Beranda Opini Pemilu dalam Genggam AI: Potensi Ekonomi Kreatif di Era 5.0

Pemilu dalam Genggam AI: Potensi Ekonomi Kreatif di Era 5.0

0

Oleh: Mochamad Yusuf (Mahasiswa Magister Ekonomi Syariah UIN Gus Dur)

Membangun Image Politik

Akhir-akhir ini sering diperlihatkan fenomena poster kartun yang bergambar wajah para politisi untuk menarik hati para pemilih. Politik adalah perkara memunculkan citra yang ingin dipersepsikan kepada publik yang mungkin berbeda dari penampakan asli para politis. Citra dibentuk untuk memoles pesona untuk menciptakan image politik yang kekinian. Saat ini pembentukan image masih menjadi strategi dominan yang didorong politisi untuk meningkatkan kansnya agar terpilih ke jabatan politik. Wajah yang ekspresif dan gestur yang menarik, didukung oleh pencahayaan yang pas, setting latar yang sesuai, hingga tampilan mode pakaian yang diatur oleh tim akan menciptakan foto atau video yang mampu menyebarkan selera, warna, bahkan gerakan untuk mendukung kandidat. Lantas bagaimana pembentukan image politik dengan kehadiran artificial intelligence (AI) ini?

Bayangan Politik dalam Genggaman AI

Penggunaan AI dalam kampanye politik telah mendorong kanal-kanal baru untuk bertukar informasi dan saling berkomunikasi di dunia maya. Dalam politik praktis, penggunaan AI telah memberikan warna baru dalam kampanye politik. Penggunaan AI dalam pemilu di Indonesia sudah bermunculan. Teknologi AI juga dikerahkan untuk memoles citra para politisi. Setidak-tidaknya, strategi ini didominasi oleh penggunaan GenAI dan teknologi deepfake. Salah satu kandidat presiden yang gencar berkampanye menggunakan teknologi AI adalah kubu Prabowo-Gibran. Pasangan calon ini meluncurkan foto dan video AI yang merepresentasikan muka Prabowo dan Gibran yang serupa dengan anak kecil. Alhasil, foto dan video AI ini semakin menggaungkan citra “gemoy” atau “gemas” pada figur Prabowo, berbanding terbalik dari citra Prabowo sebelumnya yang tegas dan berwibawa.

Hal tersebut juga diikuti oleh kubu Anies-Cak Imin dan Ganjar-Mahfud yang juga masih menggunakan teknologi AI ini. Kedua pasangan tersebut dibuatkan karakter AI nya oleh netizen dengan berkarakter anak kecil dan juga menaiki kuda lengkap dengan jubah layaknya akan berperang. Selain itu, kubu Ganjar-Mahfud juga meluncurkan aplikasi berbasis AI seperti “Ganjar Twin AI” untuk membantu pengguna membedah visi-misi serta berdiskusi dengan AI yang menirukan gaya bicara Ganjar.

Pemilu dan AI. Dokumentasi : The Conversation.id

AI untuk Memoles Citra : Apa yang Perlu Kita Ketahui?

Komunikasi politik di era kontemporer mengandalkan kekuatan visual daripada teks. Visual dapat membangun emosi publik, dan membangun persona politik. Sehingga gambar tersebut memiliki kuasa untuk mempengaruhi publik, terlebih publik yang tidak familiar dengan kandidat. Euforia penggunaan AI adalah bentuk konsekuensi dari kemajuan teknologi digital. Kehadiran AI telah memudahkan manipulasi figur politik agar sesuai dengan keinginan publik. Pada akhirnya kehadiran AI dalam kampanye politik tidak banyak mengubah lanskap media dan demokrasi di Indonesia. Ia berjalan beriringan. AI hanya menambah variasi alat kampanye politik dengan menghasilkan konten visual yang murah dan cepat sesuai perilaku pengguna media sosial, serta dapat menarget individu dengan lebih tepat sasaran. Mengikuti pendekatan institusionalis, gelombang baru perubahan teknologi tidak serta merta mengubah struktur negara demokratis. Sebaliknya, tentu akan ada proses reformasi dan pembaharuan secara bertahap, baik dari aspek legal formal maupun aspek sosial, akibat proliferasi teknologi digital tersebut. Namun yang pasti, kehadiran teknologi digital dapat merusak sistem demokrasi kita terutama apabila teknologi tersebut bergerak mengikuti keinginan pasar daripada menciptakan warga negara kritis.

Dampak pemakaian teknologi kecerdasan buatan dalam kampanye politik ialah munculnya konten gimik yang masif. Konten itu dipakai untuk memoles citra kandidat. Tim Prabowo Subianto yang menggunakan figur avatar pria dengan pipi gembil hasil kerja mesin kecerdasan buatan mampu menarik dukungan anak muda. Survei exit poll yang dikerjakan Indikator Politik Indonesia mencatat 71 persen responden dari generasi Z atau kurang dari 27 tahun mencoblos Prabowo. Avatar pria gemoy yang dipakai tim Prabowo merupakan kampanye disanitasi. Artinya, kampanye manipulatif tanpa membuat berita palsu. Di sini, teknologi AI dipakai untuk membersihkan wacana.

Melalui penggunaan AI, para kandidat dapat membuat kampanye yang lebih efektif, efisien, dan menarik bagi pemilih, khususnya generasi muda yang memiliki karakteristik dan preferensi yang berbeda dari generasi sebelumnya. Penggunaan AI dalam kampanye pemilu 2024 di Indonesia merupakan bukti kreativitas dan kontribusi generasi muda dalam membuat konten yang menarik, informatif, serta persuasif. Menurut survey yang dilakukan oleh Google Indonesia, 43% pengguna AI di Indonesia adalah generasi muda (Gen Z).

Lebih lanjut lagi, di tengah arus kecepatan teknologi hari ini membuat politisi berlomba-lomba menceburkan diri membangun kekuatan baru di ranah digital. Mereka kemudian masuk ke berbagai platform media sosial yang ada demi mendapatkan simpati anak-anak muda melek teknologi atau generasi dewasa yang baru beradaptasi dengan teknologi. Sehingga dalam hal ini sangat diperlukan kehati-hatian dan  langkah yang bijak khususnya generasi Z dan millennial dalam menerima pesan. Generasi muda Indonesia merupakan kekuatan tersendiri yang harus direbut suaranya di dalam kontestasi pemilihan.  Selain itu juga, jelang Pemilu 2024 akan banyak bertebaran informasi hoaks, mulai dari berita bohong, hasutan, ujaran kebencian, dan lainnya, sehingga diperlukan kesantunan di dalam berpolitik di media sosial terutama bagi anak-anak muda.

AI, Demokrasi, dan Potensi Ekonomi

Pada pemilu 2024, selain harus dapat memenangkan suara rakyat para kandidat harus mampu bersaing di era perkembangan teknologi yang semakin pesat. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) sebagai media kampanye pemilu. Pemanfaatan AI sebagai media kampanye dapat menjadi sarana untuk memperkuat demokrasi, bukan untuk melemahkannya. AI dalam kampanye pemilu 2024 di Indonesia menjadi sebuah fenomena yang menarik dan berbeda dari pemilu-pemilu periode sebelumnya. AI generatif dapat menjadi bukti kreativitas dan kontribusi generasi muda Indonesia dalam mengembangkan teknologi dan demokrasi. AI juga adalah sebuah teknologi yang kompleks, dinamis, dan penuh potensi. Adanya pemanfaatan unsur AI dalam kampanye pemilu wajib dilakukan dengan bijak, etis, dan bertanggung jawab. Penggunaan AI dalam kampanye pemilu harus menjadi peluang.

Kehadiran Artificial Intelligence (AI) diprediksi akan memberikan terobosan dan perubahan di berbagai sektor, tidak terkecuali sektor ekonomi kreatif di Indonesia. Masalahnya, tidak sedikit pelaku industri kreatif yang mengkhawatirkan kehadiran Artificial Intelligence (AI). Meski dikabarkan perkembangan AI dapat memberikan banyak dampak positif, namun tidak sedikit yang beranggapan bahwa efek dari teknologi kecerdasan buatan ini akan merugikan sektor ekonomi kreatif, karena berisiko menggantikan kerja kreatif manusia dalam menciptakan karya. Lantas, benarkah perkembangan teknologi dan kehadiran Artificial Intelligence akan “membunuh” industri kreatif di Indonesia? Atau, mungkinkah teknologi AI dapat memberikan peluang yang menguntungkan bagi para pelaku industri kreatif?

Ekonomi Kreatif

Perkembangan teknologi dan kehadiran kecerdasan buatan tidak serta merta membunuh para pelaku industri kreatif. Informasi dari kecerdasan buatan tidak bisa langsung diterima sebagai sumber utama. Kecerdasan buatan mengekstrak semua informasi dari berbagai sumber. Baik sumber yang terpercaya maupun yang tidak terpercaya. Selain itu, kreativitas AI tidak seluas kreativitas manusia, karena AI tidak memiliki kebebasan eksplorasi dan pemikiran konseptual yang sama dengan manusia dalam menciptakan ide-ide baru. Artinya, AI akan memberikan banyak kesempatan untuk menciptakan produk kreatif, jika digunakan dan diterapkan dengan bijak. Selain itu, AI dan kecerdasan manusia sangat berbeda. Kehadiran AI diyakini akan mengubah lanskap industri menjadi lebih inklusif, karena kecerdasan buatan dapat mendemokratisasi industri kreatif, memberikan kesempatan yang lebih luas kepada seluruh lapisan masyarakat untuk menciptakan produk yang imajinatif, artistik, inovatif, dan bernilai tinggi. Salah satu contohnya adalah penggunaan AI dalam subsektor film.

Alih-alih merugikan, AI dapat membantu menyederhanakan proses produksi film. Kecerdasan buatan berperan dalam menciptakan efek visual, animasi, dan karakter digital yang realistis dan menakjubkan. Yang lebih menakjubkan lagi, menurut Outlook Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia 2023/2024, sebagaimana dilansir dari laman resmi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), AI berperan dalam setiap rantai industri film. Mulai dari pemilihan aktor, komposisi musik, editing film hingga memasuki tahap promosi film. Uniknya, AI juga dapat digunakan untuk memperkirakan nilai box office sebuah film berdasarkan aktor yang menjadi pemeran utamanya. Meski bermanfaat, kecerdasan buatan dipandang sebagai ancaman bagi para desainer grafis, yang berperan dalam subsektor komunikasi visual dan desain produk. Namun anggapan ini tidak sepenuhnya benar. Desain produk adalah proses penciptaan sebuah produk yang menggabungkan unsur fungsi dengan estetika, guna menambah nilai. Itulah mengapa subsektor desain produk menjadi penting dalam menentukan kesuksesan dan kegagalan sebuah bisnis.

Kabar baiknya, kehadiran AI dapat digunakan untuk mengotomatisasi sebagian besar proses produksi di sektor industri kreatif, termasuk di subsektor desain produk. Paling tidak, kehadiran kecerdasan buatan dapat membantu para desainer produk bekerja lebih cepat dan menghemat waktu, sehingga AI dapat meningkatkan produktivitas kerja. Selain itu, teknologi AI dapat membantu para pelaku ekonomi kreatif dalam menciptakan desain produk yang inovatif. Hal ini tidak diragukan lagi, karena sifat AI yang dapat membuat model simulasi untuk memprediksi respon konsumen terhadap produk yang diluncurkan. Namun, para pelaku industri kreatif tidak boleh bersantai dan menurunkan kewaspadaannya. Meski sudah mendapatkan bantuan, para pelaku industri kreatif harus tetap mengembangkan ide-ide baru dan inovatif untuk menciptakan sebuah produk. Dengan begitu, para pelaku industri kreatif dapat menciptakan desain produk yang kompetitif dan tepat sasaran.

Tantangan dan Penataan

Menjamurnya teknologi kecerdasan buatan untuk kampanye politik belum diikuti dengan pembuatan regulasi. Satu-satunya peraturan soal AI adalah surat edaran yang dibuat Kementerian Komunikasi dan Informatika mengenai etika pemanfaatan kecerdasan buatan. Melalui surat edaran cukup kuat untuk mengawasi penggunaan AI untuk kepentingan kampanye politik. Semua pihak didorong memperketat kewajiban politikus untuk membuat pernyataan ke publik bahwa konten mereka diproduksi oleh mesin kecerdasan buatan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini