Beranda Opini Pasca Wisuda, Lantas Mau Apa dan Bagaimana?

Pasca Wisuda, Lantas Mau Apa dan Bagaimana?

0
sumber foto: pexels.com

Wisuda merupakan momen paling sakral bagi seorang mahasiswa. Bagaimana tidak? Lha wong momen ini menjadi penanda seorang mahasiswa telah menuntaskan tugas belajarnya di sebuah Perguruan Tinggi (PT). 

Setiap mahasiswa mensyukuri pencapaian ini dengan caranya masing-masing. Ada yang mentraktir temannya di rumah makan. Ada yang mengadakan bakar-bakar. Ada pula yang melamar kekasihnya: habis ijazah langsung ijabsah, begitulah netizen menyebutnya. Dan lain sebagainya.

Berbagai selebrasi dipertunjukan oleh tiap-tiap mahasiswa. Momen bersejarah ini juga tak luput dari sorotan lensa. Tak sedikit yang menyewa tukang foto untuk mengabadikan momen yang bisa jadi hanya satu kali seumur hidupnya. Bisnis fotografi pun dalam sekejap meraup keuntungan berlipat ganda. Saudara dan orang tua diajak untuk foto bersama.

Jalan Hidup Mahasiswa Berbeda-beda

Tak sembarang orang bisa merasakan manisnya menjadi wisudawan di sebuah Perguruan Tinggi. Hanya ia yang tekun dan semangat tinggi yang bisa menuntaskan masa tugas belajarnya hingga selesai. Sebab, tidak sedikit mahasiswa yang memutuskan tuk mundur di tengah perjalanan karena beberapa alasan. Seperti menurunnya gairah semangat tuk menggarap skripsi, hingga faktor kondisi finansial yang tak lagi memadai.

Sebagian mahasiswa juga berhasil menyelesaikan masa studinya meski secara tertatih-tatih. Lulus 11,12,13,atau 14 semester bukan masalah. Yang penting selesai. Saya yakin banyak yang berprinsip seperti itu. Meski tertatih-tatih, dan sempat alami penurunan daya juang, pada akhirnya masa kuliah tetap bisa diselesaikan.

Itulah mengapa momen wisuda menjadi puncak kebahagiaan tiada terkira bagi mahasiswa yang sudah berjuang untuk merampungkan masa studinya. Wisuda jadi momen pembuktian bahwa mereka akhirnya bisa melenyapkan segala keraguan. Baik keraguan yang datangnya dari diri sendiri maupun dari orang lain.

Setiap periode wisuda, ada ratusan hingga ribuan mahasiswa yang memakai toga, yang lalu koncernya dipindah dari kiri ke kanan oleh pimpinan tertinggi sebuah PT. Dari jumlah itu, masing-masing mahasiswa melangkah dan berjalan tidak pada jalur yang sama. Ada mahasiswa yang kuliahnya dibiayai beasiswa, ada juga yang harus banting tulang lebih dulu untuk bisa bayar UKT, dan ada pula yang dikaruniai privilege: lahir dari keluarga kaya raya. 

Setiap jalan yang ditempuh oleh mahasiswa, secara umum, berbeda-beda. Ada yang lulus tepat waktu alias empat semester, bahkan kurang. Ada juga yang baru lulus setelah sempat melewati jalan yang curam, licin, dan terjal, yang nyaris membuatnya jatuh dan putus asa, namun pada endingnya bisa lulus juga.

Setiap yang diwisuda punya kenangannya masing-masing selama duduk di bangku perkuliahan. Baik kenangan positif, negatif, atau positif-negatif. Pengalaman-pengalaman itulah yang tidak dimiliki oleh mereka yang tidak mampu mengenyam dunia pendidikan tinggi. Maka, menjadi mahasiswa adalah anugrah tuhan yang harus kita nikmati dan syukuri. Sebab, tidak semua anak bisa menjadi seperti kita, terlebih kita bisa sampai wisuda.

Pertanyaannya kemudian, pasca wisuda ini akan melangkah kemana dan menjadi seperti apa? Inilah tantangan yang harus dihadapi banyak individu selepas lulus kuliah. Usai belajar teori di kelas, mereka kini harus mempraktekkannya di dalam kehidupan bermasyarakat dan dunia kerja.

