Beranda Cerpen Jam Pelajaran Terakhir

Jam Pelajaran Terakhir

0

Oleh: Husna Mahmudah

Hujan turun pelan sejak subuh, membasahi halaman sekolah yang penuh genangan. Di ruang guru, sebagian besar meja sudah kosong. Hanya ada beberapa guru yang sibuk menyusun nilai dan laporan akhir semester. Di sudut ruangan itu, duduk seorang perempuan dengan kerudung cokelat, menatap selembar kertas yang sudah beberapa kali dilipat.

Bu Indah, nama lengkapnya Indah Pratiwi, guru honorer mata pelajaran Seni Budaya di SMP Negeri 12 Wonosari. Usianya 42 tahun, wajahnya selalu tampak sabar meski lelah jelas tergurat di garis matanya.

Ia sudah mengajar di sekolah itu selama 15 tahun. Setiap pagi naik motor tua dari rumahnya di dusun sebelah, menempuh perjalanan 40 menit dengan jalan yang kadang berlumpur. Ia mengajar dengan penuh cinta, bukan sekadar mengajarkan not balok atau teori warna, tapi juga menyalakan nyali pada siswa-siswinya untuk berani mengekspresikan diri.

Namun, cinta saja tak cukup. Tiga bulan terakhir, gaji honornya belum turun. Surat yang ia genggam adalah surat pengunduran diri. Sudah lama ia menahannya. Tapi hari ini, tekadnya bulat.

Di ruang kelas 9C, anak-anak sudah ribut menunggu. “Bu Indah belum datang ya?” tanya Adi pada teman sebangkunya. “Padahal tadi katanya ada praktik bikin topeng.”

Ketika Bu Indah masuk, anak-anak langsung tenang. Ada yang berbeda pagi itu. Ia tidak membawa banyak alat peraga seperti biasanya. Hanya map cokelat di tangan dan senyum tipis di wajahnya.

“Anak-anak,” ucapnya lembut, “hari ini kita tidak akan praktik membuat topeng. Hari ini kita akan bicara soal wajah.”

“Wajah, Bu?” tanya Tania, penasaran.

“Iya. Wajah manusia, wajah bangsa, wajah kebenaran.”

Bu Indah menatap mereka satu per satu. Ruangan hening. Ini bukan gaya biasanya. Tapi semua tahu: ini bukan jam pelajaran biasa.

“Kalian tahu,” katanya, “setiap kali Ibu mengajar, Ibu tidak hanya ingin kalian bisa menggambar atau menari. Ibu ingin kalian berani menjadi diri sendiri. Tapi hari ini, Ibu akan jujur. Ibu ingin kalian tahu bahwa menjadi guru honorer seperti Ibu, tidaklah mudah.”

Ia mulai bercerita. Tentang bagaimana setiap bulan ia harus menunggu honor cair yang kadang hanya cukup untuk beli beras dan bensin. Tentang bagaimana ia harus meminjam uang ke koperasi untuk biaya sekolah anaknya. Tentang bagaimana teman-teman seangkatannya satu per satu mundur, menyerah karena tak sanggup hidup dari upah yang bahkan tak layak disebut gaji.

“Saat kalian menggambar,” lanjutnya, “Ibu bisa lupa sejenak dengan semua beban itu. Tapi malam hari, Ibu tetap harus memikirkan bagaimana besok bisa makan.”

Beberapa anak mulai menunduk. Mereka masih remaja, tapi kata-kata Bu Indah menusuk hati mereka.

“Tapi Ibu tidak ingin kalian kasihan,” katanya cepat. “Ibu hanya ingin kalian tahu bahwa perjuangan kadang sunyi. Dan hari ini… ini adalah jam pelajaran terakhir Ibu.”

Seketika kelas itu terdiam. Angin sore masuk dari jendela yang terbuka, membawa suara hujan yang belum berhenti.“Ibu mengundurkan diri,” lanjutnya. “Bukan karena kalah. Tapi karena ingin suara Ibu didengar. Ibu sudah mencoba bertahan. Tapi sistem ini… tak pernah memberi ruang untuk kami yang sudah lama mengabdi tapi tak pernah diangkat.”Tania mengangkat tangan, suaranya lirih, “Lalu siapa yang akan ngajarin kami, Bu?”

“Ibu percaya, kalian bisa belajar dari mana saja. Tapi pelajaran hari ini… pelajaran tentang keberanian dan harga diri… hanya bisa kalian dapatkan dari hidup.” Sebelum meninggalkan kelas, Bu Indah menyerahkan sebuah amplop pada ketua kelas. “Ini surat kecil dari Ibu. Kalian boleh baca bersama.”

Beberapa hari kemudian…

Surat itu ternyata berisi puisi dan potret-potret karya siswa. Ketika salah satu siswa memotret surat itu dan mengunggahnya ke media sosial, reaksi netizen membludak. Banyak yang terenyuh. Tagar #JamPelajaranTerakhir sempat menjadi trending. Media mulai meliput kisah Bu Indah. Namun seperti banyak hal lainnya, isu itu hanya bertahan sebentar di permukaan. Tak ada perubahan berarti dari kebijakan.

Sementara itu, Bu Indah mulai membuka sanggar kecil di rumahnya. Ia mengajar anak-anak tetangga melukis dan bermain musik. Ia juga menulis puisi dan cerpen, beberapa dimuat di koran lokal.

Lima tahun kemudian…

Tania, kini mahasiswi jurusan Seni Rupa, sedang menulis esai untuk tugas akhirnya. Ia memberi judulnya: “Wajah Sunyi Pendidikan.” Judul itu bukan sekadar frasa puitis. Bagi Tania, itu adalah cermin dari kenyataan yang ia saksikan sejak lama, kenyataan yang diam-diam terus menggerogoti akar pendidikan di negeri ini.

Di halaman pertama, ia menulis dengan kalimat yang sederhana:

“Aku belajar tentang warna, garis, dan bentuk dari banyak orang. Tapi aku belajar tentang keberanian dari Bu Indah, dalam jam pelajaran terakhir yang tidak akan pernah aku lupakan.”

Esai itu bukan sekadar tugas akademik. Ia adalah bentuk penghormatan. Sebuah surat cinta untuk para guru yang tak pernah disebut dalam pidato perayaan, namun tetap mengajar dengan cahaya di mata mereka. Di saat teman-temannya sibuk memikirkan nilai, Tania justru menganggap tulisan itu sebagai pembuka jalan. Jalan yang membawanya melangkah lebih jauh dari sekadar ruang kelas.

Bu Indah adalah tokoh utama dalam tulisan itu. Guru Seni Budaya di SMP tempat Tania dulu belajar. Seorang guru honorer yang mengajar dengan sepenuh hati, meski gajinya bahkan tak cukup untuk ongkos pulang-pergi. Tania masih ingat hari terakhir Bu Indah mengajar dan pesan terakhir:

“Keberanian itu bukan berarti tak takut. Tapi tetap berjalan meski takut. Jangan biarkan harga dirimu ditentukan oleh siapa yang menggajimu, tapi oleh apa yang kamu perjuangkan.”

Tania menyimpan pelajaran itu dalam-dalam. Kata-kata itu terus terngiang bahkan setelah bertahun-tahun.

Kini, Tania tak hanya menjadi mahasiswa seni rupa. Ia juga seorang jurnalis muda. Lewat tulisan dan dokumenter yang ia buat, Tania menyuarakan kisah-kisah yang selama ini hanya dipendam: cerita para guru honorer yang bertahan di tengah ketidakpastian.

Ia menulis tentang Pak Mul di Gunung Kidul, yang harus mengajar tiga kelas sekaligus sambil menjadi tukang ojek agar dapur tetap mengepul. Ia menulis tentang Bu Rina di Kulon Progo, yang telah mengabdi selama 17 tahun tanpa pernah diangkat menjadi ASN, meski tak pernah absen dan selalu datang paling pagi.

Ia menyusun narasi hasil riset dan dengan penuh empati. Ia turun ke lapangan, menginap di rumah warga, dan mewawancarai guru-guru yang selama ini merasa tak punya tempat untuk bersuara. Tulisan-tulisannya ia kirimkan ke media tempat ia magang. Beberapa dimuat. Namun tak viral. Tak ramai.

Artikel-artikel itu hanya dibaca puluhan orang. Tak ada gelombang komentar, tak ada retweet ribuan kali. Sementara media sosial dipenuhi kabar tentang perselingkuhan pejabat, perceraian artis, dan drama selebritas.

Tania menghela napas panjang. Kadang ia bertanya dalam hati: “Apakah benar yang penting bukan kualitas, tapi siapa yang lebih ribut?”

Namun, ia tidak berhenti.

Ia lalu membuat kanal YouTube bernama Wajah Sunyi sebuah ruang sederhana yang menayangkan dokumenter pendek tentang kondisi pendidikan di berbagai daerah. Ia merekam sendiri, menyunting sendiri, bahkan mengisi suara narasi sendiri. Semua dilakukan dengan alat seadanya, tapi dengan ketulusan yang tak dibuat-buat.

Meski awalnya hanya ditonton puluhan orang, perlahan-lahan video-video itu mulai menyebar. Salah satunya tentang seorang guru honorer di pedalaman yang mengajar sambil memelihara kambing sampai ke tangan seorang dosen pendidikan dari universitas ternama.

Dosen itu menghubungi Tania. Mereka bertemu, berdiskusi panjang, dan akhirnya sepakat menulis buku bersama: kumpulan kisah guru inspiratif yang selama ini nyaris tak terdengar. Buku itu bukan sekadar dokumentasi. Ia menjadi cermin, menjadi saksi, dan menjadi suara bagi yang terlalu lama dibungkam.

Tania mulai diundang ke seminar-seminar, berbicara di depan mahasiswa, bahkan hadir di forum kebijakan pendidikan. Tapi bagi Tania, semua itu bukan puncak. Itu hanya cara agar lebih banyak yang mendengar, lebih banyak yang sadar.

Karena sejak hari itu di kelas Bu Indah, Tania percaya satu hal: pendidikan yang adil tidak datang dari belas kasihan, tapi dari keberanian untuk terus menyuarakan kebenaran, sekecil apa pun suaranya.

Dan jika wajah pendidikan kita masih sunyi, maka biarlah Tania menjadi salah satu yang menolak diam.

Buku itu terbit digital. Lambat laun, mulai dibaca oleh komunitas guru, mahasiswa pendidikan, hingga LSM yang peduli isu pendidikan.

Namun semakin nyaring suara Tania, semakin besar pula tekanan yang datang.

Ia mulai menerima email ancaman. Nomor tak dikenal menghubungi tengah malam, diam, lalu memutuskan panggilan. Kolom komentarnya dibanjiri ujaran sinis: “Anak muda cari panggung,” “Penghancur reputasi pendidikan,” “Tahu apa sih soal dunia guru?”

Tak berhenti sampai di situ.

Adiknya, Damar, baru saja diterima di SMK unggulan lewat jalur prestasi. Tiba-tiba, pihak sekolah memanggilnya. Guru BK berkata bahwa ada kemungkinan beasiswanya dicabut karena “evaluasi ulang dari pihak tertentu”.

Ibu mereka, yang bekerja di kantor kelurahan, pulang dengan wajah panik. Ia membawa surat pemberitahuan bahwa bantuan pendidikan keluarga mereka akan ditinjau ulang. Tak ada penjelasan yang pasti.

Tania langsung tahu. Ini bukan sekadar administrasi. Ini intimidasi.

Beberapa kepala sekolah yang sempat disebut dalam liputannya juga marah. Salah satu dari mereka menelepon:

“Kamu tahu tulisanmu bikin sekolah saya disorot negatif? Kalau kamu terus begini, jangan salahkan kalau banyak pihak mengambil tindakan!”

Tania mulai sadar, memperjuangkan kebenaran tidaklah mudah. Ia bukan hanya mempertaruhkan namanya, tapi juga kenyamanan keluarga.

Namun Tania Tidak Diam

Malam itu, Tania menangis. Ia duduk di depan layar laptop, menatap folder-folder berisi dokumentasi perjuangan para guru. Ia merasa lelah, tapi tidak ingin menyerah.

Kata-kata Bu Indah kembali menggaung dalam pikirannya:

“Jika suatu saat suara kalian terlalu kecil untuk didengar, berteriaklah dengan karya. Karena karya tak bisa dibungkam.”

Setelah menahan kecewa yang dalam, Tania akhirnya bangkit. Bukan karena marah semata, tapi karena rasa cinta yang besar pada pendidikan dan pada para guru yang terlalu lama dibiarkan berjuang sendiri. Ia mulai menyusun langkah, meskipun kecil, dengan hati yang penuh keyakinan bahwa perubahan selalu dimulai dari keberanian untuk bersuara.

Ia menggalang dukungan. Menghubungi LSM yang fokus pada isu pendidikan, menjalin koneksi dengan jaringan pers mahasiswa, serta berdiskusi dengan dosen-dosen yang selama ini dikenal peduli pada keadilan sosial. Di sela kuliah dan tugas akhir, ia menyempatkan diri membuat kelas daring bertema Seni Memandang Realita. Bukan sekadar kelas seni biasa, kelas ini menjadi ruang refleksi, tempat mahasiswa belajar memandang kenyataan sosial lewat karya. Di sanalah suara-suara terpendam mulai menemukan bentuk.

Tania juga menggagas pameran seni. Ia mengajak mahasiswa lintas jurusan, para pelukis muda, penulis puisi, dan fotografer kampus. Karya-karya mereka bicara tentang nasib guru honorer, ketimpangan akses pendidikan, dan harapan-harapan kecil di ruang kelas terpencil. Pameran itu digelar sederhana di lobi fakultas. Tapi dampaknya luar biasa. Pengunjung berdatangan, foto-fotonya tersebar di media sosial, dan diskusi kecil pun bermunculan.

Tak hanya itu, Tania pun menulis naskah teater dokumenter. Ia turun ke lapangan, mewawancarai guru-guru honorer yang masih mengabdi dengan gaji di bawah standar. Dari kisah-kisah itu, ia merangkai adegan yang menggugah tentang ibu guru yang harus berjalan lima kilometer setiap hari, tentang bapak guru yang menyambi sebagai tukang ojek, dan tentang anak-anak desa yang tetap semangat belajar meski bangku sekolahnya lapuk dimakan waktu.

Pementasan itu mengguncang. Penonton menangis, beberapa berdiri dan memberi tepuk tangan panjang. Dari sanalah, perlahan tapi pasti, gerakan Tania mulai mendapat tempat.

Forum-forum diskusi tumbuh. Tulisannya mulai dikutip media kampus, lalu menyebar ke media alternatif yang lebih besar. Mahasiswa dari jurusan teknik, ekonomi, bahkan dari fakultas kedokteran mulai membaca dan berdiskusi. Beberapa jurnalis muda yang sebelumnya hanya meliput peristiwa formal ikut menyelami isu pendidikan.

Tania tak menyangka bahwa suara kecil yang dulu hanya ia tuangkan di blog pribadi kini menggema lebih jauh.

Lalu suatu pagi yang biasa, ketika matahari belum sepenuhnya tinggi dan suara burung masih terdengar samar, Tania membuka email. Di antara ratusan notifikasi, satu pesan membuatnya terdiam lama:

“Terima kasih telah menyalakan kembali suara kami yang lama dipadamkan. Dari seorang guru honorer yang masih bertahan karena membaca tulisanmu.”

Tangis Tania pecah. Bukan karena sedih, tapi karena haru yang dalam. Ia tahu, perjuangannya belum selesai. Tapi ia juga tahu, sejak pagi itu, ia tak lagi sendiri.

Hari-hari berikutnya, Tania makin giat. Ia tetap menulis di blog, di media, di catatan kaki poster pameran. Ia terus bersuara di forum-forum mahasiswa, di podcast, bahkan dalam obrolan santai di kafe kampus. Bagi Tania, isu kesejahteraan guru bukan soal belas kasihan tetapi soal keadilan.

Ia menolak narasi bahwa guru-guru harus tabah tanpa suara, bahwa pengabdian artinya harus rela lapar. Tidak. Ia menegaskan bahwa menghargai guru bukan hanya soal memberi ucapan terima kasih di Hari Guru, tapi tentang menciptakan sistem yang adil, yang tak lagi menjadikan mereka pekerja tanpa kepastian.

Dari satu kelas daring, lahir banyak mata yang terbuka. Dari satu pameran, tumbuh banyak hati yang tergerak. Dan dari satu tulisan, muncul banyak suara yang ikut menggema.

Tania terus berjalan. Tak semua jalannya mulus. Kadang ia dicemooh, dianggap berlebihan, atau dituduh mencari sensasi. Tapi ia tetap melangkah karena yang ia perjuangkan bukan ketenaran, melainkan masa depan yang lebih layak bagi para pendidik bangsa.

Ia belajar bahwa perubahan tidak selalu datang lewat teriakan keras. Kadang, ia berawal dari bisikan tulus yang tak pernah padam, bahkan saat dunia memilih bungkam.

Ia terus menulis. Terus bersuara., salah satu tulisan Tania, yang menggambarkan keresahan dan tekadnya untuk mengangkat martabat guru honorer.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini