Sepasang sepatu itu telah menjalani kesetiaannya bertahun-tahun, sampai warnanya sulit dikenali lagi. Hitam, cokelat, atau abu-abu? Pada beberapa bagian, kulit sepatu itu terkelupas. Ada pula yang sobek. Itu semua tanda kesetiaan sepasang sepatu yang selalu melindungi sepasang kaki yang dikasihi. Di keramaian maupun kesepian.

Dengan sepatu itu Rama dapat mencukupi kebutuhan dapur juga kebutuhan-kebutuhan lain. Sepatu itu pula yang membuat bibir istrinya melengkung bagai bulan muda, dihias gemintang di sisi kanan kiri. Namun, sesekali pula ada tetesan hujan yang merembes pada pipinya. Betapa Lengkap kenangan yang ditorehkan.

“Mungkin sudah waktunya diganti,” batin Martha.

Ucap batin itu rupanya membimbing langkah Martha menuju toko sepatu. Tak jauh dari rumah. Hanya beberapa ratus meter. Niatnya sekadar mengganti bukan membuang. Apalagi menghapus kenangan yang terjejak di sepanjang perjalanan. Ia hanya ingin mengistirahatkan sepasang sepatu itu. Membuatnya punya kesempatan untuk menikmati kenangan yang telah ditorehkan.

Di depan etalase, bola mata Martha sibuk mencermati sepatu-sepatu yang berjajar rapi. Mereka seolah berbicara, merayu Martha. Tetapi, ia tak mau buru-buru menjatuhkan pilihan.

Sekali lagi, dipandangnya satu per satu. Sebentar menerawang. Dibayangkan dalam-dalam. Bentuk betis, kaki, tubuh, juga wajah bahkan potongan rambut lelaki yang ia cintai. Juga sepatu bututnya.

“Memang nggak gampang memilih itu,” suara ramah laki-laki separuh baya itu membuat tubuh Martha terperanjat.

“Oh Pak Kasim. Bikin kaget saja,” seloroh Martha membalas keramahan laki-laki pemilik toko itu.

Senyum lebar lelaki itu membuat kedua matanya menyempit. Hampir memejam. Lalu lembut lelaki itu bertanya, “Untuk Martha?”

Martha menggeleng.

“Oh, saya tahu. Hari ini pasti hari spesial bagi suamimu. Ya kan?” kata Pak Kasim diselingi tawa kecil. “Ah, mari ikut saya. Ada yang spesial untuk suamimu. Dia pasti suka!”

Laki-laki itu kemudian membimbing Martha menuju salah satu lorong etalase. Tampak di sana beberapa model sepatu yang elegan. Martha memandanginya satu per satu. Ia takjub. Sementara lelaki paruh baya itu sibuk memanjat anak tangga, mencari sepatu yang dimaksudnya.

“Ini. Ini yang dia suka,” kata laki-laki itu sembari menyodorkan sepatu itu kepada Martha.

Ketakjuban Martha memuncak manakala sepasang sepatu itu di tangannya. Berkali-kali ia membolak-balik sepatu itu dengan tatapan yang penuh kekaguman. “Bapak kok tahu?” tanya Martha penasaran.

“Saya kenal betul Rama. Sebelum toko sepatu ini berdiri, usaha toko roti kami bangkrut. Mas Rama datang kepada kami. Melatih kami membikin sepatu. Jadilah, seperti sekarang ini,” tutur Pak Kasim.

“Suami saya tak pernah cerita?” seloroh Martha.

“Mungkin tak mau menceritakannya. Toh, tak ada gunanya juga diceritakan,” seloroh Pak Kasim. “Nah, sepatu ini khusus saya bikin untuk suamimu. Untuk kenang-kenangan. Terimalah,” pinta Pak Kasim.

Martha melirik tempelan stiker. Ia cermati deretan angka yang tercantum pada stiker itu. Rp 2.500.000.

Pak Kasim pura-pura tak mengetahui gelagat Martha. Ia sibuk mencari tas untuk membungkus sepatu itu. Lalu, ia sodorkan tas itu dan membukanya untuk Martha. “Sini,” ucap Pak Kasim sambil mengasungkan tangannya. Meminta sepatu itu.

“Tapi, Pak….” ucap Martha ragu-ragu.

“Sudah, jangan dipikirkan. Ini kado untuk suamimu. Ya?”

Martha tak bisa menolak. Tak juga bisa menerima pemberian itu. Ada beban berat dalam benaknya. Walau, ia juga bangga pada suaminya. Tetapi, itu bukan alasan untuk begitu saja menerima pemberian Pak Kasim. Sesulit ia mengungkapkan keberatan itu pada Pak Kasim.

“Sudah lama saya ingin mengantarkan sepatu ini ke rumah. Tetapi, saya takut kalau itu menyinggung perasaan Mas Rama. Nah, kebetulan hari ini kamu datang kemari,” jelas laki-laki itu.

“Tapi maaf, saya…,” belum selesai dengan ucapannya itu, perkataan Martha tiba-tiba dipotong Pak Kasim.

“Saya paham. Martha ingin memberi kado istimewa dari Martha sendiri. Anggap saja ini pemberian untuk kamu. Jangan ditolak. Pamali,” ucap Pak Kasim lembut.

Belum sempat Martha menyampaikan rasa terima kasih, dering telepon genggam menyela.

“Halo, dengan Ibu Martha?” suara dari ujung telepon di seberang.

“Iya, saya Martha,” jawab Martha.

“Maaf, ini dari RSUD.”

“RSUD? Ada apa ya, mbak?”

“Kami bermaksud mengabarkan, suami Ibu saat ini di RSUD. Jika tidak keberatan, mohon Ibu segera datang kemari.”

“Ada apa dengan suami saya, mbak? Kenapa dengan suami saya?”

“Maaf Bu, mungkin akan lebih jelas jika Ibu datang langsung ke RSUD.”

“Baik, saya ke sana.”

“Kami tunggu, ya Bu. Terima kasih, selamat siang.”

Tanpa menunggu lama, telepon itu ditutup.

Di ruang bercat serba putih Martha duduk menunggu. Sementara di luar, di lorong-lorong rumah sakit, penuh sesak suara tangis yang melengking. Suaranya membentur dinding-dinding hingga menghasilkan gema. Suara itu membuat perih hati. Getarannya memenuhi sesak rongga dada Martha.

Martha berusaha tenang. Walau detak jantung tak menentu. Pikiran-pikiran buruknya bergentayangan. Berloncatan menggodanya. Sekuat-kuatnya, ia merapal doa dalam hati.

“Ibu Marta?” sapa seorang lelaki berbaju serba putih.

Martha bangkit. Menyambut uluran tangan dokter muda itu. Lalu, menghela napas. “Bagaimana keadaan suami saya, dok?” tanya Martha.

Dokter muda itu menjawab dengan nada suaranya yang datar dan tenang, “Suami Ibu baik-baik saja. Tetapi, ada hal yang mesti kami lakukan demi kebaikan suami Ibu,” ucap dokter itu dengan tenang.

“Maksud dokter?”

“Maaf, Ibu, silakan Ibu baca dulu,” disodorkannya kertas putih itu pada Martha. Seketika itu, pertahanan Martha runtuh. Air mata tak lagi mampu dibendungnya. Tumpah begitu saja. Ketegaran yang semula menggumpal leleh perlahan.

“Apa tak ada cara lain, dok?” desak Martha. “Tolong, dok. Tolong. Hari ini suami saya ulang tahun. Dan saya…,” mulut Martha seketika tercekat. Tak kuasa melanjutkan kata-katanya. Ia tahu, semakin ia berusaha meluapkan semua keinginan, semakin berat beban yang menekan. Semakin menyakitkan.

Sementara, dokter muda itu berusaha membuatnya tenang. Walau, ia tahu orang yang di hadapannya adalah seorang istri yang berharap bisa membahagiakan suaminya. Tetapi, kenyataan telah meruntuhkan.

“Kami tahu, ini berat. Tetapi, kami tak menemukan cara lain, Bu. Maafkan, kami,” kata dokter muda itu pada Martha. “Sekarang, kami harap Ibu berpikir tenang. Kami beri waktu untuk menimbang-nimbang.”

Martha tak lekas membubuhkan tanda tangan. Hatinya masih mempertarungkan keinginannya dengan kenyataan. Sepasang sepatu dalam kotak kardus dibalut kertas kado tergolek lemas di pangkuan. Sepatu itu kehilangan daya untuk menguatkan hati Martha.

Ya, tak ada pilihan lain. Martha akhirnya meneken surat itu dalam derai hujan yang menderas dari sembab matanya. Sepasang sepatu pemberian Pak Kasim mesti ia serahkan pada nasib. Sepatu pemberian itu selamanya tidak akan menjadi bagian hidup Rama.

Setelah berbulan-bulan lamanya, sepatu itu menjadi rahasia. Disimpan rapat-rapat, agar tak ada sedikit pun kesempatan bagi suaminya untuk melihatnya. Ini dilakukan lantaran Martha tak ingin menyakiti perasaan Rama. Apalagi kedua kakinya telah hilang bersama sepatu bututnya dalam kecelakaan itu.

Di atas kursi roda, Rama menerawang langit senja yang disepuh warna jingga keemasan. Lalu meluncur kata-kata, “Kenapa ya, orang-orang selalu ribut soal sepatu dan sandal. Apa mereka tak pernah merasakan bagaimana rasanya kehilangan sepasang kaki?” tanya suaminya.

Martha tersenyum, meski dalam hatinya menjerit. Lalu berkata, “Mungkin karena mereka pikir kehormatan itu letaknya di kaki. Bukan di hati.”

Ingatannya kembali pada sepatu itu, sepatu pemberian Pak Kasim. Nyaris jatuh air matanya, tetapi buru-buru ia bendung dengan senyuman. Demi sebuah rahasia. Tentang sepasang sepatu. Juga demi kebahagiaan yang tak selalu harus diungkap.

1 KOMENTAR

Tinggalkan Balasan ke Najib Batal membalas

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini