Oleh: Mufti Zamani
Seiring dengan berkembangnya zaman tentu tantangan dalam dunia Pendidikan juga terus berkembang, inovasi dan adaptasi harus terus ditingkatkan agar Pendidikan lebih tepat sasaran terhadap kebutuhan anak. Banyak lembaga pendidikan yang masih sering berorientasi pada nilai akademik semata, nilai diatas rapot yang menjadi tujuan utamanya, yang sesungguhnya memilihat Pendidikan anak tidak hanya sebatas nilai saja, tapi lebih luas lagi.
Hal tersebut yang melatarbelakangi sebuah lembaga pendidikan yang menawarkan cara pandang berbeda tentang belajar dan tumbuh. Adalah Sekolah Alam Pekalongan, sebuah sekolah inklusi yang dirintis oleh Ika Nela Sutiyani (Bunda Nela) di bawah naungan Yayasan Alamus Syaukah dan PKBM School Of Nusantara, yang hingga kini menjadi salah satu pelopor pendidikan alternatif dan inklusi di Kabupaten Pekalongan
Sejarah berdirinya Sekolah Alam Pekalongan (SAPE) ini berawal dari kepedulian terhadap banyaknya anak berkebutuhan khusus yang belum mendapatkan akses pendidikan yang layak, padahal dalam Undang-Undang Dasar 1945 negara mempunyai tujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, namun realitasnya masih banyak lini-lini Pendidikan yang belum disentuh atau diperhatikan. Bunda Nela mempunyai inisiatif untuk mengisi kekosongan Pendidikan dengan merintis sekolah yang mempunyai konsep menerima semua anak tanpa membedakan kondisi fisik, intelektual, ekonomi, suku, maupun agama. Inspirasi tersebut muncul dari pengalaman sosial yang ia temui sehari-hari.
Pada masa-masa awal berdiri pada tahun 2013, Sekolah Alam Pekalongan menghadapi berbagai tantangan, ada segelintir orang yang tidak percaya dan meremehkan dengan konsep sekolah yang beliau rintis. Namun berbagai rintangan tersebut tidak menghentikan perjuangannya, dengan dukungan relawan, orang tua, dan Masyarakat dibelakangnya, yang kemudian perlahan seiring berjalannya waktu mereka yang menolak mulai memahami dan menerima pentingnya pendidikan inklusif.
Salah satu perkembangan Sekolah Alam Pekalongan diantara dengan bergabungnya dalam Jaringan Sekolah Alam Nusantara (JSAN) yang menjadi tempat untuk belajar, sharing, berdiskusi, bertukar informasi sesama Sekolah Alam yang ada diseluruh Indonesia. Sehingga dengan adanya wadah JSAN ini antar Sekolah Alam bisa saling support membantu yang dibutuhkan setiap Lembaga. Bahkan ada pertemuan rutin tiap 3 bulan dan tiap tahunnya untuk mencharger perjuangan Sekolah Alam dengan semangat inklusinya di seluruh pelosok Indonesia.
Konsep Sekolah Alam ini menerapkan pendekatan pembelajaran yang menyesuaikan kebutuhan masing-masing anak melalui program individual dan pengembangan kemampuan sesuai karakteristik peserta didik. Sehingga kebutuhan setiap anak berbeda-beda, tidak boleh disama ratakan, serta bakat tiap anak harus dilatih sesuai minat bakatnya.
Kolaborasi menjadi kunci untuk perkembangan sekolah ini, selain Kerjasama antar sekolah alam melalui JSAN diatas, Sekolah Alam Pekalongan ini juga berkolaborasi dengan Pemerintah (Desa / Kecamatan / Kabupaten), Universitas- Universitas di Pekalongan, Dokter atau Rumah Sakit di Daerah, Privat Sektor, dan lain sebagainya. Kolaborasi ke semua lini tersebut tujuanya untuk memberikan manfaat dan pengalaman yang lebih luas kepada anak khsususnya atau Lembaga pada umumnya.
Diantara keunikan Sekolah Alam Pekalongan adalah penerapan prinsip-prinsip Behaviour Therapy dalam aktivitas pembelajaran sehari-hari. perubahan perilaku positif tidak hanya diajarkan melalui teori, tetapi dilatih secara nyata melalui pengalaman hidup. Anak-anak diajak membangun kemampuan komunikasi, regulasi emosi, kemandirian, keterampilan sosial, tanggung jawab, serta kemampuan beradaptasi dengan lingkungan.
Setiap kegiatan menjadi media terapi sekaligus pembelajaran. Ketika seorang anak belajar menyiapkan peralatan makan, bekerja dalam kelompok, menjaga kebersihan lingkungan, atau menyelesaikan konflik dengan teman, sesungguhnya ia sedang mengembangkan perilaku adaptif yang akan menjadi bekal penting dalam kehidupannya. Pendekatan ini membuat sekolah tidak sekadar menjadi tempat belajar akademik, melainkan juga ruang tumbuh bagi karakter dan keterampilan hidup.
Filosofi pendidikan Sekolah Alam Pekalongan dirangkum dalam sebuah konsep sederhana namun mendalam: Belajar Bersama Banyak Orang, Banyak Tempat, dan Banyak Ragam. Sehingga belajar bukan hanya disekolahan saja atau dengan fasililitator / guru saja, tapi lebih luas lagi, anak- anak bisa berlajar dimanapun, dan dengan siapapun, Seperti mereka bisa belajar di Sawah, sungai, kebun, hutan, perbukitan, hingga kehidupan petani menjadi sumber belajar yang nyata. Anak-anak tidak hanya membaca tentang alam, tetapi mengalaminya secara langsung. Melalui pengalaman tersebut, peserta didik belajar tentang, lingkungan, kepemimpinan, ketahanan diri, dan rasa syukur terhadap ciptaan Tuhan.
Selain itu anak-anak bisa Belajar Bersama Maestro dengan menghadirkan berbagai tokoh, praktisi, seniman, petani, pengrajin, pelaku UMKM, serta profesi lainnya sebagai guru kehidupan. Anak-anak belajar langsung dari orang yang menjalani profesinya. Mereka memahami bahwa ilmu tidak hanya berada di dalam buku atau ruang kelas, tetapi hidup dalam pengalaman manusia sehari-hari.
Termasuk belajar bersama Masyarakat Konsep ini diwujudkan melalui program Live In, yaitu kegiatan tinggal bersama masyarakat dalam kurun waktu tertentu.Dalam program ini, peserta didik belajar hidup sederhana, membantu aktivitas warga, mengenal budaya lokal, membangun empati, dan memahami realitas sosial secara langsung.
Oleh Mufti Zamani