Adik tingkat saya, beberapa diantaranya, pasca wisuda, menyodorkan pertanyaan kepada saya “info loker dong mas?”. Saya jawab untuk saat ini belum ada, tapi jika ada loker pasti akan saya share. Itu yang S1. Lain lagi yang S2. Pertanyaannya lebih spesifik. Beberapa menanyakan loker dosen. Saya jawab saat ini juga belum ada.

Mau Melangkah Kemana?

Mau melangkah kemana, dan menjadi seperti apa, itu sebuah pilihan. Sebab, hidup ini adalah pilihan. Termasuk pilihan mau masuk surga atau neraka. Karena hidup ini pilihan, maka pilihlah yang menurut kita, dan tentu menurut Gusti Allah, itu yang terbaik.

Pasca wisuda, setiap individu punya banyak alternatif untuk menentukan jalan hidupnya, meski kadang jalan yang dilalui tidak begitu mulus. Bagi yang punya privilege orang tua kaya raya, misalnya, mungkin ia bisa meneruskan jejak perjuangan orang tuanya. Bagi yang lahir dari keluarga biasa saja, mungkin ia perlu berjuang berdarah-darah terlebih dulu untuk dapat membahagiakan kedua orang tuanya.

Masing-masing personal memiliki semangat yang berbeda-beda untuk mewujudkan apa yang diinginkannya. Semangat juang itulah yang akan menentukan nasibnya, di samping juga ada faktor lain seperti relasi atau jaringan. 

Saya juga yakin masing-masing alumni mahasiswa punya potensinya masing-masing. Tinggal bagaimana memaksimalkan potensi itu. Mau jadi guru, pengusaha, advokat, karyawan perbankan, konsultan bisnis, dokter, atau apapun itu, insya allah semuanya dapat memberikan manfaat yang luas untuk diri sendiri maupun masyarakat jika dilakukan dengan energi yang positif.

Dunia modern, seperti sekarang, juga menuntut kita untuk lebih kreatif dan inovatif. Akan tetapi, skill dan keterampilan saja tidak cukup kalau kita juga minim attitude yang baik. Selain itu, dunia sekarang juga tidak menuntut orang bekerja linier sesuai dengan pendidikan atau keilmuannya. Kita tentu pernah mendengar cerita ada orang bergelar S.Pd namun tidak jadi guru, tapi jadi pengusaha. Atau orang bergelar S.H yang tidak berkarir di bidang hukum, melainkan lebih suka menjadi konten kreator, dan lain sebagainya. 

Kembali ke pertanyaan tadi. Mau melangkah kemana dan jadi apa? Semua tergantung pilihan dan selera hidup masing-masing. Saya ambil contoh ada lulusan LPDP PT di Hongkong. Alih-alih bekerja di perusahaan ternama, pria bernama Hardika Dwi Hermawan memutuskan pulang kampung untuk mengembangkan desanya. Ada juga lulusan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) UGM yang memilih jadi petani. Di sisi lain, tak sedikit alumni mahasiswa yang lalu memilih jalur pengabdian di masyarakat, misalnya menjadi ustadz atau guru ngaji di kampung.

Lagi-lagi, semua soal prinsip dan keyakinan hidup. Mau menjadi pribadi yang sukses atau tidak, semua tergantung dari usaha masing-masing. Jika ingin cemerlang tentu usaha yang perlu dikeluarkan harus dahsyat, seperti pertajam skill yang dimiliki, belajar tentang apa yang ingin dicapai, dan tentu saja, menjalin relasi yang baik dengan siapa saja. Karena rezeki terkadang datang dari pihak yang tak terduga-duga.

Jika pun ada kesempatan kerja di depan mata yang bisa kamu ambil, meski tidak linier dengan ijazah, ambil saja. Siapa tahu itu rezeki tuhan yang sudah ditakdirkan untuk mu. Pengalaman saya juga dulu seperti itu. Pasca wisuda S1 malah diterima kerja sebagai penulis di industri media Youtube (tentu melalui seleksi), alih-alih di Lembaga Perbankan seperti kebanyakan orang bergelar sarjana ekonomi.

*Penulis merupakan mantan mahasiswa yang pernah diwisuda

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini