Beranda Opini Keputusan Krusial dalam Hidup Saya

Keputusan Krusial dalam Hidup Saya

0
Penulis sewaktu berada di Kuala Lumpur, Maret 2023.

 “Ambillah keputusan dengan penuh pertimbangan. Jangan mengambil keputusan karena keputusasaan.”

Kalimat tersebut saya temukan di Internet. Nggak tahu kenapa relate dengan saya.

Begini ceritanya.

Saat ini saya adalah Dosen Tetap di salah satu kampus swasta di Kabupaten Pekalongan, yakni STAI Ki Ageng Pekalongan. Lima tahun lalu, tepatnya di tahun 2020, saya sama sekali belum kepikiran untuk menjadi dosen. Kala itu saya masih lulusan S1. Cita-cita saya ketika itu masih belum berubah: menjadi orang sukses, berguna, dan bermanfaat, apapun jalan karirnya. 

Keinginan untuk menjadi dosen baru muncul ketika saya memutuskan untuk lanjut studi S2 di IAIN Pekalongan (sekarang sudah UIN Gus Dur), tepatnya pada bulan Juli 2021. Dengan rasa mantap, saya mengambil jurusan Ekonomi Syariah, jurusan yang linier dengan saat saya S1. Kuliah S2 setiap hari Sabtu dan Ahad. Di hari Sabtunya, saya masih harus membagi waktu dengan pekerjaan. Jadi, bisa dikatakan pada setiap hari Sabtu kala itu, saya benar-benar sibuk: kerja dan kuliah, ditambah malam harinya kadang ada kegiatan organisasi. 

Saya sangat menikmati proses kuliah selama S2. Salah satu hal yang bikin saya semangat adalah hobi saya (menulis) tersalurkan dengan baik saat S2, karena kebanyakan tugas yang diberikan oleh dosen adalah menulis artikel jurnal. Selain itu, selama kuliah S2, motivasi saya dalam menulis (baik menulis artikel populer, berita, atau artikel ilmiah) meningkat secara drastis. 

Hingga pada suatu ketika, saya akhirnya dinyatakan lulus, setelah menempuh studi S2 dalam kurun waktu 1 tahun 7 bulan. Tanggal 6 Mei 2023 saya diwisuda, dan berhak mendapatkan gelar Magister Ekonomi (M.E). Gelar yang saya sandang ini tentu saja membuat saya harus lebih giat dalam belajar. Karena menyandang gelar magister, itu artinya ada beban moral tersendiri.

Tak butuh waktu lama bagi saya, tiga bulan pasca wisuda S2, saya mendapat panggilan untuk mengabdi di STAI Ki Ageng Pekalongan sebagai Dosen Luar Biasa. Tanpa berpikir panjang, saya langsung menerima tawaran tersebut. Kebetulan jam mengajar hanya di hari Rabu Malam, dan Jumat Siang. Sehingga saya tak perlu resign dari pekerjaan tetap saya. Jam kerja saya masih bisa saya kondisikan. Alhasil, disamping bekerja di sebuah perusahaan media, saya juga ada kewajiban mengajar. 

Saya belajar banyak hal ketika pertama kali menjadi dosen di semester ganjil 2023-2024. Dari bagaimana cara membuat RPS, bikin Materi Kuliah, hingga cara pembelajaran saat di kelas. Selama satu tahun lamanya, saya mengabdi sebagai Dosen Luar Biasa alias Dosen Tidak Tetap. Hingga akhirnya saya diangkat sebagai Dosen Tetap pada bulan Mei 2024. Seketika itu juga, berselang dua minggu pasca tanda tangan sebagai dosen tetap, saya menemui bos tempat saya bekerja. Intinya saya mengajukan resign. 

Sebuah pilihan yang tentu saja sulit, karena bagaimanapun saya masih cukup betah untuk bekerja disana. Dan ini merupakan salah satu keputusan krusial dalam hidup saya. Tapi saya percaya, Allah lah yang akan menata karir hambanya jika hambanya memiliki keinginan dan motivasi yang kuat untuk mencapainya.

Butuh satu bulan untuk saya agar benar-benar resign dari tempat kerja. Pada 14 Juli 2024 itu adalah hari terakhir saya bekerja di sebuah perusahaan media di Kota Pekalongan. Untuk selanjutnya, keseharian saya, mulai disibukkan di kampus STAI Ki Ageng Pekalongan.

Seiring berjalannya waktu, saya mulai mengenal dunia akademik kampus, dengan dinamikanya yang ada. Hingga pada suatu hari, yang tak terduga-duga, tidak angin dan hujan, pada awal bulan November 2024, saya mendapatkan surat dari pimpinan kampus. Surat itu berisi penunjukan sebagai Ketua LP2M. Makjleb. Saya kaget, dan tak habis pikir. Bagaimana mungkin orang baru seperti saya langsung diberi amanah untuk menjadi ketua LP2M. Namun, saya tetap khusnuzon: mungkin ini jalan karir terbaik yang Allah siapkan untuk saya. Dan saya meyakini, mungkin ini cara Allah untuk mengangkat derajat saya.

Dan benar, selama menjadi ketua LP2M, saya merasakan apa yang dulu dosen saya juga merasakannya: mengurusi kampus, rapat-rapat, administrasi, kepanitiaan, dan lain sebagainya. Tentu, saya anggap semua ini adalah proses pembelajaran dan pendewasaan. Sebagai dosen baru, saya memang perlu banyak belajar, berinteraksi, dan berkomunikasi dengan siapa pun. 

Lima tahun lalu saya bukan siapa-siapa, saya hanya tukang nulis di sebuah perusahaan media. Empat tahun lalu, saya juga masih bukan siapa-siapa, masih tukang nulis di sebuah perusahaan media plus mahasiswa S2 yang kelak ingin jadi dosen. Dan qodarullah, Allah mengabulkan keinginan saya. Kini saya dosen dan ketika jadi dosen, sama sekali tak pernah membayangkan bakal menjadi pejabat kampus dalam waktu secepat ini. Dan saya juga masih merasa bukan siapa-siapa, masih sama seperti empat-lima tahun yang lalu. Bedanya, saat ini saya dosen, profesi yang setidaknya lebih “terhormat” di mata masyarakat. Wkwk. Jadi, ketika ditanya pekerjaan sama tetangga, saya bisa langsung menjawab dengan mantab.

Di usia yang masih 28 tahun, dipercaya menjadi pejabat kampus adalah sebuah tantangan bagi saya pribadi. Ketika orang lain percaya bahwa saya mampu, maka saya pun harus memotivasi diri saya sendiri, bahwa saya bisa. 

Pesan bagi teman-teman yang ingin jadi dosen, silakan jangan berhenti untuk belajar, upgrade skill, rajin menulis, rajin komunikasi dan lain sebagainya, insyallah bekal itu akan sangat bermanfaat kedepannya. Karena perjalanan untuk menjadi dosen, juga harus diiringi dengan peningkatan kualitas diri. 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini