dalam masyarakat dan sebagainya, karena hakikatnya manusia adalah makhluk sosial.

Berbicara pendidikan tentu tidak asing lagi dengan Ki Hajar Dewantara. Siapa yang tidak kenal tokoh satu ini? Dia adalah bapak pendidikan nasional. Lalu bagaimana perjalanan hidupnya sehingga dikenal dengan gelar tersebut. Mari kita simak perjalanan hidup Ki Hajar Dewantara.

Siapa Sebenarnya Ki Hajar Dewantara?

Nama asli Ki Hajar Dewantara adalah RM Soewardi Soerjaningrat lahir di Yogyakarta, 2 Mei 1889. Ayahnya bernama Soerjaningrat merupakan putra Sulung dari Sri Pakualam III. Pakualam adalah kerajaan yang merupakan salah satu dari empat istana di dalam wilayah Vorstendlanden (wilayah raja-raja) yang mencakup dua karesidenan: Yogyakarta dan Surakarta.

Hidup di keluarga berpendidikan dengan didikan sang ayah dan keluarganya tidak menjadikan Ki Hajar Dewantara berhenti sampai disitu saja. Beliau melanjutkan pendidikan di Europeesche Lagere School (ELS) sekolah rendah untuk anak-anak Eropa. Kemudian mendapatkan kesempatan masuk di School Tot Opleiding voor Inlandsche Artsen (STOVIA) atau yang sering di sebut sekolah dokter jawa, namun tidak sampai tamat sekolah karena kondisi kesehatannya yang kurang baik. Selain itu, beliau juga menempuh pendidikan di Kweek School (Sekolah Guru).

Ki Hajar Dewantara mempunyai kepribadian sederhana dan sangat dekat dengan rakyat. Melalui budaya lokal dan pendidikan jiwanya menyatu dan tergerak untuk mencapai kesetaraan sosial-politik dalam masyarakat kolonial. Beliau membangun kekuatan untuk memperjuangkan kesatuan dan persamaan lewat nasionalisme kultural sampai dengan nasionalisme politik.

Gagasan Ki Hajar Dewantara

Sebagai seorang jurnalis yang juga menjadi profesi bagi Ki Hajar Dewantara, beliau membangkitkan semangat anti kolonial dengan tulisanya yang tajam dan patriotik. Tulisan-tulisannya dimuat di beberapa surat kabar dan majalah, di antaranya : Sediotomo, de Express, Oetoesan Hindia, Midden Java, Tjahaja Timoer, Kaoem Moeda dan Poesara yang melontarkan kritik sosial-politik kaum Bumi Putera kepada penjajah yang terkenal pada waktu itu. Tulisannya komunikatif, Mengena dan Tegas.

Ki Hajar Dewantara mendirikan Indische Partij bersama Danudirdja Setyabudhi dan Cipto Mangoen Koesoemo. Indische Partij merupakan partai politik pertama yang beraliran nasionalisme di Indonesia pada 25 Desember 1912 dengan tujuan untuk kemerdekaan Indonesia. Akan tetapi usahanya gagal karena ditolak oleh Belanda pada saat itu karena dianggap dapat menumbuhkan rasa nasionalisme rakyat. 

Setelah dihukum oleh Belanda tanpa proses pengadilan dengan hukuman intening (hukum buang) di Pulau Bangka karena tulisannya yang berjudul “Seandainya aku seorang Belanda” beliau dengan teman-temanya kembali dan mendirikan perguruan nasional taman siswa (National Onderwijes Institut Taman Siswa) merupakan lembaga pendidikan yang memberi kesempatan bagi para pribumi kelas bawah untuk bisa memperoleh hak pendidikan.

Konsep Trilogi Ki Hajar Dewantara yang digunakan sebagai pijakan yaitu Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tutwuri Handayani. Pendidik yang di depan hendaknya memberi contoh, seorang yang di tengah juga harus mampu melibatkan diri membangkitkan atau menggugah semangat dan seseorang harus memberi dorongan moral dan semangat kerja dari belakang. Begitulah teladan yang diwariskan Ki Hajar Dewantara.

Sebagai orang yang lahir dan besar di bumi pertiwi, kita tentu harus meneladani Ki Hajar Dewantara, apalagi kalau kita sebagai pendidik, baik di sekolah formal maupun non formal, tentu berkewajiban memberikan contoh yang baik, entah itu sikap, ilmu, dan hal lainnya kepada murid-muridnya. Supaya murid-murid yang kita ajar bisa memperoleh,tidak hanya wawasan keilmuan, tetapi juga attitude atau adab yang baik. Aamiin.

*Penulis merupakan Mahasiswa FTIK UIN KH. Abdurrahman Wahid Pekalongan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini