Beranda Opini Belajar Civil Society dari Mubes Nahdliyyin Muda Batang

Belajar Civil Society dari Mubes Nahdliyyin Muda Batang

0

Oleh: Slamet Nur Chamid, M.Pd.

Musyawarah Besar Nahdliyyin Muda Batang kemarin memberikan pengalaman baru bagi saya. Untuk pertama kalinya saya mendapat amanah menjadi fasilitator sidang musyawarah besar di komisi B bersama Gus Miqdam Yusria Ahmad dengan pemantik Gus Nauval dari Buntet Cirebon.

Terus terang, saya datang dengan sedikit rasa canggung. Selama ini saya lebih sering berada di posisi peserta forum jika dengan Gus Miqdam. Bersama beliau kali ini saya harus membantu mengarahkan jalannya diskusi, menangkap berbagai pandangan peserta, lalu merangkumnya menjadi rumusan yang utuh.

Namun semakin forum berjalan, saya justru merasa sedang belajar.

Belajar mendengarkan.

Belajar memahami kegelisahan anak-anak muda NU.

Dan belajar melihat bagaimana gagasan-gagasan besar lahir dari percakapan yang sederhana.

Salah satu bagian yang paling membekas bagi saya adalah ketika Gus Naufal menyampaikan materi tentang civil society. Gus Naufal menjelaskan makna khair dan ma’ruf dalam Al-Qur’an dengan merujuk pada Tafsir Thabari dan Tafsir Jalalain. Dari sana diskusi berkembang pada posisi NU sebagai kekuatan masyarakat sipil.

Ada satu pesan yang saya tangkap kuat dari forum tersebut.

NU adalah civil society terbesar di Indonesia.

Kalimat itu terdengar sederhana. Namun semakin dipikirkan, semakin terasa berat maknanya.

Jika NU adalah kekuatan masyarakat sipil terbesar, maka NU harus memiliki kemandirian. Organisasi yang terlalu bergantung akan kesulitan menjaga daya kritisnya. Organisasi yang kehilangan kemandirian akan kehilangan posisi tawarnya ketika berhadapan dengan kekuasaan.

Karena itu, banyak peserta sidang komisi menyoroti pentingnya menjaga independensi organisasi. Diskusi berkembang pada berbagai isu, mulai dari demokrasi, hak asasi manusia, politik uang, perlindungan kelompok rentan, hingga hubungan NU dengan negara dan kekuasaan. Tema-temanya beragam, tetapi arah pembahasannya sama: bagaimana NU tetap mampu menjalankan fungsi sosial dan moralnya di tengah perubahan zaman.

Yang menarik, forum tidak dipenuhi keluhan. Peserta justru berusaha menawarkan jalan keluar. Ada yang mengusulkan penguatan pendidikan politik warga NU. Ada yang mendorong pembentukan pusat kajian kebijakan publik. Ada yang menekankan pentingnya advokasi terhadap kelompok rentan dan penguatan perlindungan hak-hak masyarakat. Ada pula yang mengingatkan perlunya kemandirian ekonomi organisasi agar NU memiliki posisi tawar yang kuat dalam menyampaikan aspirasi publik.

Di tengah diskusi itu, perhatian saya sesekali beralih pada wajah-wajah peserta yang hadir.

Banyak di antara mereka saya kenal. Saya juga melihat wajah-wajah yang tidak asing.

Ada kader IPNU dan IPPNU yang dulu aktif menggerakkan pelajar. Ada aktivis PMII yang terbiasa berdiskusi hingga larut malam. Ada sahabat-sahabat Ansor yang akrab dengan kerja-kerja sosial kemasyarakatan. Ada penggerak MWC NU, KNPI, Karang Taruna, Forum Mahasiswa Batang, BEM kampus, komunitas pecinta alam, dan berbagai komunitas lainnya.

Mereka datang dari latar belakang yang berbeda. Cara pandangnya juga tidak selalu sama. Namun selama forum berlangsung, saya melihat satu hal yang menggembirakan: kemampuan untuk duduk bersama dan berdialog. hari itu mereka dipertemukan oleh kegelisahan yang sama: bagaimana ikut menjaga dan menyiapkan masa depan NU

Perbedaan justru menjadi bahan untuk memperkaya gagasan.

Saya juga menaruh hormat kepada panitia Mubes. Mereka berhasil mempertemukan banyak elemen muda NU dalam satu kerja bersama yang rapi dan terorganisasi. Energi kaum muda bertemu dengan pengalaman para senior dan tokoh NU yang tetap memiliki semangat progresif. Kolaborasi itu terasa hidup selama forum berlangsung.

Bagi saya, inilah hal paling penting yang saya bawa pulang dari Mubes kemarin.

Optimisme.

Optimisme bahwa NU Batang memiliki banyak anak muda yang mau berpikir, mau berdiskusi, dan mau bekerja bersama. Mereka memiliki semangat. Mereka juga memiliki gagasan. Yang lebih penting lagi, mereka mampu mengubah gagasan itu menjadi kerja kolektif.

Civil society pada akhirnya bukan sekadar istilah yang dibahas dalam forum. Civil society hidup ketika masyarakat mampu berkumpul secara mandiri, menyampaikan aspirasi, mengkritik dengan adab, dan menjaga kepentingan publik tanpa kehilangan keberanian.

Melihat forum kemarin, saya merasa cukup tenang. Masa depan NU Batang tampaknya berada di tangan yang tepat.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini