Waktu masih sekolah, nyaris saban pagi muncul pertanyaan template, “Nggak sarapan dulu?”. Biasanya, pertanyaan itu muncul ketika saya terburu-buru berangkat. Alasannya bisa bermacam-macam. Yang jelas, saya sadar bakal tiba di sekolah melebihi jam masuk kelas. Berapapun lebihnya.

Alih-alih membalas perhatian emak, saya sambar saja nasi megono yang dibungkus daun pisang lengkap dengan tempe goreng. Saya bawa sebagai bekal di sekolah. Urusan kapan makannya, bisa diatur nanti.

Lama-lama, saya mikir, betapa ribetnya pagi hari. Meski sedang diburu waktu, masih saja harus sarapan. Sementara, waktu tak pernah mau nunggu barang sedetik pun. Belum lagi untuk mendapatkan angkutan kota masih perlu waktu lagi. Nunggu lagi. Malah, harus ikut rebutan dengan sesama anak sekolah atau emak-emak yang mau ke pasar.

Kejadian itu tak cukup sekali. Berulang-ulang dan terus berulang. Dari hari ke hari ya begitu itu.

Itu terjadi pada era 90an. Beda dengan sekarang. Kejadian serupa boleh dibilang tipis kemungkinan dialami anak-anak sekolah di era kekinian. Sekarang, lebih banyak anak-anak sekolah yang berebut jalan di atas laju sepeda motor.

Alasan paling umum, naik motor lebih praktis. Nggak harus nunggu. Nggak harus berebut. Nggak perlu pula berdesak-desakan. Dan, kalau buru-buru bisa tinggal kencengin aja tarikan gasnya. Whuszh!

Walau begitu, bukan berarti naik motor nggak ada risiko. Malah, risikonya boleh jadi lebih gede ketimbang naik angkutan umum. Pertama, mesti rebutan jalan. Artinya, mesti lihai memainkan setang sepeda motor plus sedikit nekat. Sehingga, bisa main serobot jalan orang.

Kedua, mesti sedikit bermuka tembok, terutama saat main serobot jalan orang. Tidak jarang saat saling serobot itu ada saja yang bersumpah serapah atau memaki-maki. Kalau tak cukup punya muka tembok, bisa malu. Bahkan, bisa bikin emosi mendaki hingga puncaknya.

Ketiga, siap-siap kena tilang. Risiko ini agaknya sih sekarang bisa lebih dikondisikan. Sebab, semakin ramainya jalan di perkotaan saat ini membuat petugas lalu lintas lebih fokus pada pengaturan arus lalu lintas supaya berjalan lancar. Apalagi saat ini sudah ada sistem tilang baru berbasis elektronik.

Keempat—dan ini yang agaknya paling perlu diwaspadai, kecelakaan. Memang, tak ada orang yang mengingini kecelakan. Akan tetapi, kecelakaan lalu lintas rupanya tidak pandang bulu. Ia bisa menimpa siapa saja. Bahkan, orang yang sudah mematuhi rambu-rambu lalu lintas pun tak luput. Why? Karena isi kepala tiap orang tidak sama. Cara orang memandang dan bertindak pun berbeda-beda.

Bukan bermaksud nakut-nakutin, tetapi saya kerap mendengar cerita teman tentang kejadian kecelakaan lalu lintas di pagi hari. Bahkan, ada juga yang bercerita tentang seorang bapak yang menabrak anaknya sendiri. Sang bapak sedang tergesa-gesa berangkat kerja. Sementara si anak juga buru-buru ingin sampai sekolah. Nahasnya, si anak ini sampai meninggal dunia.

Peristiwa itu sungguh miris. Sampai-sampai membuat teman saya diliputi perasaan was-was. Katanya, waktu paling horor bukanlah malam, melainkan pagi hari. Mengerikan!

Semua orang tumpah di jalan. Melajukan kendaraan masing-masing dalam suasana yang sama-sama tak tenang. Dicekam presensi dan punishment. Belum lagi mereka yang menggunakan motor mereka sebagai moda angkutan barang. Memasang keranjang kiri-kanan. Ada pula yang sampai menutupi kaca spion.

Tak hanya itu, mobil-mobil juga turut memadati jalanan. Padahal, penumpangnya cuman seorang. Belum lagi truk atau mobil box. Semuanya saling berebut jalan.

Selain itu, kondisi jalan juga cukup memberi pengaruh. Apalagi jalan yang tak rata atau yang berlubang. Begitu pula kondisi jalan di persimpangan. Kondisi ini diperparah juga dengan trotoar yang tak bisa difungsikan sebagai tempat pejalan kaki. Bahu jalan juga banyak dimanfaatkan untuk mengais rezeki. Ah, betapa kacau!

Andai, kata teman saya, ada pendataan yang tuntas, mungkin angka kecelakaan lalu lintas lebih banyak terjadi pada pagi hari. Antara pukul 06.30 sampai pukul 07.30. Hanya, rilis mengenai angka kecelakaan sampai saat ini cenderung digeneralisir. Kurang spesifik.

Masih kata teman saya, jika saja data angka kecelakaan lalu lintas itu terperinci dan dapat dipublikasikan secara terbuka, mungkin bisa saja digunakan sebagai pijakan di dalam menentukan kebijakan. Terutama mengenai pengaturan jadwal jam masuk kerja dan jam sekolah. Sehingga, kepadatan lalu lintas di pagi hari bisa lebih diurai. Setidaknya, pengaturan jadwal jam masuk kerja dan jam sekolah akan mengurangi potensi angka kecelakaan lalu lintas. Begitu, harapan teman saya. Bagaimana Anda?

1 KOMENTAR

  1. Saya juga pernah dapet wejangan, Kono Sendekala paling mengerikan bukan ketika waktu Magrib, tetapi ketika menjelang Subuh. Yaa lagi-lagi waktu di pagi hari, 🙂
    Semoga kita selalu dalam lindungan Tuhan.

Tinggalkan Balasan ke Luqni_Elmoa Batal membalas

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini