Pekalongan – Mahasiswa dari Program Studi Manajemen Dakwah Universitas Islam Negeri (UIN) K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan sukses menggelar pelatihan Public Speaking di SMK Ma’arif NU Kajen, Kamis (24/20/2024), yang diinisiasi dan didukung penuh oleh dosen pembimbing mereka, Ahmad Hidayatullah, M.Sos. Mahasiswa tersebut, yakni Lana Salsabila, Nahla Amalia, Vina Hihayatul, dan Zulfa Dina, hadir sebagai pemateri dalam pelatihan yang bertujuan untuk memberikan keterampilan dasar berbicara di depan umum sekaligus menumbuhkan rasa percaya diri bagi para siswa.
Kegiatan ini berlangsung di aula SMK Ma’arif NU Kajen, dengan dihadiri oleh 30 siswa yang merupakan aktivis OSIS, Pramuka, dan Jurnalistik. Dimulai pukul 08.30 WIB, pelakaksaan pelatihan ini disambut cukup baik oleh pihak sekolah yang dalam hal ini diwakilkan oleh Waka Kurikulum SMK Ma’arif NU Kajen, Ibu Meidha. Beliau menerima dan mengapreasiasi pentingnya pelatihan seperti ini untuk mengasah kemampuan berbicara para siswa, terutama mereka yang aktif di organisasi sekolah. “Kami sangat berterima kasih kepada mahasiswa dan dosen dari UIN K.H. Abdurrahman Wahid yang telah berinisiatif menyelenggarakan pelatihan ini. Semoga siswa-siswa kami dapat mengambil ilmu yang bermanfaat dan terus mengasah kemampuan berbicara mereka,” ujarnya.
Pelatihan ini tidak hanya memberikan teori-teori dasar tentang public speaking, tetapi juga berfokus pada seni berbicara dengan etika. Para pemateri menekankan bahwa berbicara di depan umum bukan hanya tentang keberanian, tetapi juga tentang bagaimana menyampaikan pesan dengan baik dan penuh makna. Dalam hal ini, para mahasiswa mengacu pada teori Retorika Aristoteles, yang menyatakan bahwa seni berbicara harus memiliki struktur yang jelas dan mampu menarik perhatian audiens. Zulfa, salah satu pemateri, menjelaskan, “Public speaking adalah seni berbicara yang tidak hanya mengandalkan keberanian, tapi juga kemampuan untuk menyampaikan pesan yang tepat dengan cara yang efektif.”
Nahla Amalia dan Vina, pemateri lainnya, menambahkan bahwa public speaking tidak hanya tentang berbicara di depan banyak orang, tetapi juga tentang bagaimana berbicara dengan etika dan menghargai audiens. Berdasarkan data, hanya 10% orang yang mampu berbicara dengan seni dan etika, sementara 20% lainnya berbicara tanpa memperhatikan etika. Oleh karena itu, pelatihan ini bertujuan untuk membekali siswa dengan keterampilan berbicara yang lebih baik, tidak hanya dari segi teknis, tetapi juga dari segi etika dan kesantunan dalam berbicara. “Banyak orang bisa berbicara, tetapi tidak semua mampu berbicara dengan cara yang tepat dan menghargai audiensnya. Kami ingin para siswa tidak hanya percaya diri, tapi juga tahu bagaimana berbicara dengan baik,” ungkap Nana.
Pelatihan ini terdiri dari tiga sesi utama, yaitu: konsep dasar public speaking, tips dan trik berbicara di depan umum, serta simulasi berbicara di depan audiens. Pada sesi pertama, Zulfa memberikan penjelasan tentang konsep public speaking, mulai dari teknik olah vocal hingga cara membuka pidato dengan baik, membangun isi pidato yang kuat, hingga menutup pidato dengan kesan mendalam. Nahla, juga berbagi tips tentang bagaimana menyusun pidato dalam waktu singkat dan tetap terlihat percaya diri di atas panggung. “Kunci utama dalam public speaking adalah bagaimana kita bisa menarik perhatian audiens sejak awal dan mempertahankan fokus mereka hingga akhir,” jelasnya.
Pada sesi berikutnya, Nana memberikan tips praktis tentang cara mengelola rasa gugup saat berbicara di depan umum. Salah satu teknik yang diajarkan adalah dengan melatih pernapasan dan berpikir positif sebelum tampil. Nana menekankan bahwa gugup adalah hal yang normal, tetapi harus dikelola dengan baik agar tidak mengganggu penampilan. “Kalian tidak perlu takut salah atau merasa malu saat berbicara. Gugup itu wajar, tapi yang penting adalah bagaimana kalian bisa tetap tenang dan fokus pada apa yang ingin disampaikan,” jelas Nana kepada para siswa.
Setelah memberikan teori dan tips, Salsa selaku pemateri sekaligus mengajak siswa untuk berlatih langsung berbicara di depan kelas. Beberapa siswa yang terpilih secara acak diuji untuk praktik public speaking dengan memperkenalkan diri dan menyampaikan beberapa pengalaman terbaik di sekolah dan harapannya ke depan. Salah satu siswa yang berhasil tampil dengan percaya diri adalah Dina. Dina mengaku awalnya merasa gugup, tetapi setelah mengikuti tips yang diberikan oleh para pemateri, dia merasa lebih percaya diri. “Awalnya saya takut, tapi setelah mencoba dan mendengarkan masukan dari pemateri, saya jadi lebih yakin untuk berbicara di depan banyak orang,” ungkap Dina.
Pada akhir sesi, para siswa diajak untuk bertanya dan berdiskusi lebih lanjut mengenai public speaking. Banyak dari mereka yang bertanya tentang bagaimana cara mengatasi rasa gugup, menyesuaikan gaya bicara dengan audiens yang berbeda, serta cara mengatur waktu saat berbicara di depan umum. Lana Salsabila, yang akrab disapa Salsa, memberikan tips bagaimana menyesuaikan gaya berbicara dengan situasi dan audiens yang dihadapi. “Public speaking itu harus fleksibel. Kalian harus bisa menyesuaikan gaya bicara kalian dengan siapa yang ada di depan kalian. Ada kalanya kita harus formal, ada kalanya kita bisa lebih santai. Yang penting adalah pesan kita sampai dengan baik,” jelas Salsa.
Dengan penekanan pada seni berbicara dan etika dalam public speaking, pelatihan ini tidak hanya membekali siswa dengan keterampilan teknis, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya diri dan kemampuan berbicara yang beretika. Semoga pelatihan ini memberikan dampak positif jangka panjang bagi siswa-siswa SMK Ma’arif NU Kajen dan menjadi inspirasi bagi mereka untuk terus mengasah keterampilan berbicara mereka di masa depan.
Pengirim: Lana Salsabila
Editor: K. Anwar





