Oleh: Azzah Liddiana*
Di era digital, pola dakwah mengalami perubahan besar. Generasi muda tidak lagi bergantung pada ceramah panjang di masjid sebagai sumber utama pengetahuan agama. Mereka lebih sering menerima pesan keagamaan melalui TikTok, Instagram, YouTube, hingga podcast. Laporan We Are Social mencatat bahwa 87,5% pengguna internet Indonesia berusia 16 tahun ke atas kini lebih banyak menonton video pendek daripada jenis konten lainnya. Hal ini sejalan dengan temuan Badan Litbang Kementerian Agama yang menilai bahwa dakwah digital lebih efektif ketika disampaikan dalam bentuk visual yang singkat, relevan, dan mudah dibagikan.
Wawancara dengan sejumlah responden menunjukkan kecenderungan yang sama. Banyak yang menilai video pendek sebagai media dakwah paling cepat menjangkau audiens karena pesannya langsung masuk ke inti. Meski demikian, ada kekhawatiran mengenai maraknya konten tanpa sumber jelas yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Fenomena ini menegaskan bahwa meskipun video pendek sangat diminati anak muda, akurasi informasi tetap harus diperhatikan.
Selain video pendek, podcast juga menjadi media dakwah yang efektif. Format percakapan yang santai membuat pesan agama terasa lebih dekat dan tidak menggurui. Menurut Indonesia Gen Z Report 2022, sekitar 17 % pendengar podcast Gen Z di Indonesia memilih topik bertema keagamaan. Praktisi dakwah digital menilai bahwa potongan klip podcast yang beredar di media sosial membantu pendengar muda menangkap pesan dengan lebih cepat dan mudah.
Penggunaan konten visual seperti grafis, animasi, dan ilustrasi digital juga semakin populer. Banyak pihak melihat media visual mampu menjelaskan konsep keagamaan yang rumit dengan cara yang lebih mudah dipahami. Namun penggunaan teknologi seperti kecerdasan buatan tetap membutuhkan kehati-hatian agar tidak menimbulkan kesalahpahaman atau bertentangan dengan prinsip keagamaan.
Meski media digital mendominasi, hampir semua responden sepakat bahwa keteladanan tetap menjadi inti dari dakwah. Pendekatan ini, yang dikenal sebagai dakwah bil-hal, yang menekankan pada penyampaian pesan melalui perilaku nyata. Contoh sehari-hari dinilai lebih berpengaruh dalam mengubah sikap seseorang dibandingkan ceramah panjang. Perubahan memang tidak terjadi secepat viralnya sebuah video, tetapi pengaruhnya jauh lebih mendalam.
Dari berbagai temuan tersebut, dakwah yang dekat dengan generasi muda setidaknya harus memenuhi tiga unsur: menggunakan media yang relevan, menyampaikan pesan dengan gaya yang lembut dan interaktif, serta memberikan keteladanan nyata. Digitalisasi membuka peluang besar bagi penyebaran dakwah, tetapi kebijaksanaan dan akhlak penyampai tetap menjadi fondasi utama.
Generasi muda bukan menolak dakwah. Mereka hanya membutuhkan cara penyampaian yang sesuai dengan dunia mereka. Karena itu, dakwah yang efektif hari ini bukan ditentukan oleh panjangnya ceramah, tetapi oleh kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan pola komunikasi generasi muda yang hidup dalam arus informasi cepat.
*Penulis Mahasiswa Program Double Degree BIB-LPDP, Prodi Komunikasi Penyiaran Islam, UIN Ar-Raniry Aceh; Mata Kuliah Ilmu Dakwah





