Beranda Opini Thom Haye, Sang Profesor yang Tak Pernah Kuliah, tetapi Mengajar Lewat Permainan

Thom Haye, Sang Profesor yang Tak Pernah Kuliah, tetapi Mengajar Lewat Permainan

0

Saya dibuat terpukau oleh penampilan Thom Haye dalam dua pertandingan Piala AFF 2026. Di setiap laga, gelandang Timnas Indonesia itu seolah menjadi otak permainan Tim Garuda. Sentuhan bolanya tenang, umpan-umpannya presisi, dan kemampuannya mengatur ritme pertandingan membuat tim asuhan John Herdman bermain lebih terstruktur.

Puncak kekaguman saya terjadi ketika Haye mencetak gol spektakuler ke gawang Timor Leste. Tendangan bebas terukur dari luar kotak penalti meluncur tanpa mampu dihentikan kiper lawan, menjadi salah satu gol terbaik Indonesia di turnamen tersebut. Penampilan impresifnya kembali menegaskan mengapa banyak orang menyebutnya “The Professor”.

Namun di balik julukan yang begitu akademis itu, saya justru menemukan ironi yang menarik. Thom Haye ternyata tidak pernah mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi. Ia juga tidak pernah mempublikasikan artikel di jurnal ilmiah bereputasi, tidak pernah mengejar gelar profesor, apalagi mencari jalan pintas untuk memperoleh predikat akademik yang bukan haknya.

Julukan “The Professor” yang melekat padanya sama sekali bukan lahir dari ijazah, gelar, atau publikasi ilmiah scopus, melainkan dari pengakuan publik atas kecerdasan, ketenangan, dan kemampuannya membaca permainan di lapangan hijau. Di tengah berbagai perbincangan tentang pentingnya integritas akademik dan maraknya kasus penyalahgunaan gelar atau pelanggaran etika ilmiah di berbagai negara, kisah Haye justru mengingatkan bahwa penghormatan sejati tidak selalu datang dari titel yang disematkan, tetapi dari kompetensi dan karakter yang dibuktikan melalui karya nyata.

Sejak kecil, Haye, yang lahir di tahun 1995, tumbuh di Belanda dan menghabiskan masa remajanya dalam sistem pembinaan sepak bola. Ia menempuh pendidikan formal hingga jenjang sekolah menengah sebagaimana umumnya anak-anak di Negeri Kincir Angin itu, tetapi setelahnya memilih fokus sepenuhnya pada karier profesional di dunia bal-balan. Sejak usia belasan tahun, sebagian besar waktunya dihabiskan di akademi AZ Alkmaar, tempat ia ditempa menjadi pesepak bola elite. Tidak ada catatan publik yang menunjukkan bahwa ia pernah menjadi anak sebuah kampus.

Pilihan itu tentu bukan hal yang aneh di Eropa. Banyak pemain muda berbakat harus menentukan jalan hidup sejak dini. Ketika kesempatan menjadi pesepak bola profesional datang, pendidikan tinggi sering kali dikorbankan karena tuntutan latihan, kompetisi, dan mobilitas yang tinggi. Haye adalah salah satunya.

Karier profesionalnya dimulai bersama AZ Alkmaar, klub yang membesarkan namanya. Setelah menembus tim utama pada 2014, ia kemudian melanjutkan perjalanan ke beberapa klub Eropa, mulai dari Willem II, Lecce di Italia, ADO Den Haag, NAC Breda, SC Heerenveen, Almere City, hingga akhirnya pada tahun 2025 berlabuh di Persib Bandung. Perjalanan panjang itu membentuknya menjadi gelandang yang matang, bukan pemain yang mengandalkan kecepatan atau atraksi individu, melainkan kecerdasan membaca permainan.

Lalu mengapa ia dijuluki The Professor?

Banyak orang Indonesia mengira julukan itu baru muncul setelah Haye membela Timnas Indonesia. Padahal, sebutan tersebut sudah melekat sejak ia masih berkarier di Belanda. Haye sendiri mengaku bahwa julukan itu pertama kali populer ketika ia bermain bersama NAC Breda rentang tahun 2020-2022. Dikatakannya bahwa ia tidak mengetahui secara pasti siapa orang pertama yang memberinya label tersebut. Yang jelas, julukan itu kemudian menyebar luas di lingkungan klub dan terus melekat hingga sekarang.

Ada dua cerita yang berkembang mengenai asal-usul julukan tersebut. Pertama, beberapa rekan setim dan suporter menganggap wajah Haye mirip dengan karakter The Professor dalam serial La Casa de Papel (Money Heist). Kedua, yang kemudian lebih kuat diterima publik, adalah karena gaya bermainnya benar-benar mencerminkan sosok seorang profesor: tenang, cerdas, penuh perhitungan, dan selalu mampu membaca situasi sebelum pemain lain menyadarinya.

Saya pribadi lebih menyukai penjelasan kedua. Sebab ketika menyaksikan Haye bermain, kita memang seperti melihat seseorang yang sedang “mengajar” sepak bola. Haye tidak banyak berlari tanpa arah. Pun juga bukan tipe pemain yang gemar melakukan dribel berlebihan. Sebaliknya, ia mengontrol tempo, menentukan kapan bola harus dipercepat, kapan permainan harus diperlambat, dan ke mana ruang kosong harus dieksploitasi.

Julukan itu ternyata juga disambut positif oleh Haye sendiri. Dalam sebuah wawancara yang dipublikasikan di akun Youtube Indosat Ooredo Hutchison, ia mengatakan merasa senang karena kini banyak orang memanggilnya “Prof” dibandingkan nama aslinya. Baginya, panggilan tersebut terdengar akrab dan menyenangkan.

Yang menarik, kisah Thom Haye memberikan pelajaran penting bahwa gelar akademik dan kecerdasan adalah dua hal yang berbeda. Pendidikan tinggi tentu sangat penting dan harus terus didorong. Namun, Haye menunjukkan bahwa kecerdasan juga dapat dibentuk melalui disiplin, pengalaman, latihan, dan kemauan untuk terus belajar. Ia memang tidak pernah menjadi mahasiswa, tetapi setiap pertandingan memperlihatkan bagaimana ia memahami ruang, momentum, dan strategi layaknya seorang ilmuwan yang sedang melakukan eksperimen.

Di era sekarang, ketika gelar akademik sering dijadikan ukuran utama keberhasilan seseorang, Thom Haye menghadirkan perspektif yang berbeda. Ia tidak memiliki gelar profesor. Bahkan ia tidak pernah duduk dimarahi dosen ketika terlambat masuk kelas. Tidak pernah pula ia makan di kantin kampus layaknya mahasiswa pada umumnya. Akan tetapi, publik sepak bola justru sepakat memberinya gelar kehormatan berupa julukan “The Professor” karena kemampuan berpikirnya di lapangan.

Saya menyadari bahwa julukan itu bukanlah penghormatan terhadap ijazah, melainkan penghormatan terhadap cara berpikir. Kecerdasan sejati tidak selalu lahir dari ruang kuliah. Itu mungkin yang selalu diajarkan Haye. Kadang-kadang, ia lahir dari ribuan jam latihan, ketekunan membaca permainan, keberanian mengambil keputusan, dan konsistensi untuk terus belajar sepanjang karier.

Barangkali itulah sebabnya, meski tak pernah menjadi profesor di universitas, Thom Haye, pemain yang punya darah Indonesia dari kakek dan nenek dari pihak ibunya, tetap menjadi “Profesor” di mata jutaan pencinta sepak bola Indonesia.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini