Forum Komite Sekolah Kota Pekalongan
Foto bersama: Pengurus Forum Komite Sekolah se-Kota Pekalongan berfoto bersama Wali Kota Pekalongan, H.A. Afzan Arslan Djunaid, S.E., M.M., dengan Plt Kepala Dinas Pendidikan Kota Pekalongan, Mabruri, S.Pd. setelah dikukuhkan oleh Ketua Dewan Pendidikan Kota Pekalongan, Suryani, S.H., M.Hum. di Hotel Aston, Rabu (30/4/2025).

Senin malam, 2 Juni 2025. Seperti biasa, saya mesti menjalankan tugas bersiaran di radio. Nama acara yang saya pandu Wedangan. Obrolan santai antara saya dengan pendengar melalui sambungan telepon.

Singkat cerita, seorang pendengar setia menelepon. Ia ceritakan pengalamannya mengikuti rapat di sekolah bersama Komite Sekolah. Akunya, saat memimpin rapat, salah seorang Komite Sekolah cenderung mengunggulkan diri. Disebutnya profesi, jabatan, pengalaman kerja, sampai pendapatan per bulan, dan hal-hal yang menurutnya tak punya kaitan dengan permasalahan yang didiskusikan.

Si penelepon juga mengungkapkan kesan yang kurang berkenan dengan sikap Komite Sekolah itu. Ia menilai, kurang etis. “Toh, kita kan sama-sama orang tua murid. Alangkah baiknya hal itu dihindari. Sebab, tidak semua orang tua memiliki keberuntungan yang sama. Bisa-bisa dengan sikap semacam itu, orang tua yang lain akan merasa minder dan takut untuk menyampaikan pendapatnya,” ujar sang penelepon.

Menyimak tuturan itu, saya berusaha mencerna dan membayangkan situasi rapat yang dialaminya. Lebih-lebih, suasana batin para orang tua yang hadir. Saya juga berupaya untuk memahami cara pandang sosok yang dipermasalahkan penelepon.

Saya yakin, tidak semua orang tua yang hadir punya pandangan serupa dengan si penelepon. Pastilah ada yang mengaguminya. Menganggap sosok yang di depan adalah teladan. Bagaimana tidak, seorang pejabat penting masih mau mengambil tanggung jawab besar di luar tugasnya. Masih mau pula memikirkan nasib pendidikan anak-anak. Bagi saya, sosok tersebut pastilah bukan orang sembarang orang. Akan tetapi, sosok yang berdedikasi tinggi bagi masa depan bangsa.

Adapun sikap yang dikeluhkan, saya kira, barangkali itulah cara beliau mengenalkan diri. Semacam personal branding. Mungkin pula, itu cara ia menunjukkan kerendahan hati. Agar, jarak sosial dan dinding tebal kesenjangan antara beliau dengan orang tua murid dapat dirobohkan. Dengan kata lain, beliau sesungguhnya ingin mengatakan, “Saya adalah bagian dari Anda”. Hanya, cara yang beliau tunjukkan tidak seperti yang dibayangkan penelepon.

Ini soal teknis. Soal gaya berkomunikasi. Dan, mesti disadari, gaya tiap orang berbeda. Apalagi lingkungan asal tiap-tiap orang juga beragam.

Mungkin, lingkungan tempat beliau menjalani hidup punya tradisi yang membuka peluang bagi gaya komunikasi demikian. Serba formal dan cenderung protokoler. Mungkin, dalam pandangan beliau, tradisi itu pula yang berlaku di lingkungan sekolah.

Sesempit pengetahuan saya, lingkungan sekolah merupakan lingkungan yang begitu menjunjung tinggi etika dan moralitas. Seperti yang kerap saya alami, saat berada di ambang pintu gerbang sekolah, biasanya sikap badan saya mendadak berubah. Jangankan di ambang pintu gerbang, dalam radius 100 meter—selagi masih terpantau dari gedung sekolah—saya kadang merasa tak enak hati kalau sikap saya ugal-ugalan. Walau, saya bukan tipikal orang yang suka tata cara yang formalistik.

Begitu pula ketika bercakap-cakap dengan guru, kepala sekolah, maupun karyawan di sekolah. Saya mesti menata kalimat dengan sebaik-baiknya, agar terdengar dan terlihat santun. Sebagaimana kebiasaan orang Jawa, tidak jarang saya gunakan bahasa Jawa Krama sebagai tanda penghormatan, selain bahasa Indonesia untuk memudahkan komunikasi. Tak hanya itu, saya juga agak membungkukkan badan. Atau, sekurang-kurangnya menundukkan kepala.

Meski begitu, saya mesti menyadari, tidak semua orang bisa melakukan hal serupa. Di kampung saya, dengan latar belakang individu yang beragam—umumnya pekerja serabutan dan buruh; jenjang pendidikan mereka juga tak sampai sundul langit; serta pergaulan yang terbatas—memiliki takaran kesantunan tersendiri. Mereka sangat mungkin tidak mengenal apa itu curriculum vitea. Jadi, wajar jika saat mengikuti rapat-rapat yang formal akan terjadi kesilapan persepsi. Bahkan, sebagian besar warga kampung tempat saya tinggal tak terbiasa dengan sikap sebagaimana yang saya lakukan.

Walau begitu, saya menangkap rasa hormat mereka lebih tulus ketimbang yang saya tunjukkan. Karena, mereka sadar betul, mereka tak punya gelar akademik yang ditempel di belakang apalagi di depan nama mereka. Malahan, warga kampung saya jauh lebih peka ketimbang saya. Mungkin, kondisi ekonomi yang membuat mereka merasa sebagai orang yang senasib sepenanggungan.

Dan, saya selalu tertarik dengan cara pandang warga kampung saya. Bagi mereka, kehormatan seseorang tidak terletak pada jabatan, gelar akademik, maupun kekayaan yang dimiliki. Akan tetapi, lebih pada rasa empati yang ditunjukkan dan diwujudkan ke dalam keseharian. Mereka akan sangat menghargai dan menghormati orang yang punya jabatan atau kekayaan yang lebih namun menunjukkan sikap rendah hati. Mau bergaul dengan mereka tanpa jarak, tanpa membedakan diri.

Gambaran masyarakat itu tentu jauh dari yang dibayangkan oleh satuan-satuan kecil lingkungan yang formal. Seperti saya sebut tadi, masyarakat punya ukurannya sendiri tentang batas-batas etika maupun moral. Bagi masyarakat, bersikap sebagai kawan yang karib menjadi sesuatu yang istimewa. Sementara, di lingkungan formal, saya kerap menjumpai, perkawanan yang terlalu karib justru menjadi sesuatu yang kerap dipandang “mencurigakan”. Sebab, ada model struktur yang hierarki dan berlaku demikian ketat.

Agaknya, mempertemukan dua arus pikiran ini bukan ihwal yang mudah. Perbedaan relasi kuasa di antara kedua lingkungan ini terlalu kontras. Dugaan saya, mungkin ini adalah warisan masa lampau yang diselipkan ke dalam alam bawah sadar kita. Bahwa, relasi kuasa yang terbangun cenderung melanggengkan gaya kolonial. Warisan yang tanpa disadari tertanam di alam bawah sadar masyarakat sejak ratusan tahun silam.

Di era kini, sebagian masyarakat berupaya meretas pelanggengan warisan kolonial itu. Tentu, cara mereka beragam. Salah satunya dengan menyampaikan gagasan atau pikiran mereka di ruang-ruang publik. Seperti yang dilakukan pendengar setia acara Wedangan melalui sambungan telepon. Ada pula yang memanfaatkan media sosial sebagai corong untuk menyuarakan pikiran mereka.

Sungguh, saya sangat menghargai keberanian si penelepon ini. Juga, menghormati pikirannya. Dan, saya sepakat, perlu upaya pendekatan yang lebih lembut. Tidak terlalu kaku dan serba formal dalam ajang pertemuan semacam itu. Saya yakin, muruah Komite Sekolah maupun sekolah itu sendiri tidak akan turun. Justru sebaliknya, akan mendapatkan simpati dan didukung penuh oleh masyarakat. Sebab, sekolah mestinya mendudukkan dirinya sebagai bagian dari masyarakat. Bukan sebaliknya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini