Oleh: R. Nia Marotina, M.E.*)
Di tengah modernitas yang serba digital, pemandangan masyarakat yang berkumpul menggotong gunungan hasil bumi mungkin terlihat kontras. Namun, jika kita melihat lebih dalam, ritual Sedekah Bumi bukan sekadar selebrasi agraris pasca-panen. Tradisi luhur ini sebenarnya adalah sebuah “teknologi sosial” yang diwariskan oleh nenek moyang kita untuk merawat keseimbangan alam sekaligus mengunci erat persatuan bangsa.
Sedekah Bumi menjadi ruang edukasi publik yang mempertemukan nilai spiritual, kemanusiaan, dan kebangsaan secara harmonis. Jika dibedah lebih lanjut, tradisi ini merupakan salah satu potret paling nyata dari implementasi Moderasi Beragama dalam kehidupan sehari-hari.
Berikut adalah empat alasan mengapa Sedekah Bumi menjadi instrumen yang sangat penting dalam merawat kemajemukan kita:
1. Meneguhkan Nilai Kebangsaan Lewat Rasa Syukur
Sedekah Bumi mengajarkan kita untuk mencintai tanah air dengan cara yang sangat membumi. Dalam perspektif keagamaan yang seimbang (moderat), menjaga dan merawat tempat kita berpijak adalah bagian dari pengejawantahan iman.
Tanah bukan sekadar komoditas ekonomi, melainkan ruang sakral tempat kita hidup, tumbuh, dan beribadah. Melalui doa bersama demi keselamatan desa dan negara, masyarakat diingatkan kembali bahwa ketaatan kepada Tuhan berjalan seiring dengan komitmen kita dalam merawat kedaulatan NKRI.
2. Ruang Inklusif Tanpa Sekat Perbedaan
Sedekah Bumi adalah salah satu bentuk toleransi yang konkret. Di balai desa atau lapangan terbuka, seluruh warga melebur menjadi satu tanpa ada batasan teologis.
Di acara Sedekah Bumi, tidak ada pertanyaan mengenai apa agama Anda, apa mazhab keagamaan Anda, atau apa latar belakang suku Anda. Semua warga baik yang muslim maupun non muslim duduk bersila di atas tanah yang sama dan menikmati hidangan yang sama (kembulan). Tradisi ini mengedukasi kita bahwa perbedaan keyakinan tidak boleh menjadi penghalang untuk bergotong royong.
3. Menciptakan Kedamaian dan Menolak Kekerasan
Setiap agama diturunkan ke muka bumi membawa misi kedamaian dan cinta kasih bagi semesta. Kebersamaan dalam Sedekah Bumi secara tidak langsung menjadi sebuah pesan kuat yang mendekonstruksi narasi ekstremisme atau kekerasan yang kerap mengatasnamakan kesucian agama.
Di ruang ini, ego kelompok diredam dan digantikan oleh jabat tangan serta senyuman hangat. Ritual ini memberikan pelajaran langsung kepada masyarakat bahwa membela kemuliaan Tuhan dilakukan dengan cara membangun harmoni di tengah masyarakat, bukan dengan menciptakan teror atau kerusakan.
4. Mengapresiasi Budaya Tanpa Menodai Akidah
Salah satu kecerdasan lokal (local genius) bangsa Indonesia adalah kemampuan memadukan nilai keagamaan dan tradisi secara selaras tanpa harus saling menegasikan. Sedekah Bumi bertahan hingga hari ini karena esensinya seperti perintah untuk bersedekah, larangan bersikap serakah, dan kewajiban menjaga alam sangat sejalan dengan ajaran agama.
Kebudayaan diposisikan sebagai wadah visual yang indah, sementara nilai agama menjadi ruh dasarnya. Ini menjadi pengingat penting bagi kita untuk menjadi pribadi yang religius,tidak berarti kita harus mencabut akar budaya Nusantara dari dalam diri kita.
Melalui sepiring tumpeng dan untaian doa dalam
Sedekah Bumi, kita diajak untuk menjadi manusia yang moderat. Artinya, kita tetap teguh memegang keyakinan iman kita, namun di saat yang sama memiliki kelapangan dada untuk menghargai dan mengasihi sesama manusia.
Mari kita bawa esensi damai Sedekah Bumi ini ke dalam ruang-ruang digital kita. Mari kita hentikan penyebaran hoaks serta ujaran kebencian, dan mulailah menyuburkan narasi toleransi. Bagaimanapun juga, kita semua hidup, tumbuh, dan bernapas di bawah langit yang sama, Bumi Indonesia.
*)Penulis merupakan peserta PKDP PTP UIN Walisongo 2026 dan Dosen STAI Ki Ageng Pekalongan




