Desa Karangjompo, Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan (07/08/2024) – Pengelolaan sampah merupakan permasalahan lingkungan yang paling mendesak pada saat ini. Metode pengolahan sampah yang efektif amat diperlukan. Terkhusus untuk sampah organik. Sampah ini sangat mudah membusuk, sehingga menimbulkan masalah bau dan juga polusi.
Penggunaan maggot untuk mengolah sampah organik adalah salah satu solusi kreatif yang sedang dikembangkan. Selaku mahasiswa KKN Tim II UNDIP 2023/2024, Nabila (21) berkesempatan untuk mengenalkan pengolahan sampah organik menggunakan maggot. Edukasi yang disiapkan berisi siklus hidup maggot, alat dan bahan yang diperlukan untuk kegiatan budidaya, serta perawatan maggot.
Maggot sendiri merupakan larva dari lalat larva dari lalat BSF (Black Soldier Fly). Maggot, baik yang dewasa maupun berbentuk larva tidak dianggap sebagai hama ataupun vektor penyakit. Larva dari lalat BSF ini justru merupakan pengurai yang baik untuk menghancurkan substrat organik dan mengembalikan nutrisi ke tanah. Selain itu,maggot juga dapat digunakan untuk budidaya, pakan ternak, dan nutrisi manusia.
Hidup maggot melewati beberapa siklus selama kurang lebih 40 hari yang berupa :
- Fase Telur
Setelah dilahirkan, telur lalat BSF akan menetas setelah 4-5 hari. - Fase Larva
Telur yang telah menetas akan melahirkan larva atau maggot. Ketika di tahap ini, larva lalat BSF akan melahap segala macam bahan organik dengan cepat. SIklus maggot bertahan selama 7-14 hari. - Fase Pupa
Maggot yang semakin dewasa akan memasuki tahap pupa. Pada saat ini, maggot akan membentuk cangkang yang keras dan kemudian berevolusi menjadi lalat dewasa. Tahap pupa akan berlangsung selama 30 hari - Fase Dewasa
Lalat dewasa akan muncul dari pupa, dan siklus ini akan dimulai dengan proses reproduksi.
Untuk melakukan budidaya maggot, terdapat alat dan bahan yang perlu disiapkan yaitu, biopond, kendang lalat BSF, tempat penetasan telur BSF, dan substrat. Biopond merupakan wadah bagi maggot yang dapat berupa kayu atau wadah plastik. Kandang lalat BSF merupakan tempat lalat BSF bereproduksi yang terbuat dari rangka kayu/ bambu dan diselimuti jaring-jaring. Tempat penetasan telur terbuat dari kardus, triplek, atau kotak plastik. Substrat merupakan bahan organik yang menjadi makanan untuk maggot.
Supaya budidaya maggot dapat berjalan dengan sukses, ada beberapa langkah perawatan yang perlu dilakukan yaitu :
- Kebersihan
Sisa makanan yang tidak termakan oleh maggot harus dibuang untuk mencegah timbulnya bau dan kontaminasi. - Kelembaban
Kelembaban substrat dapat diatur dengan menyemprotkan air secara berkala. - Ventilasi
Dengan sirkulasi udara yang baik, pertumbuhan maggot akan maksimal dan mencegah kondisi yang terlalu lembab. - Pengawasan
Secara teratur periksa kondisi maggot untuk memastikan bahwa tidak ada masalah kesehatan atau infestasi hama. - Pemindahan
- Setelah maggot mencapai ukuran yang tepat, pindahkan mereka ke saringan untuk membedakannya dari substrat. Maggot yang sudah dipanen dapat diberikan kepada ternak untuk dimakan atau digunakan untuk membuat kompos.
Maggot merupakan solusi pengolahan sampah organik yang inovatif. Dengan adanya maggot, timbulan sampah organik dapat berkurang serta dapat menaikkan nilai ekonomi bagi masyarakat sekitar. Diharapkan bahwa edukasi terkait budidaya maggot di Desa Karangjompo akan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pengelolaan sampah.
Penulis: Nabila Salma Putri (21080121140119)
Jurusan/Fakultas: Teknik Lingkungan/Fakultas Teknik
DPL: Nenik Woyanti, S.E., M.Si





