Pekalongan – Korps PMII Putri (KOPRI) Komisariat Ki Ageng Ganjur (KAG) UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan kembali menunjukkan kepeduliannya terhadap isu perlindungan anak dan pendidikan remaja. Organisasi perempuan PMII ini mengadakan kegiatan KOPRI CARE Goes to School yang dilaksanakan di SMPN 2 Bojong pada Sabtu (2/5/2026).
Ketua KOPRI KAG, Sugmalia, menyampaikan, kegiatan ini menjadi salah satu bentuk nyata kontribusi mahasiswa dalam memberikan edukasi sosial kepada masyarakat, khususnya di lingkungan sekolah.
“Program KOPRI CARE sendiri merupakan singkatan dari Cakrawala Aksi Refleksi dan Edukasi, sebuah gerakan yang berfokus pada pengabdian, penyadaran, serta peningkatan kapasitas generasi muda melalui berbagai kegiatan edukatif,” ujarnya.
Disampaikan, KOPRI CARE Goes to School kali ini merupakan tindak lanjut kedua dari kegiatan SIG KOPRI KAG, di mana para alumni peserta SIG diberikan ruang praktik langsung di tengah para siswa.
“Dalam kegiatan tersebut, alumni SIG ditugaskan menjadi pemateri untuk menyampaikan materi edukasi kepada para siswa,”imbuhnya.
Sugma melanjutkan, melalui kegiatan KOPRI CARE Goes to School, pihaknya berharap para siswa mampu lebih waspada terhadap berbagai bentuk kekerasan dan manipulasi terhadap anak, berani menjaga diri, serta menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman bagi seluruh peserta didik.
“Bagi KOPRI sendiri, kegiatan ini tidak hanya berfokus pada pengabdian, tetapi juga sebagai sarana kaderisasi. Para alumni SIG diberi kesempatan untuk mengamalkan ilmu, melatih keberanian berbicara di depan umum, membangun kepekaan sosial, serta belajar terjun langsung menghadapi persoalan nyata di tengah tantangan zaman.” pungkasnya.
Tema yang diangkat dalam kegiatan ini adalah “Kenali dan Cegah Child Grooming”. Tema tersebut dipilih karena child grooming menjadi salah satu ancaman serius bagi anak dan remaja di era digital saat ini. Child grooming merupakan upaya pendekatan, manipulasi, hingga eksploitasi yang dilakukan pelaku terhadap anak dengan tujuan tertentu, baik melalui media sosial, pergaulan langsung, maupun ruang digital lainnya.
Maraknya penggunaan gawai dan media sosial di kalangan remaja menjadikan edukasi semacam ini sangat penting. Anak usia SMP dinilai perlu dibekali pemahaman sejak dini agar mampu mengenali modus-modus pelaku, menjaga batasan diri, serta berani melapor apabila menemukan tindakan mencurigakan.
Dalam pelaksanaannya, kegiatan ini melibatkan alumni SIG bersama sejumlah perwakilan rayon yang mendampingi proses penyampaian materi di setiap kelas. Edukasi diberikan kepada siswa kelas 7A sampai 7G serta kelas 8A sampai 8F. Para pemateri dibagi ke beberapa ruangan agar penyampaian materi dapat berjalan lebih efektif dan interaktif.
Metode penyampaian materi dilakukan dengan pendekatan komunikatif dan sesuai usia peserta didik. Selain pemaparan materi, para siswa juga diajak berdiskusi, mengenali contoh kasus, serta memahami langkah-langkah pencegahan apabila menghadapi situasi yang mengarah pada child grooming. Antusiasme siswa terlihat dari aktifnya peserta dalam bertanya dan merespons materi yang disampaikan.
Pihak sekolah menyambut baik kegiatan tersebut karena dinilai memberikan manfaat besar bagi siswa. Kehadiran mahasiswa sebagai mitra edukasi menjadi nilai positif dalam memperluas wawasan peserta didik mengenai isu-isu sosial yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Pengirim: Larasati
Editor: Anwar





