Pekalongan, cakapmedia.com
Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) UIN KH. Abdurrahman Wahid Pekalongan mengadakan kegiatan Tadarus Intelektual, dengan agenda diskusi tentang perubahan iklim, keadilan ekologi dan bedah surat al-Alaq ayat 1-5 serta buka puasa bertempat di gedung Student Center UIN Pekalongan, Senin (01/04/2024).
Ketua DEMA UIN Gus Dur Wisnu Akbar Prihantala mengatakan, tujuan kegiatan tadarus intelektual adalah untuk menyadarkan mahasiswa akan kerusakan alam yang diakibatkan oleh ulah manusia itu sendiri dan untuk membahas langkah konkret yang harus dilakukan untuk menjaga bumi dari kerusakannya.
“Bumi sebagai rumah dan segala isinya merupakan makhluk tuhan yang hidup beriringan dengan manusia. Manusia sejatinya adalah makhluk tuhan penyandang identitas sebagai khalifatul fil ardh,”tuturnya.
Oleh karenanya lanjutnya, manusia yang dikatakan sebagai pemimpin hendaknya mampu mengatur serta mewarisi peradaban dalam konteks kesejahteraan kehidupan sosial. Melalui kacamata iqra’, manusia hendaknya mampu membaca realitas sosial melalui berbagai sudut pandang terutama bumi sebagai tempat tinggal.
“Segala kerusakan dan perubahan tempat tinggal manusia yang hingga sekarang mengalami degradasi kesuburan perlu ditantang sebagai tantangan peradaban. Yaitu perubahan iklim dalam berbicara keadilan ekologis bumi sebagai tempat tinggal makhluk-Nya. Pekalongan khususnya sebagai rumah kita bersama perlu perhatian lebih,”imbuhnya.
Narasumber pertama Muhammad Ikhsanurrizqi menyampaikan, Surat Al-Alaq adalah wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw di Gua Hira. Makna kata iqra’ lebih luas dari hanya sekadar membaca.
“Sebagai manusia yang sempurna yang dapat melihat, mendengar, merasakan kita harus bisa membaca, memahami, menganalisis dan mengimplementasikan apa yang kita tahu. Nabi saw mengatakan ‘barangsiapa yang mau mengembangkan keilmuannya maka Allah akan memberikan pengetahuan yang tidak ia ketahui’.” ucapnya.
Aktivis desa Abdul Jalil selaku narasumber kedua menambahkan, berkaitan dengan surat al-Alaq yaitu kita harus bernalar kritis, bergerak apabila ada bencana, bermanfaat untuk orang lain.
“Mahasiswa disebut sebagai penerus bangsa harus punya dampak positif minimal bagi diri sendiri dan maksimal untuk orang banyak,”jelasnya.
Kegiatan yang mengusung tema ‘Membangun Nalar Kritis Berlandaskan Nilai-Nilai Qur’ani’ menghadirkan lima narasumber yaitu Adetya Pramandera dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jawa Tengah, tokoh agama Gus Mahmud Mansur, aktivis desa Abdul Jalil, aktivis muda NU M Izzul Haq, dan santri milenial Ikhsanurrizqi. Kegiatan ini dimulai sejak sore hari, jeda sejenak untuk buka puasa dan tarawih, lalu dilanjutkan kembali selepas tarawih. Mahasiswa UIN Gus Dur Pekalongan menjadi peserta dalam kegiatan ini.
Pengirim: Khayatun Nufus
Editor: Kang Anwar





