Oleh: Prof. Dr. Maghfur Ahmad, M.Ag (Guru Besar UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan, Jawa Tengah)
Disclaimer: Tulisan ini pernah terbit sebagai pengantar Buku berjudul “Manusia dan Kesadaran Ekologis”.
Selamat membaca.
Membaca buku ini saya gembira dan sekaligus sedih. Gembira telah lahir aktivis dan piawai menulis dalam isu-isu lingkungan. Sedih, ternyata oh ternyata, krisis lingkungan semakin akut. Bencana dan kerusakan ekologis bukan berkurang tetapi semakin meningkat intensitas, volume, dan cakupannya. Apalagi, jika organisasi keagamaan seperti NU, Muhammadiyyah, dan lainnya diberi otoritas mengelola tambang, tidak saja memperburuk lingkungan, melainkan memperparah konflik sosial-horizontal. Hasil riset etnografi ekologis, Perempuan di Tanah Kemelut (2018), menyajikan konflik sosial yang disebabkan isu sumber daya alam sulit berujung damai. Maka, tanda-tanda kehancuran alam bukan lagi bualan tetapi mendekati suratan.
Alkisah. Kamis, 23 Mei 2024 itu, mas Khairul Anwar menghubungi, tepat satu hari sebelum saya berangkat ke Maldives. Negara yang diprediksi tenggelam pertama kali akibat perubahan Iklim. Negara yang penduduknya seratus persen muslim ini memiliki 26 atol, negara terendah di dunia, dengan rata-rata tinggi 1,5 meter dari permukaan laut. Konon katanya, Maldives menjadi prioritas pelancong dunia karena indahnya terterperi dan negara ini diambang punah. Artis dan pesohor dunia kurang keren jika tidak menikmati surga dunia. Tahun 2100 adalah akhir penduduk dunia menikmati keindahan surga, Maldives. Itu ramal futurolog saintis. 78 tahun lagi, Maldives diperkirakan tenggelam karena krisis iklim. Benarkah demikian, hanya sejarah yang akan membuktikan.
Kita tahu, masa lalu dan arah sejarah masa depan tergantung kita. Sejarah dibangun, diciptakan, dan direkayasa oleh manusia. Apakah Maldives akan punah, tenggelam, dan sirna? Sangat bergantung pada cara penduduk bumi dalam mengelola, menjaga, dan merawat bumi. Malvides, memberi isyarat global bahwa bumi yang kita huni sedang tidak baik-baik saja. Buku ini mengajak kita bersama sadar. Bumi perlu dirawat, dijaga, dan dikelola dengan prinsip keberlanjutan.
Mendapat kepercayaan membaca draft awal karya ini, saya perlu mengaca diri. Sadar diri. Kenapa harus saya yang mengantarkan? Betul, beberapa artikel, opini, dan kajian yang saya lakukan membahas isu lingkungan. Disertasi yang saya susun dan dipertahankan dihadapan majelis Sidang Senat Terbuka juga mengkaji ”Gerakan Ekofeminisme Religious.” Akan tetapi saya belum bisa mengamalkan doktrin dasar Kiai Besar Sosialis, Karl Marx. The philosopher have only interpreted the world, in various ways; the point, however, is to change it. Katanya tugas ilmuwan bukan hanya sebatas memotret, menjelaskan, dan menganalisis bencana dan krisis ekologis, ilmuwan sejati harus terlibat dan berjuang menjaga keberlanjutan, mengatasi krisis ekologi, dan menjaga bumi. Ini yang berat, dan saya tidak memenuhi kualifikasi ini, saya masih belajar, masih jauh, sangat jauh sekali.
Kabar baiknya, ada pengalaman sedikit tentang aktivitas lingkungan, program Merebut Hak Air Bersih di Karangjompo, tempat lahir dan tumbuh Mas Khairul Anwar, sang penulis buku ini. Pada tahun 2006 s.d. 2009, kami beserta Almarhum Kang Sofa, pak zuhri, mas Ula, Kiai Basyar, dan sejumlah tokoh lokal seperti pak Aziz, pak Nasuha dan seterusnya melakukan kerja-kerja pemberdayaan masyarakat, yang fokus pada problem dampak Limbah Batik yang menyengsarakan rakyat. Limbah Batik, isu sensitif. Hidup dan kehidupan masyarakat Karangjompo mayoritas bertumpu pada home industri batik. Mengkritik limbah sama artinya membakar rumah sendiri. Merebut hak air bersih juga tidak mudah, penggerak lingkungan bukan hanya berhadapan dengan keluarga, tetangga, pengusaha, pemilik industri, dan pemerintah, melainkan juga bermusuhan dengan nafsu diri sendiri.
Konteks lingkungan yang muram inilah, barangkali yang membakar sang penulis memiliki kedewasaan ekologis, jiwa kritis, peka sosial, dan peduli terhadap orang-orang yang kena dampak limbah batik yang paling parah. Mereka menjadi kesulitan mengakses air bersih. Pandangan sumpek dan kumuh, sampah menumpuk, dan hilir mudik bencana-bencana ekologis yang lain. Kawasan industri, baik skala besar atau home industri hampir selalu membikin nestapa lingkungan sekitar. Pengusaha atau pemiliknya hidup mewah di atas derita warga. Mungkin situasi buruk itu, yang dirasakan penulis buku. Mas Anwar menyadari, dan lihai menulisnya. Deretan-deretan opini penulis di buku ini adalah bukti kegelisahan kaum terpelajar. Setiap orang bisa protes terhadap keterpurukan alam, bencana demi bencana, dan krisis ekologis, namun hanya sedikit yang kuasa melakukan ”protes” lewat tulisan. Mas Khoerul adalah sedikit orang itu.
Buku ini penting di tengah situasi genting krisis dan bencana alam. Saya merasakan, hari demi hari, semakin gawat situasi lingkungan global. Buku ini bisa menjadi cermin besar, sebagai penunjuk jalan dan inspirasi-inspirasi aksi ke depan yang lebih sistematis dan radikal. Isu perubahan iklim, krisis lingkungan, banjir, kebakaran, dan bencana alam, sebagaimana tersaji dalam buku ini tidak lagi bisa diabaikan dan dipandang sebelah mata. Ada aura kegundahan yang mendalam dalam diri penulis tentang masa depan planet ini. Namun masih ada celah. Buku ini seperti lilin kecil dalam lorong gelap ekologis.
Perubahan iklim adalah kenyataan yang tak terbantahkan. Data ilmiah dan laporan dari berbagai organisasi internasional telah menunjukkan bahwa suhu bumi terus meningkat, lapisan es di kutub mencair, dan pola cuaca menjadi semakin tidak menentu. Fenomena ini berdampak luas pada kehidupan manusia, masalah sosial, keanekaragaman hayati, termasuk kelangsungan ekosistem, keamanan pangan, dan kesehatan manusia. Buku ini secara reflektif menggambarkan situasi muram ekologis tetapi juga ada harapan, doa, dan usaha-usaha yang tidak kenal lelah. Demi hari esok yang cerah.
Pemanasan global, perubahan iklim, deforestasi, pencemaran air dan udara, banjir, rob, tanah longsor, persampahan, lahan tandus dan gersang, hilangnya keanekaragaman hayati, dan kerusakan lahan. Masalah-masalah ekologis ini memiliki akar utama, berdampak secara sistemik, dan saling terkoneksi. Karena itu, potret keragaman problem lingkungan di buku ini perlu dipahami sebagai bentuk kompleksitas isu ekologis. Ragam penyebab, ragam bentuk kerusakan, ragam respons, ragam kepentingan, ragam perspektif, ragam pendekatan dan solusi, dan tentunya butuh kerjasama multipihak untuk menjawab krisis dan bencana alam.
Sekali lagi, pikiran yang ada dihadapan pembaca adalah salah satu respons, catatan, dan ikhtiar urun rembug menyelesaikan isu ekologi global. Menjaga bumi tugas bersama penghuni planet. Tentu kita menyadari, setiap orang punya beban dan tugas yang berbeda dalam menjaga bumi. Pejabat, sang otoritatif adalah pihak yang paling bertanggung jawab. Kebijakan yang tepat, regulasi yang ketat, dan penegakan hukum yang adil menjadi kunci keberhasilan menjaga alam. Alam dan kekayaan hayati cukup untuk menghidupi semua makhluk. Namun, tak pernah mencukupi untuk memenuhi hasrat nafsu seorang, begitu kata filosof. Alam, bumi, kekayaan hewani dan hayati, termasuk tambang, boleh dinikmati tetapi jangan dieksploitasi secara ekstrim.
Akhrinya, perlu saya sampai kepada pembaca yang terbudi. Buku ini tampil seperti masakan padang. Bisa dinikmati berurutan, sistematis, mulai dari bagian awal hingga pamungkas. Atau dari ujung akhir merangkak ke atas. Bisa juga dinikmati secara random, pilih tema sesuai suasana hati, sesuai selera. Bebas. Selamat menikmati.
Pekalongan, 6 Juni 2024





