Oleh: Khayatun Nufus*
Agama merupakan sebuah keyakinan dalam diri seseorang. Dengan agama hidup seseorang akan terarah. Sejatinya setiap agama pasti mengajarkan kebaikan. Saya yakin setiap orang membutuhkan agama, meskipun ada sebagian orang yang tidak percaya adanya tuhan atau anti agama.
Sejarah mencatat, Indonesia disepakati tidak memisahkan agama dari warganya dalam kehidupan sehari-hari dan juga bukan negara agama. Hal ini dikarenakan keberagaman bangsa Indonesia mulai dari kelompok budaya, bahasa, etnis dan agama agar tidak terpecah belah.
Perjuangan para pahlawan untuk kemerdekaan Indonesia tidaklah mudah, namun mempertahankan kesatuan Negara Republik Indonesia juga bukanlah hal yang mudah. Justru setelah merdeka seringkali terjadi konflik di Indonesia akibat berbeda pemahaman. Untuk menanggulangi terjadinya konflik dan menjaga keutuhan Indonesia, moderasi beragama sangatlah penting untuk ditanamkan. Lalu apa hakikat moderasi beragama? dan Bagaimana cara moderasi beragama?
Hakikat Moderasi Beragama
Makna moderasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diartikan dalam dua hal yaitu; pengurangan kekerasan dan penghindaran keekstriman. Asal kata moderat berasal dari bahasa latin “moderatio” yang berarti ke-sedang-an, tidak kurang tidak lebih. Sikap moderat berarti sikap tengah, tidak berlebih-lebihan dan tidak kurang.
Sedangkan agama dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sistem yang mengatur tata keimanan atau kepercayaan dan peribadatan kepada tuhan yang maha kuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya. Manusia diajarkan untuk tidak bersikap ekstrim atau berlebih-lebihan apalagi dalam hal agama.
Konsep moderat dalam agama Islam disebut wasathiyah, dalam tradisi budha disebut majjhima patipada, dalam tradisi Hindu disebut madyhamika, dalam tradisi Kristen di sebut golden mean, dan dalam tradisi Konghucu disebut zong yong.
Bahkan semua agama mengajarkan arti sikap tengah, tidak ekstrem dan juga tidak kurang. Meskipun begitu, bukan berarti tidak teguh dalam beragama justru kita diajarkan untuk toleransi, semangat dalam beragama, teguh pendirian, mampu memilah mana pokok ajaran agama, menghormati pendirian dan tidak menyalahkan orang lain kecuali berkompromi dalam urusan pokok agama dalam hal meyakini dan mempraktekannya tidak diperbolehkan.
Bagaimana Cara Moderasi Beragama?
Setelah mengetahui hakikat moderasi beragama. Apa yang harus dilakukan agar bisa bersikap moderat dalam beragama? Ada banyak hal yang dapat kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari hal terkecil seperti tidak mengganggu penganut agama lain ketika beribadah.
Di daerah saya terdapat dua agama yang berbeda yaitu agama Islam dan Kristen tepatnya di Desa Kaligawe, Kecamatan Karangdadap, Kabupaten Pekalongan. Meskipun berbeda agama mereka tetap hidup rukun, suatu ketika saya melihat orang-orang penganut agama Kristen tersebut sedang melakukan ibadah di gereja pada hari rayanya, di sana terdapat orang-orang Islam yang tergabung dalam Barisan Ansor Serbaguna (Banser) yang ikut menjaga ketertiban lalu lintas di daerah tersebut.
Begitupun sebaliknya ketika orang-orang Islam sedang beribadah pada hari rayanya orang kristen pun ikut menjaga ketertiban. Betapa tentramnya hidup ini jika kita hidup rukun, akan tercipta kebahagiaan dan kesejahteraan di dalam masyarakat. Contoh lain; ketika seorang dokter yang hendak beribadah mendadak ada pasien yang harus diselamatkan maka dokter tersebut harus mendahulukan pasien, ibadahnya bisa dilakukan setelah menolong pasien.
Seorang muslim yang hendak berwudhu dengan seadanya air kemudian ada seekor anjing yang kehausan maka orang itu harus memberikan air tersebut kepada anjing. Moderasi beragama juga mengajarkan kita menjaga hubungan dengan tuhan, hubungan dengan manusia dan hubungan dengan alam sekitar. Dengan begitu kita juga menjaga keutuhan NKRI, rumah kita, tempat kelahiran kita dan tempat menyambung hidup.
*Penulis merupakan mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UIN KH. Abdurrahman Wahid Pekalongan





