Pekalongan – Adwika (Asosiasi Duta Wisata) Kota Pekalongan menggelar acara “Wahana Budaya” Jelajah Kawasan Budaya Jetayu yang bertempat di Aula Museum Batik Pekalongan, Minggu (9/6/2024).
“Wahana Budaya” jelajah kawasan budaya Jetayu merupakan sebuah langkah yang diinisiasi generasi muda khususnya para pelajar untuk mengubah sebuah persepsi wisata budaya yang terkesan membosankan menjadi kegiatan ruang gembira.
Adwika Kota Pekalongan berkolaborasi dengan TIC (Tourism Information Centre) berupaya untuk memperkenalkan kawasan Jetayu yang kental dengan peninggalan budaya dan sejarahnya. Kegiatan ini diikuti oleh sejumlah 70 peserta yang terdiri kalangan pelajar dan masyarakat umum.
Ketua Adwika Kota Pekalongan Ilyan Niam menyampaikan bahwa membangun kearifan budaya tidak harus selalu dengan hal yang muluk-muluk, cukup kita mempelajari sedikit demi sedikit lalu kita kembangkan apa yang sesuai dengan selera zaman.
“Yang terpenting kita punya semangat dan mau belajar tentang kebudayaan serta kearifan lokal,”ujarnya.
Kegiatan ini dimulai dengan pengenalan budaya khas Pekalongan dengan pemaparan materi dari budayawan Pekalongan Ribut Achwandi. Kemudian peserta diajak untuk berkeliling spot-spot heritage kawasan budaya Jetayu diantaranya adalah Museum Batik Pekalongan, Mylpaal Titik KM 0, Gedung Karesidenan, serta Kantor Pos Pekalongan.
Rangkaian kegiatan ini ditutup dengan penguatan literasi oleh M. Dirhamsyah selaku sejarawan Kota Pekalongan di Aula Museum Batik Pekalongan.
Dalam hal ini, “Wahana Budaya” tidak hanya disuguhkan secara monoton, tetapi peserta diajak dan dilibatkan untuk terjun langsung menjenguk peninggalan sejarah yang ada.
Salah satu peserta Wahana Budaya, Kamelia menyampaikan bahwa jelajah kawasan budaya Jetayu sangat asyik dan menyenangkan, karena disana kita dapat mengetahui sejarah Kota Pekalongan yang mungkin jarang diceritakan di bangku sekolah.
“Kita juga diajak ke tempat bersejarah yang baru aku kunjungi di daerah Jetayu,”ucapnya.
Melalui kegiatan ini, Adwika Kota Pekalongan mengajak kepada pelajar khususnya Kota Pekalongan untuk terus berkreasi dengan melestarikan peninggalan nenek moyang. Kegiatan ini diharapkan dapat menimbulkan pergeseran paradigma yang mampu memantik kesadaran pada perlindungan budaya.
Pengirim: Zhahira Avriel
Editor: Kang Anwar





