Beranda Opini Menggugat Cara Hidup Orang-orang Jahat

Menggugat Cara Hidup Orang-orang Jahat

0

Oleh: Nazwar, S. Fil. I., M. Phil. (Penarasi Jogja Sumatera)

Kriminalitas, pemborosan, dan kesia-siaan adalah penyebab kejahatan. Jahat?! Ya, kejahatan yang semua orang sebenarnya ingin menghindari, meski terdapat orang yang terjebak padanya, serta sebagian lagi merasa sungkan membahasnya karena cenderung emosional.

Kejahatan telah menjadi materi dalam diskursus berat para pemikir seserius Filsuf. Bagi sebagian mereka mengistilahkannya sebagai suatu enigma, lantaran sifatnya yang dirasa misterius. Seringnya bermuara pada pembenturan terhadap argumentasi adanya Tuhan dengan eksistensi kejahatan yang dianggap bertentangan dengan sifat ketuhanan. Barangkali, persoalan terakhir ini berkaitan erat dengan konteks ketuhanan suatu konstruksi keyakinan. Lantaran demikian, kemungkinan keluar dari diskursus ini adalah evaluasi berupa dekonstruksi sedemikian rupa berkaitan juga dengan standarisasi kebenaran dan kebaikan.

Sebab Tuhan tidak menginginkan kejahatan, maka menjadi baik menurutNya adalah kuncinya. Maka, pelaku kejahatan sebenarnya adalah poin dari suatu perilaku jahat. Menggugat kejahatan akhirnya menemukan suatu titik, yaitu menggugat cara hidup mereka. Mereka yang menginginkan hal yang bertentangan dengan keinginan Tuhan, merekalah yang membuat kerusakan dan merupakan sumber kejahatan demi kejahatan. Sebagaimana orang baik senantiasa mencari akan mendapat jawaban kebaikan, maka (ancaman) adzab bagi orang jahat adalah cara (halus) Tuhan menjawab apa yang dicari mereka; bahwa Tuhan ada!

Perilaku jahat para saudara Yusuf berujung panjang bahkan diabadikan di dalam kitab-kitab termasuk al-Qur’an. Perbuatan buruk mereka yang justru mengangkat derajat Yusuf di sisi Allah bahkan berakibat fatal bagi keturunan mereka hingga menjelang kiamat kelak. Selain itu kisah yang lebih dahulu sebagaimana yang terjadi pada kedua putera Adam sekaligus dosa pembunuhan manusia oleh manusia pertama di dunia; Kabil yang dibunuh Habil. Serta masih banyak lagi kisah lain.

Puncaknya, usaha untuk terus-menerus berada dalam perilaku menentang ketentuan Tuhan dan senantiasa larut dan menyukainya dengan menjadikannya bagian atau cara satu kesatuan hidupnya. Sehingga tiada harapan kebaikan. Tertinggal permusuhan dan kerusakan demi kerusakan meskipun atas nama kebenaran, padahal semua ingin berakhir dan senantiasa menuju yang indah, baik dan berkeadilan di tengah “kejahatan” yang senantiasa mengancam.

Agama Kendaraan Semata?

Khususnya terkait interaksi sesama manusia, kala agama menjadi kendaraan untuk kepentingan dunia, artinya agama ditunggangi. Kapan hal ini terjadi? Ketika kesadaran manusia bangkit akan suatu kondisi yang nyaman, tenteram dan berkeadilan. Kandungan agama, dengan itu manusia tercerahkan seperti, yang bingung menjadi teguh, yang disorientasi menjadi jelas, asa terpenuhi.

Bagaimana sejarahnya, bukankah Yahudi Azkanazi di Palestina adalah orang beragama yang melarang atau menganggap dosa bahkan sekedar melanggar hak (dasar) manusia lain terlebih merampas sampai membunuh atau melakukan genosida? Dimana menegakkan kebenarannya? Membunuh adalah “Ikrom” (memuliakan) dengan mengantarkan umat Islam Palestina segera sampai ke tujuannya; surga?

Jika jika jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas adalah positif bukan berupa negativitas, tentu spiritualitas yang merasukinya perlu betul-betul dikembalikan kepada hakikat kebenaran.

Orang yang tergabung Jama’ah tertentu yang biasa mendakwahkan kesederhanaan, ibadah serta menyasar para preman, justru banyak yang kaya dan gemar memperbanyak anak serta tidak sedikit justru menjelma preman berbekal modalitas yang mereka miliki mampu “menguasai” yang lain dan menjadi “Tuhan”. Agama seolah menjadi pendompleng mental (spiritual) untuk berbuat jahat tersebut

Siapa yang menggunakan narasi agama? Namun bisa juga bagian dari syiar akan doktrin setiap kondisi orang beriman adalah baik, yang ilmu penerasi belum sampai untuk berhati-hati menjangkau sepenuhnya.

Memberantas Eksistensi Premanisme

Orang jahat atau pelaku kejahatan sejatinya bersekongkol dengan para setan dari golongan jin dan manusia. Selain kerusakan, yang dihasilkan dari usaha oleh persekongkolan tersebut adalah permusuhan dan ketersesatan. Aksi preman adalah bentuk nyata, keengganan tunduk pada hukum, moralitas dan aturan yang ada adalah sikap utamanya. Maka jika hendak memberantas kejahatan adalah dapat melalui pemberantasan premanisme.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini