oleh: Moh. Yusuf, M.Pd. (Penyuluh Agama Islam Non PNS Kota Pekalongan)
Salah satu tradisi yang hingga saat ini masih dilestarikan oleh masyarakat Kota Pekalongan sebagai warga pesisir, yakni upacara tradisi lopis raksasa. Tradisi tersebut diselenggarakan setiap lebaran idul fitri tepatnya pada tanggal 8 Syawal, sebagai ajang silaturahmi. Mulanya, tradisi ini berawal dari silaturahmi yang biasa dilakukan masyarakat setempat, yakni masyarakat Krapyak, Pekalongan saat lebaran dengan mengunjungi kerabat dan tetangga serta membawa bingkisan atau salah satu yang disajikan dalam rumah tersebut berupa lopis, kue khas yang terbuat dari olahan beras ketan.
Kemudian, berkembangnya zaman, diadakanlah perayaan untuk memperingati hari ke-8 Syawal atau biasa disebut dengan syawalan setelah berpuasa sunah 6 hari pada tanggal 2 sampai 7 Syawal. Lopis mengalami komodifikasi, mula-mula berukuran kecil kemudian menjadi berukuran besar dengan tinggi mencapai 2 Meter dan berat sekitar 2000 kg sehingga penganan yang muncul satu tahun sekali ini disebut dengan lopis raksasa. Selanjutnya, lopis raksasa itulah yang memiliki daya tarik pengunjung di luar Krapyak, bahkan luar Kota Pekalongan untuk menghadiri upacara tradisi tersebut.
Saat ini upacara tradisi lopis raksasa sudah merupakan acara tahunan yang diselenggarakan oleh penduduk Krapyak Kidul, Kota Pekalongan, Jawa Tengah. Bahkan, beberapa tokoh dan pejabat dalam negeri juga turut hadir dalam peringatan ini. Akan tetapi, tidak banyak orang mengetahui mengapa lopis memiliki daya pikat yang tinggi selain karena merupakan penganan khas Pekalongan. Tradisi yang sudah berjalan lama ini tentu memiliki nilai-nilai luhur dan filosofis, baik lopis sebagai objek maupun dari sisi pelaksanaan tradisi dalam rangka menjalin silaturahmi.
Lopis raksasa merupakan produk budaya pesisir berwujud makanan dari olahan beras ketan yang berukuran raksasa dan hanya dibuat setahun sekali ketika lebaran idulfitri di Kota Pekalongan bagian utara atau di wilayah Kelurahan Krapyak, Kecamatan Pekalongan Utara. Tinggi lopis raksasa bisa mencapai 222 cm dengan berat sekitar 2.300 kg. Pada tahun 2022, lopis raksasa ini mendapat rekor dari Museum Rekor Dunia Indonesia sebagai lopis terbesar. Budaya yang telah mengakar akan menjadi sebuah tradisi lantaran tetap dilanggengkan dan dilakukan secara turun-temurun dari generasi ke generasi.
Tradisi syawalan yang dihelat pada 8 Syawal di Kota Pekalongan dimulai dari sejarah ulama setempat yang bernama KH. Abdullah Sirodj. Sekitar tahun 1880, masyarakat Krapyak banyak yang melakukan puasa sunnah bulan Syawal pada tanggal 2 sampai tanggal 7 Syawal. Puasa sunnah ini sangat dianjurkan sehingga hampir seluruh masyarakat Krapyak berpuasa. Masyarakat yang ingin bersilaturahmi di Krapyak pada tanggal 2 sampai 7 Syawal enggan lantaran tuan rumah sedang berpuasa sehingga secara konvensi masyarakat dari luar Krapyak bersilaturahmi pada tangal 8 Syawal sebagai wujud penghormatan kepada tuan rumah.
Lopis merupakan pengangan yang tidak mudah basi. Lopis yang dimasak minimal 8 jam, dapat bertahan sekitar 3 hari. Lopis merupakan pengangan khas yang disajikan kepada tamu pada saat lebaran idulfitri. Oleh karena itu, makanan ini diminati para tamu luar kota maupun dalam kota yang bersilaturahmi di wilayah Krapyak, Pekalongan, sebagai oleh-oleh. Tradisi lopis ini makin terkenal sampai ke berbagai daerah. Mula-mula lopis berukuran kecil disediakan secara cuma-cuma di lokasi tertentu untuk para tamu yang tidak memiliki teman atau kerabat di Krapyak, tetapi ingin berkunjung ke Krapyak. Makin ke sini, lopis mengalami komodifikasi berupa ukurannya makin besar dan menjadi tradisi tahunan. Awalnya, lopis raksasa bersumber dari dana swadaya masyarakat setempat, melalui sumbangan beras ketan dan bahan-bahan lain. Setiap rumah memberi bantuan satu gelas beras ketan. Akan tetapi, pada saat ini pemuda setempat telah menggaet pemerintah kota dan mendapat bantuan dana dari pemerintah kota.
Para pemuda Krapyak, khususnya di Gang 8 atau dikenal juga dengan Gang Sumbawan bergotong royong membuat lopis raksasa. Pembuatan lopis ini sekitar empat hari tiga malam, disesuaikan dengan ukuran lopis. Makin besar ukurannya, makin lama pula proses pembuatannya. Pemuda setempat membentuk kepanitiaan dan mendapat tugas masing-masing. Lopis raksasa merupakan momen yang ditunggu-tunggu pemuda setempat lantaran adanya lopis ini mampu merekatkan kembali para pemuda. Mula-mula beras ketan dicuci bersih sebanyak dua kali, beras ketan yang sudah dicuci direndam di dalam air sekitar 10 hingga 15 menit, dan ditiriskan hingga kadar air berkurang. Beras ketan yang sudah ditiriskan dimasak setengah matang, kemudian beras ketan ditumbuk sampai kalis, adonan yang sudah kalis dimasukkan dalam daun pisang yang sudah ditata dengan penyangga bambu, setelah itu lopis yang setengah matang ini dimasukkan dandang dengan menggunakan katrol. Lopis dimasak dengan tungku tradisional, mengingat ukuran yang raksasa tidak memungkinkan menggunakan kompor. Pembuatan tungku juga unik, yaitu dengan melubangi tanah untuk memasukkan kayu bakar. Lopis dimasak sekitar satu hari satu malam kemudian diangkat dan dibalik agar lopis matang sempurna. Pembalikkan lopis ini dilakukan secara bergotong royong menggunakan katrol. Lopis dimasak lagi sampai benar-benar matang.
Upacara tradisi lopis raksasa menjadi destinasi wisata budaya masyarakat Pekalongan dan sekitarnya. Banyak pengunjung yang memercayai jika lopis raksasa membawa berkah bagi konsumennya. Kepercayaan ini termasuk dalam tabarukan atau kepercayaan orang-orang mengenai berkah Tuhan yang mewujud melalui perantara benda. Dalam hal ini benda yang dimaksud adalah lopis raksasa. ‘Berkah’ atau ‘barokah’ yang dimaksud merupakan konvensi untuk mewakili keluarbiasaan lopis. Proses pembuatan lopis tidak hanya sekadar membuat lopis mengikuti alur proses pembuatan, tetapi ada tahaptahap tertentu, seperti didoakan.
- Sisi religiusitas dalam upacara Tradisi Lopis Raksasa di Kota Pekalongan
- Pembuat Lopis Raksasa Dianjurkan untuk Bersuci
Setiap pembuat lopis raksasa yang didominasi oleh pemuda Gang 8, Krapyak atau pemuda Gang Sumbawan dianjurkan untuk bersuci terlebih dahulu. Bersuci yang dimaksud adalah dengan berwudu. Wudu merupakan upaya penyucian diri, biasanya dilakukan sebelum melakukan ibadah dengan membasuh muka, tangan, kepala, dan kaki. Salah satu manfaat dalam keadaan suci adalah sebagai upaya menjaga diri dari perilaku atau perbuatan yang tidak-tidak.
Wudu memiliki banyak manfaat, seperti (1) wudu dapat menenangkan jiwa dan membuat pikiran lebih bisa berkonsentrasi. Efek sejuk yang didapat pada saat mengusap kepala mampu membuat pikiran menjadi tenang. Para ahli neurologis atau ahli syaraf telah membuktikan bahwa wudu mampu memantapkan konsentrasi melalui sensasi sejuk yang didapat ketika membasuh tubuh. (2) Wudu mampu meredakan emosi, sesuai dengan hadis riwayat Abu Daud yang memiliki makna “Sesungguhnya marah itu dari setan dan sesungguhnya setan diciptakan dari api. Dan sesungguhnya api itu dipadamkan dengan air. Maka jika seseorang dari kalian sedang marah, maka berwudulah.” (HR. Abu Daud). Pembuatan lopis raksasa ini dilakukan oleh banyak orang secara gotong royong sehingga para pembuat lopis diupayakan menjaga kondisi agar tidak terpacu emosi. Salah satu upaya untuk tetap merilekskan pikiran agar tidak menegang adalah dengan berwudu terlebih dahulu. (3) Wudu yang dilakukan secara khusyuk dapat menumbuhkan persepsi dan energi positif. Orang-orang yang berpikiran positif dan memancarakan energi positif akan tersalurkan pada lingkungan sekitarnya, dalam hal ini adalah lopis raksasa yang sedang dibuat. Manusia adalah makhluk penyerap. Makanan yang dibuat dengan pikiran positif akan terserap pula pada makanannya dan tersalurkan kepada konsumen makanan tersebut. (4) Wudu mampu menjadi upaya menjaga kebersihan, bagian-bagian tubuh yang dibasuh saat berwudu merupakan bagian yang terbuka dan dikhawatirkan terdapat kuman atau bakteri tertentu. Dengan berwudu, kuman dan bakteri tersebut terminimalisir.
2. Diawali dengan Membaca Basmalah
Para pembuat lopis mula-mula membaca basmalah terlebih dahulu. membaca basmalah memiliki banyak keutamaan seperti mendatangkan berkah. “Proses pembuatan lopis diawali dengan membaca basmalah. Sengaja dianjurkan membaca basmalah karena ada keutamaannya. Apalagi kalau mendhawamkan (membiasakan) membaca basmalah bisa membawa berkah.”.
Keutamaan lain membaca basmalah, yaitu membaca basmalah dapat memudahkan hal-hal yang sulit, mendatangkan rezeki, dan melindungi dari gangguangangguan. Maksud dari membaca basmalah ini adalah suatu tahap melibatkan Allah SWT. sebagai wujud bahwa manusia yang dalam hal ini adalah seorang hamba tidak mampu berbuat apa-apa kecuali rida dan ketetapan-Nya.
3. Diakhiri dengan Membaca Hamdalah
Kebiasaan membaca hamdalah dibudayakan oleh masyarakat Krapyak yang didominasi oleh kaum muslim usai mengerjakan apa pun. Para pembuat lopis raksasa membaca hamdalah atau pujian kepada Allah usai proses pembuatan.
Membaca hamdalah termasuk dalam budaya religius yang hendaknya terus dilestarikan karena merupakan wujud syukur dari makhluk kepada Allah Swt. Membaca hamdalah memiliki keutamaan atau manfaat lain, seperti diampuni kesalahannya, ditambah rezekinya sesuai dengan firman Allah dalam Q.S. Ibrahim ayat 7 yang artinya “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu mengumumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”
4. Membaca Sholawat
Pembacaan selawat secara bersama-sama dilakukan oleh para pembuat lopis. Kebiasaan membaca selawat ini mengandung banyak keutamaan, seperti agar selamat atau tidak terjadi hal yang tidak-tidak selama proses pembuatan.
Sholawat merupakan zikir Ilahi yang mampu mendekatkan manusia kepada Tuhannya. Selama proses pembuatan lopis raksasa, para pembuatnya bisa saja diliputi rasa bosan sehingga selawat mampu menjadi media hiburan dan pengalih obrolan yang kurang bermanfaat seperti bergosip.
b. Nilai Spiritual Yang Melekat Pada Lopis Raksasa
- Lopis Raksasa Terbuat dari Beras Ketan
Beras ketan memiliki tekstur yang lengket setelah dimasak. Tekstur lengket ini dikaitkan dengan simbol persatuan dan kerukunan. Lopis menyimbolkan hubungan antarsesama yang saling terikat dan kuat. Gang 8, Krapyak, Pekalongan atau dikenal dengan Gang Sumbawan merupakan gang atau tempat yang dulunya digunakan sebagai tempat persinggahan orang Sumbawa Oleh karena itu, di gang ini terdapat banyak pendatang dari berbagai daerah, suku, ras, atau agama lain. Persatuan dan toleran dibutuhkan untuk menjaga kerukunan di wilayah ini. Lopis raksasa yang terbuat dari beras ketan merupakan pengejawantahan dari simbol kerukunan antar umat.
2. Lopis Raksasa Dibungkus Daun Pisang
Daun pisang yang digunakan untuk membungkus lopis merupakan daun pilihan, yaitu daun pisang batu yang masih segar, tetapi bukan daun pisang yang masih muda. Daun pisang atau dalam bahasa Jawanya godhong gedhang. Gedhang merupakan singkatan dari digeged ben padhang, salah satu falsafah Jawa yang mengandung makna barangsiapa yang bersungguh-sungguh akan beroleh terang. Pemilihan daun ini memiliki makna yang mendalam, yaitu untuk mengingatkan kepada manusia agar bersungguh-sungguh dalam melakukan sesuatu hal.
3. Lopis Raksasa Ditali secara Horizontal dan Vertikal
Lopis raksasa diikat menggunakan tali tambang melingkar secara horizontal yang mengarah ke atas atau vertikal. Tali seperti ini melambangkan habluminallah dan habluminannas atau melambangkan hubungan manusia dengan sesama makhluk dan hubungan manusia dengan Allah SWT. Hubungan manusia dengan Allah SWT. juga harus diimbangi hubungan manusia dengan sesama.
4. Nilai spiritaulitas lopis raksasa saat dipotong dan dibagikan
Setelah lopis ditempatkan di lokasi yang digunakan untuk upacara tradisi lopis raksasa, yaitu di depan TPQ Miftahul ‘Ulum. Lopis raksasa ini didoakan yang dipimpin oleh tokoh pemuka agama setempat yang diamini oleh pengunjung dan tamu undangan.
Doa yang dibaca sebelum lopis dipotong adalah doa meminta keselamatan kepada Allah SWT agar selama acara diberi kelancaran, selamat, dan aman sampai selesai. Sebelum dipotong dan dibagikan kepada pengunjung, dibacakan bismillah dan sholawat nabi baru lopisnya dipotong.
Doa merupakan salah satu wujud keberserahan diri seorang hamba kepada Tuhannya. Lopis yang telah dipotong dibagi-bagikan kepada masyarakat secara cuma-cuma. Pembagian lopis ini merupakan wujud keikhlasan yang dilakukan oleh para pembuat lopis, mereka membuat lopis selama kurang lebih empat hari secara sukarela. Akan tetapi, lopis yang dibuat diperuntukkan kepada orang lain.
Dalam lopis raksasa, terdapat doa-doa baik dari para pembuat dengan harapan doa-doa baik tersebut tersalurkan kepada masyarakat atau pengunjung. Salah satu yang membuat lopis raksasa ini istimewa adalah adanya nilai-nilai spiritual yang terkandung di dalamnya. Selain itu, lopis raksasa merupakan budaya yang mewakili religiusitas masyarakat pemilik budaya tersebut. Tidak heran jika pengunjung lopis raksasa berasal dari berbagai daerah, bahkan ada yang datang sehari sebelum upacara pemotongan.





