Menjalani hidup yang berbeda agaknya menjadi masalah dewasa ini. Orang cenderung ingin menyamakan diri—dan kehidupannya—dengan orang lain. Tentu, orang yang dimaksud adalah sosok yang dipandang lebih kaya secara materi. Tetapi, benarkah yang ingin disamakan adalah diri dan kehidupannya? Kalau memang itu yang dikehendaki, lalu apa itu diri dan kehidupan?

Studi psikologi begitu beraneka dalam mendefinisikan konsep diri. Tetapi, saya tidak ingin membahasnya di sini. Anda bisa membaca lebih banyak buku tentang konsep diri yang ditulis para pakar.

Saya hanya teringat pada sebuah novel filsafat yang dikarang seorang guru SMA di Norwegia, Jostein Garder. Yaitu, Sophie’s World (Dunia Shopie). Dalam versi terjemahan bahasa Indonesia, novel ini diberi pengantar oleh Bambang Sugiharto—dosen filsafat Universitas Katolik Parahyangan. Menurutnya, Dunia Shopie merupakan novel filsafat yang mampu mengantarkan pembaca kepada khazanah filsafat melalui petualangan hidup yang naik-turun, berkelok, kadang mulus, kadang pula dipenuhi kerikil tajam.

Novel ini mengajak pembacanya merenung sekaligus memikirkan struktur kenyataan yang diurai dalam pandangan-pandangan filosofis. Mulai dari segala bentuk fenomena yang ada di sekitar kita sampai melihat alam semesta dan relasi-relasi yang terbentuk dalam struktur kesemestaan. Semuanya ditampilkan di novel itu.

Tak hanya itu, novel ini juga menghadirkan pandangan-pandangan para filsuf. Sehingga, ada kesan bahwa membaca novel Dunia Sophie, kita diajak ngobrol bersama para filsuf kenamaan. Dari filsuf klasik Yunani sampai era kontemporer.

Gambaran mengenai novel itu mungkin saja tak begitu membuat Anda penasaran. Tetapi, bagaimana jika saya menghadirkan secuplik peristiwa dalam novel itu? Siapa tahu Anda akan mulai terpantik, lalu ingin membacanya sampai tuntas.

Peristiwa kecil dalam novel itu berupa perjumpaan Shopie Amunsend—tokoh utama novel tersebut—dengan sebuah surat tanpa identitas pengirimnya. Isinya, hanya sebuah pertanyaan singkat: Siapakah kamu? Akan tetapi, pertanyaan itu membuatnya berpikir tentang siapa sesungguhnya ia. Selama ini, yang ia tahu hanya namanya, Shopie Amunsend. Tetapi, apakah itu dirinya? Ia merasa belum cukup mengetahuinya.

Alih-alih memikirkan jawaban untuk dua kata itu, dalam benak Shopie justru muncul pertanyaan-pertanyaan lain yang saling bersusulan. Siapakah Shopie itu? Bagaimana jika namanya bukan lagi Shopie? Apakah itu juga akan membuat dirinya sebagai orang lain?

Pertanyaan-pertanyaan itu melintas di benaknya. Tetapi, tak satu pun mampu ia jawab. Lantas, ia mulai melihat bayangannya yang terpantul pada cermin. Sayang, ia merasa tak puas dengan penampilannya. Sampai-sampai, muncul pula pertanyaan tentang apa yang menentukan penampilan seseorang.

Kelumit peristiwa itu muncul pada bagian awal novel. Seolah-olah ingin mengatakan kepada pembaca, bahwa untuk mengenali diri sendiri bukanlah perkara mudah. Apalagi untuk sampai pada pemahaman tentang siapa dan apa itu manusia.

Di era kini, ketika rezim media sosial berkuasa atas kehendak banyak orang, upaya untuk menemukan diri rasa-rasanya makin sulit dilakukan. Terlebih-lebih, media sosial begitu dipadati konten yang memampang beragam aktivitas tanpa filter. Konten-konten itu seolah-olah menampilkan realitas yang nyata, padahal tidak demikian.

Selain itu, pikiran kita dicongok algoritma tanpa memberi kesempatan untuk berpikir ulang tentang apa yang sebenarnya dibutuhkan. Alhasil, peluang kita untuk memikirkan dan merenungkan tentang diri dan kehidupan yang kita jalani boleh dibilang terampas dan tumpas. Media sosial seolah-olah menjadi makhluk yang paling mengerti diri kita walau tanpa diminta. Wajah media sosial seakan-akan menjadi pahlawan bagi setiap orang yang “kesepian”. Orang-orang merasa “damai” dan “nyaman” berkubang di alam maya. Senyatanya, kita sesungguhnya kehilangan potensi untuk dapat membuat simpulan.

Akan tetapi, sadar atau tidak, di balik “kedamaian” dan “kenyamanan” yang ditawarkan media sosial ada sebuah ancaman serius bagi kehidupan manusia. Yaitu, penyeragaman cara pandang melalui gaya hidup yang ditampilkan di media sosial. Memang, fenomena ini sebenarnya sudah mulai terjadi sejak televisi menampilkan gemerlap dunia hiburan. Fungsi televisi yang mula-mula menjadi sarana penyebarluasan informasi berubah drastis. Gosip yang memperlihatkan gaya hidup gelamor dan kehidupan pribadi para selebritas merenggut potensi pikiran para pemirsanya. Sampai-sampai, begitu rupa gaya hidup itu memengaruhi pikiran dan cara hidup pemirsanya.

Kini, di era media sosial, siapa saja punya peluang untuk tampil sebagai selebritas baru. Istilah trend setter atau influencer bahkan menjadi bagian tak terpisah dari fenomena kubangan media sosial. Walhasil, kehidupan masyarakat seolah-olah dintuntut untuk meniru mereka walau mesti terseok-seok.

Sebuah renungan yang ditulis Gregg Braden dalam buku The Divine Matrix patut untuk kita pikirkan. Ia menulis, peradaban kita kini tentu lebih fokus pada dunia di sekitar kita dan hanya sedikit memperhatikan dunia di dalam diri kita. Parahnya lagi, dalam peradaban yang demikian, Gregg menilai, bahwa peradaban kita saat ini telah membuat kita makin tak berdaya untuk menolong diri sendiri atau menciptakan dunia lebih baik.

Kita semakin jauh dari koneksi alami dengan alam semesta, dengan tubuh dan jiwa kita, dengan sesama manusia, tentu juga dengan Tuhan. Bahkan, yang kini terjadi, kita saat ini lebih banyak menguras energi untuk berupaya menghindarkan diri dari penyakit daripada membiasakan hidup sehat, menghindari konflik daripada menciptakan perdamaian, dan habis tenaga pula diri kita untuk membuat berbagai macam “senjata” untuk melakukan penyerangan kepada siapa saja yang tidak sejalan sepemikiran daripada membangun keselarasan hidup. Kita saat ini lebih banyak mengerahkan segala daya itu sekadar untuk bertahan hidup, bukan untuk menikmati dan memaknai kehidupan.

Betapa, hari-hari kita dipenuhi dengan kesibukan yang tak jelas. Sebab, kita kehilangan orientasi. Bahkan, kita telah kehilangan diri kita sendiri. Kita juga takut untuk menjadi yang berbeda. Lalu, bagaimana semestinya?

Mari, kita tanyakan pada diri sendiri, untuk apa kita hidup?

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini