Beranda Opini Hari Libur yang Tak Pernah Benar-Benar Libur

Hari Libur yang Tak Pernah Benar-Benar Libur

0

Oleh: Yusuf Bahtiar

Hari Jum’at bisanya menjadi hari libur sebagian besar masyarakat Pekalongan, utamanya yang bekerja di home industri atau tempat perajin batik atau yang biasa disebut orang pekalongan dengan pranggok batik. Tak terkecuali aku sendiri yang berkecimpung di bidang itu.

Namun hari libur bukan berarti santai dan tenang, apalagi bagi bapak-bapak seperti aku ini dengan tiga anak kecil, karena biasanya kesmpatan hari libur dijadikan istri untuk berganti ngurusin rumah, meskipun tidak selalu terus begitu ya.

Tapi kali ini mungkin menjadi Hari “spesial” Bagiku, karena begini ceritanya.

Hari ini aku bangun tidur agak kesiangan dikit, bangun habis subuh sekitar jam setengah enam pagi. Mungkin karena semalam begadang nonton Dracin yang setiap episodenya memancing emosional penontonnya. Jadi klewat jam tidurnya. Hehehe.

Bangun tidur ku terus mandi, tapi lupa menggosok gigi, habis mandi ku tolong bukan ibu, tapi ketua panitia, panitia jalan sehat. Iyah, karena kebetulan pas hari ini, Jum’at, 28 Agustus 2026 ada kegiatan jalan sehat dalam rangka memeriahkan HUT RI ke-81 dalam lingkup Rukun tetangga (RT).

Di pagi yang masih rada gelap itu, ketua panitia tiba-tiba datang ke rumah, dengan setelah terburu-buru ia meminta tolong padaku agar bisa mewakili dirinya untuk mengawal berlangsungnya kegiatan, “tolong sampean datang sekarang ya mas, saya mau ada perlu penting soalnya”. Ucapnya.

Pukul 06.30 wib aku menuju ke lokasi kegiatan, menjadi Master of Ceremony (MC) dadakan untuk memberangkatkan peserta jalan sehat yang sudah berkumpul siap menerima aba-aba untuk jalan. Dengan diawali do’a salah satu ustadz disitu akhirnya sekitar pukul 07.00wib peserta diberangkatkan.

Sementara peserta jalan, aku stand by di lokasi saja sambil menjaga puluhan hadiah dengan bermacam jenisnya diatas panggung.
Diwaktu yang senggang itu, aku sambil iseng-iseng mencari tau di google dengan keyword “bagaimana cara mengatur acara jalan sehat yang baik” di google. Hehe, Maklumlah masih pemula.

Setengah jam kemudian, peserta mulai berdatangan kembali ke tempat awal. Hingga berkumpul semua. Saya diatas panggung mewakili panitia menyampaikan terimakasih kepada warga dan sponsor yang membantu acara ini. Dan dengan dibantu panitia lain mengundi tiket dan memberikan hadiahnya.

Sesekali pengundian dijedah, karena dipanggang yang sama juga ada hiburan berupa musim dangdut orgen tunggal.

Konsepnya muter seperti itu, pengundian hadiah lalu hiburan musik.

Hingga sekitar pukul 10.00wib, saya harus pulang meninggalkan lokasi kegiatan karena harus mendampingi anakku persiapan lomba pidato mewakili Madrasah Diniyah (Madin) tempat ia mengaji yang akan dilaksanakan hari itu juga sehabis Jumatan.

Dirumah aku menyimak hafalan anakku yang pertama, disamping itu juga menjaga dua anakku yang lain, dan harus menyiapkan sajian untuk makan siang nanti. Sebab, ibuknya masih menunggu ditempat pengundian nomor jalan sehat.

Meskipun sebentar, aku merasakan bagaimana repotnya menjadi seorang bapak rumah tangga, yang biasanya semacam ini dilakukan oleh ibu rumah tangga. Aku membatin, “Apalagi seperti istriku, yang setiap harinya seperti ini ya. emang bener istilah, Ras terkuat di dunia adalah wanita.” Hehe

Menjelang waktu dzuhur, keadaan sibuk ku mulai landai, anakku yang hafalan sudah selesai menghafalnya, berganti tugas menjaga kedua adiknya. Menu makan siang yang aku buat sebisanya juga sudah rampung. Akupun mulai persiapan berangkat jum’atan. Mandi dan sebagainya.

Pas mau berangkat ke masjid, pas juga dengan kepulangan istri yang senyum-senyum dari arah berlawanan dengan menenteng kipas angin yang nampaknya diperoleh dari undian. “Alhamdulillah, dapat juga akhirnya.” Sapa istriku kegirangan.

Dimasjid, rasa kantukku tak tertahankan. berkali-kali ku coba melawan tapi akhirnya kalah juga. Hingga dikira orang yang berada disampingku, aku khusyuk mendengarkan khutbah jum’at, tak taunya ketiduran. Aku dibangunin sewaktu aku berdiri shalat.

Sepulang jum’atan, rasa kantukku tak kunjung reda jua. Mungkin karena efek nonton Dracin semalam. Tapi aku pertahankan, sampai nanti anakku dijemput gurunya pergi lomba dan bisa bersalaman denganku.

Dan tepat pukul satu siang, anakku berangkat bersama guru ngajinya ketempat perlombaan tingkat kecamatan itu. Sementara aku melampiaskan lelah mataku ditempat tidur.

Sebangunnya dari tempat tidur pas waktu adzan ashar, aku teringat ada pesanan di toko on-lineku yang perlu disiapkan karena seperti biasanya sesudah Maghrib harus dikirim supaya tidak ketinggian. Karena stok barang pesanan dirumah kosong, aku bergegas mencarinya di toko langganan di kampung sebelah.

Sekalian itung-itung jajan-jalan sore, aku mengajak anakku yang nomor kedua naik motor belanja barang sesuai pesanan.
Entah mengapa, kali ini jalanan menuju toko langganan tak seperti biasanya lancar jaya, ada aja penghambatnya. Seperti, proyek drainase desa menggunakan alat berat, yang alatnya menutupi badan jalan sehingga melewatinya butuh waktu agak lama. Ada juga rombongan karnaval Agustusan yang menutupi seluruh badan jalan juga, hingga tak bisa lewat, sampai harus berhenti menepi dahulu sampai rombongan selesai. Udah gitu, setelah sampai di toko yang dituju, ternyata eh ternyata, tokonya tutup. “Apes nian awak hari ni”. Begitulah Kata orang Melayu. Padahal waktunya sudah mepet.

Guna mengobati lara sebab tujuan tak kena, aku mengajak anakku mampir diwarung bakso pinggir jalan. Eee, tak disangka, anakku malah ketiduran ketika sampai di tempat warung bakso. Mungkin kecapean kali ya. Bakso terpaksa dibungkus buat dibawa pulang.

Karena belum ketemu barang yang mau dikirim, motor ku gas kembali melanjutkan perjalanan planing B atau ke toko lain yang sebenarnya lebih dekat namun harganya selisih lebih mahal dikit dari toko yang tutup barusan. Dan ternyata disana ada.

Setelah mendapatkan barang yang dicari, aku kembali ke rumah sekitar jam setengah lima sore. Kebetulan anakku yang ikut lomba juga sudah dirumah masih jagain adeknya yang paling kecil. Jadi aku langsung aku packing barangnya tanpa diganggu si kecil.

Waktu pun menjelang maghrib, dua packing beres, siap dikirim. Waktunya bercengkrama bareng keluarga sambil makan sore dan dengerin cerita-cerita dari anakku yang baru saja mengikuti lomba yang baru saja tadi siang diikuti.

Tak beberapa lama, adzan Maghrib pun berkurang, kami meneruskan santapan sore yang sedikit lagi hampir habis.

Tak lama kemudian iqomatpun tiba, aku bergegas ke mushola untuk ikut berjamaah. Ternyata disana shalat sudah dimulai, akupun hanya menjadi makmum masbuk. Tak apalah yang penting masih bisa ikut shalat berjamaah. Dan yang terpenting dalam konteks ini bisa menjadi percontohan anak-anak, ketika mereka nanti ku suruh shalat gak ada alasan untuk membentah “Bapak aja gak shalat, cuma dirumah aja”.

Kembali ke laptop!

Pulang dari musholla, dengan sedikit terburu-buru aku mengantarkan dua paket atau barang pesanan ke tempat ekspedisi. Paket ku taruh dicekungan bawah motor metik, lalu sedikit ku injak supaya tidak jatuh karena kebetulan tipis barangnya.

Perjalanan menuju tempat ekspedisi sebenarnya agak jauh, sekitar 2 km, namun bisa cepat bila ditempuh menggunakan sepeda motor dengan kondisi normal. Namun karena ada pasar jajan di kampung, jadi agak sedikit terhambat perjalanannya. Sehingga butuh waktu kurang lebih 10 menit.

Setelah sampai ditempat ekspedisi yang pertama, yang lokasinya dipinggir jalan Pantura, ketika aku hendak menaruh dikeranjang drop shit. Namanya apes emang ngak mengenal hari. Ternyata satu Paketku yang ku bawa gak ada. Terpaksa putar bali mencarinya, Dan beruntungnya ketemu lagi dilokasi yang gak jauh dari tadi.

Singkat cerita, akhirnya, paket barang pesenanpun beres kuserahkan ditempat ekspedisi.

Setelahnya, berhubung masih diperjanan, sekalian mau ngambil uang di ATM buat jaga-jaga, karena dompet pas kosong. Dan sesampainya disana pas kumandang adzan Isyak. Sekalian aku mampir ke Masjid yang letaknya ditepi jalan Poros kota dan tak jauh dari mesin ATM itu.

Setelah selesai menunaikan shalat isya’, aku teringat ada janjian mau nganter anakku latihan beladiri habis isya’ ini. Karena kebetulan malam sabtu dan rabu adalah jadwal latihan rutinnya. Maka gak pakai lama aku bergegas pulang.

Begitu sampai rumah, anakku sudah menungguku dengan pakean beladirinya untuk siap berangkat. Sejenak aku mengganti pakaianku yang lebih casual untuk menyerasikan pengantar lain disana. karena tadi waktu nganter paket masih menggunakan sarung dan baju koko.

Setelah sudah rapi dengan costum baru, aku menyuruh anakku berpamitan berangkat latihan kepada ibunya. Dan motor siap tancap gas ketempat latihan biasa, di sebuah gedung serbaguna milik desa tetangga.

Tepat jam delapan malam sampai disana, dan tepat juga waktunya latihan beladiri dimulai.
Anakku langsung masuk ke gedung bersama beberapa teman lainnya.
Sementara aku, menunggu diluar pintu bersama orang tua anak lainnya yang sama-sama mengantar. Seperti biasa kami pesan kopi diwarung sebelah dan melewatkan waktu dengan sedikit obrolan dan banyak main hapenya sendiri-sendiri.

Nah, disinilah aku memulai nulis “catatan sehari” ini di ponsel.

Ku rangkai sebisanya, fokus mengingat-ingat apa saja yang kulakukan dari pagi. Sesekali mengajak ngobrol orang yang ada di sebelahku. Dan gak terasa sudah hampir dua jam saja aku disitu, dan artinya latihan anakku telah selesai.

Aku langsung berpamitan dengan pelatih anakku dan yang lainnya, pulang sampai rumah jam 22.15 wib, orang rumah sudah pada tidur dan kusuruh anakku langsung istirahat tidur. Dan aku sendiri di jam-jam segini biasanya sukar melawan hipotesis dalam pikiranku, yaitu nonton Dracin. Hehe

Akhirnya, ku hapus aplikasinya, dan terus tidur. Selesai.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini