Lamongan – Kearifan lokal tidak harus berhenti sebagai warisan budaya yang dikenang dari generasi ke generasi. Di tangan generasi muda, nilai-nilai lokal justru dapat diolah menjadi sumber inovasi yang relevan dengan kebutuhan pendidikan masa kini. Semangat inilah yang tampak dalam gelaran PGMI Showcase & Exhibition 2026 yang diselenggarakan Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Fakultas Agama Islam Universitas Islam Lamongan (UNISLA), Rabu (24/6/2026).
Bertempat di halaman Gedung D UNISLA, kegiatan tersebut menjadi ajang bagi mahasiswa untuk mempresentasikan hasil pembelajaran selama Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026. Melibatkan mahasiswa semester 2, 4, 6, dan 8, pameran ini menampilkan beragam karya inovatif yang mengintegrasikan ilmu pengetahuan, teknologi, pendidikan, kewirausahaan, dan potensi lokal Lamongan.
Acara dibuka dengan senam pagi bersama dan dilanjutkan dengan kunjungan pameran yang dihadiri Rektor, Wakil Rektor III, serta Dekan Fakultas Agama Islam. Kehadiran pimpinan universitas menjadi bentuk dukungan terhadap model pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga menghasilkan karya nyata yang memiliki nilai edukatif dan sosial.
Berbagai inovasi yang dipamerkan menunjukkan bagaimana mahasiswa PGMI mampu menerjemahkan konsep-konsep pembelajaran menjadi produk yang aplikatif. Mahasiswa semester 2, misalnya, menghadirkan 12 prototipe pembelajaran IPA, mulai dari alat pendeteksi ketinggian air sungai, roket hidrolik, alat penjernihan air, smart moss tower, hingga miniatur kursi terbang listrik. Selain itu, mereka juga mengembangkan buku pembelajaran Al-Qur’an Hadis dan Tajwid yang dirancang interaktif untuk siswa Madrasah Ibtidaiyah.
Pada semester 4, mahasiswa menampilkan berbagai media pembelajaran matematika dan literasi Bahasa Indonesia yang dikembangkan dari bahan daur ulang. Sebanyak 31 media pembelajaran dipamerkan sebagai bentuk kreativitas mahasiswa dalam menghadirkan pembelajaran yang menarik, murah, dan ramah lingkungan.
Namun daya tarik utama pameran ini terletak pada kuatnya sentuhan kearifan lokal yang mewarnai berbagai karya mahasiswa. Melalui mata kuliah Kewirausahaan, mahasiswa semester 6 mengolah potensi pangan khas daerah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi. Beragam bahan lokal seperti ubi, tape, buah murbei, pisang, bunga telang, ikan bader, dan tahu disulap menjadi produk kekinian yang menarik bagi pasar modern.
Klepon ubi isi cokelat, mochi murbei, minuman bunga telang, serta berbagai olahan pangan lainnya menjadi bukti bahwa kekayaan lokal dapat menjadi sumber kreativitas sekaligus peluang ekonomi. Pendekatan ini menunjukkan bahwa pendidikan tidak hanya berbicara tentang transfer pengetahuan, tetapi juga tentang kemampuan membaca dan mengembangkan potensi lingkungan sekitar.
Penguatan kearifan lokal semakin terlihat pada karya mahasiswa semester 8 yang menampilkan hasil penelitian dan pengembangan (research and development/R&D). Berbagai produk berupa alat peraga, komik pembelajaran, dan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) etnomatematika dikembangkan dengan mengangkat ikon budaya Lamongan, seperti makanan tradisional Jumbrek, Masjid Agung Lamongan, dan Masjid Sendang Duwur.
Melalui pendekatan tersebut, budaya lokal tidak hanya dikenalkan sebagai materi tambahan, tetapi dijadikan bagian integral dari proses pembelajaran. Peserta didik diajak memahami konsep-konsep akademik melalui konteks yang dekat dengan kehidupan mereka sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna dan kontekstual.
Ketua Pelaksana kegiatan, Dr. Kiky Chandra SA., M.Pd., mengatakan bahwa pameran ini menjadi sarana bagi mahasiswa untuk mengomunikasikan hasil pembelajaran sekaligus mengasah kemampuan profesional mereka sebagai calon pendidik.
“Melalui pameran ini mahasiswa belajar menyampaikan ide, menerima apresiasi maupun masukan dari publik, serta menunjukkan bahwa hasil pembelajaran dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Program Studi PGMI UNISLA, Musa’adatul Fithriyah, M.Pd.I., menegaskan bahwa integrasi kearifan lokal merupakan salah satu karakteristik pembelajaran yang terus dikembangkan di lingkungan PGMI UNISLA.
“Kami mendorong mahasiswa untuk tidak tercerabut dari akar budaya daerahnya. Potensi lokal yang ada di Lamongan dapat menjadi sumber belajar yang kaya, sekaligus media untuk menanamkan identitas, karakter, dan kecintaan terhadap budaya bangsa kepada peserta didik,” katanya.
Menurutnya, pembelajaran berbasis kearifan lokal juga menjadi strategi penting dalam menghadapi tantangan globalisasi yang semakin kuat. Dengan memahami dan mengembangkan budaya daerah, mahasiswa tidak hanya menghasilkan inovasi pendidikan yang kontekstual, tetapi juga turut berkontribusi dalam menjaga keberlanjutan warisan budaya lokal.
Melalui PGMI Showcase & Exhibition 2026, mahasiswa PGMI UNISLA menunjukkan bahwa inovasi pendidikan tidak selalu harus lahir dari teknologi canggih. Potensi budaya, tradisi, dan sumber daya lokal yang ada di sekitar masyarakat dapat menjadi fondasi kuat untuk melahirkan pembelajaran yang kreatif, relevan, dan berdampak. Pameran ini sekaligus menjadi bukti bahwa kearifan lokal tetap memiliki tempat strategis dalam membangun pendidikan Indonesia yang berkarakter dan berdaya saing di era modern.
Pengirim: Winarto
Editor: Anwar


