Beranda Opini Masihkah Menjadi Guru Itu Menarik?

Masihkah Menjadi Guru Itu Menarik?

0

Oleh: Cindy Fitriani

Dulu, menjadi guru adalah sebuah kebanggaan. Profesi ini dipandang sebagai panggilan mulia—bukan sekadar pekerjaan, melainkan jalan pengabdian. Guru bukan hanya pengajar, tetapi pembentuk manusia, penanam nilai, dan penjaga masa depan bangsa. Namun, seiring waktu berjalan, keagungan itu perlahan memudar di tengah kerasnya tuntutan hidup.

Di era yang serba cepat dan materialistis, profesi guru kerap dipandang sebelah mata. Gaji yang relatif kecil, beban kerja yang menumpuk, serta tekanan administratif yang kompleks membuat banyak guru harus berjuang jauh lebih keras untuk sekadar bertahan. Harapan yang dulu menyala terang kini kerap redup di tengah realitas.

Guru Hari Ini

Bagi sebagian orang, menjadi guru bukan sekadar profesi, melainkan panggilan hati. Ada kebahagiaan tersendiri saat melihat murid memahami pelajaran, saat semangat mereka tumbuh karena satu kalimat motivasi. Namun di balik senyum itu, tersimpan lelah yang jarang terlihat. Guru tidak hanya mendidik, tetapi juga menjadi orang tua kedua, motivator, bahkan konselor bagi murid-muridnya.

Sayangnya, sistem pendidikan yang semakin birokratis kerap menggerus esensi mengajar. Guru dituntut menyelesaikan laporan administratif, mengisi data daring, mengikuti pelatihan, hingga menghadapi sertifikasi dalam waktu yang tidak selalu manusiawi. Banyak guru merasa kini lebih sering berhadapan dengan formulir dibanding dengan muridnya sendiri.

Di sela tumpukan tugas itu, muncul pertanyaan sederhana: apa yang membuat guru masih bertahan? Jawabannya sering kali bukan soal gaji atau penghargaan, melainkan karena masih ada anak-anak yang membutuhkan mereka. Karena masih ada murid yang menunggu untuk diajar, dipandu, dan dipercaya.

“Pak, kenapa Bapak masih mau jadi guru?”

“Karena kamu masih di sini,” jawab sang guru sambil tersenyum.

Antara Idealisme dan Kenyataan

Bayangan tentang guru yang hidup tenang dan terhormat kini sering jauh dari kenyataan. Di banyak daerah, guru honorer mengabdi bertahun-tahun tanpa kepastian status dan dengan penghasilan yang belum layak. Ironisnya, mereka tetap hadir setiap pagi, menjalankan perannya dengan penuh tanggung jawab.

Di sisi lain, tuntutan masyarakat terhadap guru semakin tinggi. Kesalahan kecil kerap dibesarkan, sementara pengorbanan sering luput dari perhatian. Di era digital, berita negatif tentang guru menyebar lebih cepat daripada kisah ketulusan mereka.

Laporan ANTARA News tahun 2023 menyebutkan bahwa pemerintah terus berupaya meningkatkan kesejahteraan guru, namun pelaksanaannya belum merata. Banyak kebijakan yang baik di atas kertas, tetapi belum sepenuhnya dirasakan oleh para guru di lapangan.

Ketimpangan Profesi Guru di Papua

Ketimpangan paling nyata terlihat di Papua. Di wilayah ini, banyak guru tetap mengajar meski berbulan-bulan tidak menerima gaji. Sementara itu, sebagian ASN di wilayah perkotaan masih menerima gaji penuh setiap bulan.

Menurut Kompas.id (2 Mei 2023), sebanyak 910 guru PPPK di Papua belum menerima gaji sejak Januari 2023 karena persoalan administrasi. Laporan ANTARA News (12 Desember 2022) juga mencatat puluhan guru PPPK mendatangi DPRD karena honor yang tak kunjung dibayar.

Data BPS Papua tahun 2024 menunjukkan bahwa pendapatan rata-rata ASN di wilayah perkotaan bisa mencapai 4–6 kali lebih tinggi dibanding tenaga honorer di daerah pegunungan. Ketimpangan ini tidak hanya soal gaji, tetapi juga soal distribusi kualitas dan akses pendidikan.

Menjadi guru di Papua hari ini bukan sekadar profesi, melainkan perjuangan moral. Mereka tidak hanya melawan jarak dan keterbatasan, tetapi juga sistem yang belum sepenuhnya adil.

Menemukan Arti Baru dalam Mengajar

Di tengah berbagai tantangan, secercah harapan masih tumbuh. Banyak guru muda mulai berinovasi melalui teknologi, membuat konten edukasi, dan menciptakan pembelajaran yang lebih menyenangkan. Ini menunjukkan bahwa semangat guru belum benar-benar padam.

Mungkin kini, menjadi guru bukan lagi soal gelar “pahlawan tanpa tanda jasa”, tetapi tentang menemukan makna baru: menjadi pendidik yang berdaya, dihargai, dan bahagia. Guru mungkin lelah, tetapi tanpa mereka, dunia akan kehilangan arah. Dari merekalah cahaya masa depan bangsa bermula.

*)Mahasiswa Univesitas Nurul Huda

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini