Pekalongan – Budayawan sekaligus mantan ajudan Gus Dur Zastrow Al-Ngatawi menghadiri kegiatan Gelar Budaya dan Seminar Pemikiran Gus Dur dalam rangka Dies Natalis yang ke 27 tahun Universitas Islam Negeri (UIN) KH. Abdurrahman Wahid Pekalongan bertempat di gedung Student Center kampus 2 UIN KH. Abdurrahman Wahid Pekalongan, Minggu (05/05/2024).
Dalam kesempatan Seminar Pemikiran Gus Dur yang juga dihadiri putri bungsu Gus Dur Inayah Wahid ini, Zastrow menjelaskan tentang pemikiran Gus Dur soal humanisme. Menurutnya, untuk melihat suatu pemikiran dalam teori sosiologi pengetahuan tentang habitus seseorang.
“Habitus Gus Dur pertama adalah tradisi keilmuan pesantren, karena ini yang membentuk pribadi Gus Dur sejak beliau kecil hingga masa remajanya. Yang kedua adalah Gus Dur hidup dalam pemikiran-pemikiran Islam klasik yang ada di lingkungan pesantren. Habitus yang ketiga yang menyentuh Gus Dur adalah pemikiran modernisme barat, karena sejak kecil Gus Dur sudah membaca buku ‘Das Capital’, dan novel-novel yang sangat diilhami pemikiran timur tengah. Ini adalah pondasi dasar yang membentuk karakter pola pikir dan sistem pengetahuan yang ada pada diri seorang Gus Dur. Itu tadi pada fase pertama,” Jelas Zastrow.
Dan pada fase kedua, lanjut Zastrow, ketika Gus Dur berangkat ke Timur Tengah (Mesir), disitulah Gus Dur bertemu dengan pemikiran Hassan Albana, Ikhwanul Muslimin, pemikiran klasik sufistik, sampai sastra klasik Timur Tengah hingga tradisi budaya Eropa pada saat itu. Ini adalah fase eksplorasi.
“Nah, sehingga membentuk kerangka epistemologinya Gus Dur rasional-modern, yang dipertautkan dengan spiritual-tradisional. Jadi, modernitas adalah sarang rasionalitas, tradisionalisme sarang spiritualitas, oleh Gus Dur dibentuk hubungan yang sejajar dan komplementer,” Imbuh Zastrow.
Disampaikan, orang-orang modern mendudukkan modernisme dan tradisionalisme adalah kontradiktif. Sementara Gus Dur, mendamaikan keduanya.
“Makanya kalau kampanye orang-orang sekarang ‘kan orang modern itu (mengatakan) kalau Anda ingin maju, ingin hebat, ingin berkembang, jadilah orang modern, jangan jadi orang tradisional. Ini ‘kan kontradiktif. Sementara Gus Dur enggak, kalau Anda ingin maju, berkembang, tautkan rasionalitas-spiritualitas, tautkan modernitas dengan tradisionalitas secara seimbang, bentuk hubungan yang komplementer.”tutupnya.
Rektor UIN Gus Dur Prof. Zaenal Mustakim dalam sambutan pembukaannya menyampaikan, nama UIN ini tidak sembarangan, nama yang ini berkah, berkah untuk UIN Gus Dur, karena tanpa mengenalkan, berkoar-koar, semua orang sudah tahu siapa Gus Dur.
“Dengan betapa besarnya Gus Dur, bukan pada sosoknya tapi pemikirannya Gus Dur. Sehingga ini tidak akan selesai dikaji dalam ruang waktu yang terbatas, ini akan langgeng,”ucapnya.
Disampaikan, selagi zaman ini masih hidup, dunia ini masih ada, maka pemikiran Gus Dur ini akan selalu dikenang, dan akan selalu dikaji tidak akan selesai-selesai.
“oleh sebab itu termasuk hari ini, bapak-ibu sekalian, ini juga sekaligus embrio untuk menyusun paradigma keilmuan kita, yang akan saya kembangkan kaya apa, yang nanti akan disinggung sedikit oleh Kang Zastrow, insyaallah semester depan kita akan mulai memikirkan ini,”sambungnya.
Prof Zaenal menambahkan, bahwa pihaknya ingin UIN Gus Dur ini bukan sekedar namanya ditempelkan di UIN-nya, tapi ingin pemikiran-pemikiran Gus Dur ini betul-betul menginspirasi semuanya.
“Menjadi pijakan kita untuk beraktifitas menyelenggarakan pendidikan, pengajaran, penelitian, dan juga pengabdian masyarakat untuk kita semua,”pungkasnya.
Seminar Pemikiran Gus Dur ini dihadiri oleh pejabat tinggi civitas akademik kampus UIN Gus Dur, seperti Prof. Zaenal Mustakim beserta tiga wakil rektornya, dosen, mahasiswa, Jaringan Gusdurian Pekalongan, dan masyarakat lainnya.
Pengirim: Fajri Muarrikh
Editor: Kang Anwar





