Beranda Berita Dewi Khalawatul Pimpin IPPNU Pekalongan, Tantangan Generasi Digital Menanti

Dewi Khalawatul Pimpin IPPNU Pekalongan, Tantangan Generasi Digital Menanti

0

Pekalongan — Dewi Khalawatul Widati terpilih sebagai Ketua Mandataris Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (PC IPPNU) Kabupaten Pekalongan masa khidmat 2026–2028 dalam Konferensi Cabang (Konfercab) XXIII yang digelar di MTs Syarif Hidayah Doro, Ahad (20/9/2026).

Konfercab XXIII PC IPPNU Kabupaten Pekalongan mengusung tema “Navigating the Future of Organization” dan berlangsung selama dua hari, 19–20 September 2026. Kegiatan tersebut diikuti oleh perwakilan Pimpinan Anak Cabang (PAC), Pimpinan Ranting (PR), dan Pimpinan Komisariat (PK) IPPNU se-Kabupaten Pekalongan.

Terpilihnya Dewi Khalawatul Widati menjadi bagian penting dari proses regenerasi kepemimpinan di tubuh IPPNU Kabupaten Pekalongan. Pergantian kepemimpinan tersebut sekaligus menjadi momentum bagi organisasi pelajar putri NU untuk merumuskan arah gerakan dan program kerja yang relevan dengan perkembangan generasi muda.

Dalam pembukaan Konfercab, Ketua PC IPPNU Kabupaten Pekalongan periode sebelumnya, Riski Vitrinova, menekankan pentingnya menjaga marwah organisasi melalui sikap, perilaku, adab, dan etika kader. Menurutnya, menjadi bagian dari organisasi tidak cukup hanya ditunjukkan melalui atribut atau seragam, tetapi harus tercermin dalam perilaku sehari-hari.

“Dalam hal etika, percaya tidak percaya ketika kita dimandatkan sebagai ketua atau apapun itu kita harus selalu menjaga marwah organisasi. Di setiap sambutan saya selalu menyampaikan, marwah organisasi itu tidak hanya ditentukan dari panjenengan semua yang tidak memakai seragam organisasi ketika bepergian keluar atau ketika berboncengan dengan, mohon maaf, IPNU, tapi marwah organisasi adalah ketika panjenengan juga mampu menjaga marwah panjenengan semua,” ujar Riski.

Riski mengakui bahwa salah satu tantangan yang masih dihadapi PC IPPNU Kabupaten Pekalongan selama masa kepemimpinannya adalah persoalan adab dan etika sebagian kader. Ia berharap kepemimpinan berikutnya dapat melakukan perbaikan sekaligus membangun kader IPPNU yang semakin mampu menjaga nama baik diri maupun organisasi.

“Kalau saya boleh menyampaikan, tantangan kita di periode ini sebenarnya bukan sesuatu yang muluk-muluk. Tantangan kita adalah bagaimana adab dan etika kader-kader IPPNU di Kabupaten Pekalongan ini bisa kita perbaiki,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua PW IPPNU Jawa Tengah Dwi Sangita menilai Konfercab tidak hanya menjadi forum pergantian kepemimpinan di tingkat cabang, tetapi juga menjadi ruang untuk menentukan arah masa depan organisasi. Menurutnya, perkembangan teknologi dan media sosial menjadi salah satu tantangan sekaligus peluang yang harus direspons oleh IPPNU.

Dwi menilai perubahan pola komunikasi generasi Z membuat organisasi perlu melakukan inovasi agar tetap relevan bagi pelajar NU. Karena itu, ia mendorong peserta Konfercab untuk merumuskan program kerja yang mampu menjawab kebutuhan generasi muda dengan memanfaatkan media sosial sebagai sarana komunikasi dan pengembangan organisasi.

“Momentum Konfercab ini bukan hanya di tingkatan kabupaten atau kota saja, tetapi siapa saja yang nanti akan memimpin dan bagaimana kita semua akan membawa organisasi IPPNU di masa yang akan datang,” tutur Dwi.

Ia juga mengingatkan kader IPPNU agar memiliki kemampuan memilah informasi di tengah derasnya arus informasi digital. Menurutnya, perkembangan media sosial membuat informasi dapat diterima masyarakat dengan sangat cepat sehingga kader pelajar NU harus memiliki kecakapan dan sikap kritis dalam menyikapinya.

“Kami sangat berharap jajaran PR, PAC ataupun PK IPPNU yang ada di sini benar-benar pintar dan selektif dalam menerima segala informasi-informasi yang beredar,” ujarnya.

Selain kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi, Dwi berharap IPPNU dapat menjadi organisasi yang aman, menarik, dan saling mendukung bagi kader perempuan. Ia juga menekankan pentingnya membangun ruang organisasi yang mampu memberikan rasa aman di tengah berbagai persoalan kekerasan seksual yang masih menjadi perhatian di masyarakat.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Ketua PCNU Kabupaten Pekalongan KH Mustajirin memberikan pesan kepada kader IPPNU agar menjadikan setiap pengalaman sebagai proses pembelajaran. Ia mengingatkan bahwa kesulitan yang dihadapi dalam berorganisasi merupakan bagian dari proses menuju kematangan.

“Inna ma’al usri yusro, sesulit apapun pasti akan ada kemudahan. Ini janji Allah,” tutur KH Mustajirin.

Menurutnya, kader yang baik bukan hanya mereka yang mampu belajar dari pengalaman pribadi, tetapi juga mampu mengambil pelajaran dari kesalahan orang lain. Ia membedakan antara orang pintar dan orang bijak. Orang pintar, menurutnya, adalah mereka yang mau belajar dari kesalahannya sendiri, sedangkan orang bijak mampu belajar dari kesalahan orang lain.

“Saya mohon anak-anak IPPNU itu kalau ada sesuatu yang salah kita benahi, kalau ada orang lain yang salah kita ambil pelajaran, itu namanya bijak. Kalau sudah pintar dan bijak menjadi satu, insyaallah akan menjadi orang-orang yang hebat dunia akhirat,” pesannya.

KH Mustajirin juga mendorong kader IPPNU untuk memiliki cita-cita tinggi dan berani melangkah untuk mewujudkannya. Ia berharap kader NU, termasuk IPPNU, dapat menjadi generasi yang memiliki banyak kemampuan dan prestasi sehingga mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Berfikirlah untuk menjadi orang yang hebat, mempunyai prestasi-prestasi yang menonjol. Kalau bisa kader NU itu multitalenta, semua dilakukan sehingga tidak ada waktu yang terbuang,” ujarnya.

Ia menutup pesannya dengan mengingatkan pentingnya menjadi manusia yang memberikan manfaat bagi sesama. Menurutnya, ukuran keberhasilan seorang kader tidak hanya terletak pada jabatan atau prestasi pribadi, tetapi juga pada seberapa besar manfaat yang diberikan kepada orang lain.

“Khoirunnas anfauhun linnas. Selama saya masih hidup, selama darah saya masih mengalir, pengene khidmah ben dianggep santrine Mbah Hasyim,” pungkasnya.

Konfercab XXIII PC IPPNU Kabupaten Pekalongan kemudian menetapkan Dewi Khalawatul Widati sebagai Ketua Mandataris PC IPPNU Kabupaten Pekalongan masa khidmat 2026–2028. Kepemimpinan baru tersebut diharapkan mampu melanjutkan kaderisasi sekaligus menghadirkan inovasi organisasi yang sesuai dengan kebutuhan pelajar putri NU di tengah perubahan sosial dan perkembangan teknologi digital.

Pengirim: Khayatun Nufus
Editor: K. Anwar

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini