Pekalongan – Ikatan Alumni Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (ILUIN FEBI) UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan menggelar Webinar FEBI Alumni Connect Batch 1 dengan mengangkat tema “After Graduation: What’s Next?” secara daring melalui Zoom, Jumat (18/9/2026) malam, diikuti 60 peserta.
Kegiatan ini menjadi ruang berbagi pengalaman dan wawasan bagi mahasiswa serta alumni FEBI dalam mempersiapkan langkah setelah menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi. Diskusi diarahkan pada sejumlah pilihan yang dapat ditempuh lulusan, mulai dari membangun karier, melanjutkan studi, merintis bisnis, hingga mengembangkan kompetensi digital.
Ketua ILUIN FEBI, Khairul Anwar, M.E., menyampaikan, FEBI Alumni Connect ini tidak didesain sebagai kegiatan satu kali selesai. Kegiatan seperti ini akan dilakukan secara berkelanjutan dengan menghadirkan alumni-alumni FEBI dari berbagai profesi dan bidang keahlian sebagai narasumber.
“Kami ingin mahasiswa mendapatkan gambaran yang lebih nyata tentang perjalanan setelah lulus, langsung dari orang-orang yang pernah berada di posisi mereka dan kini telah menempuh berbagai jalur karier,” ujar Khairul yang juga dosen di UIN Gus Dur dan STAI Ki Ageng Pekalongan ini.
Sementara itu, Wakil Dekan III FEBI, M. Shulthoni, Lc., M.Si., M.A., Ph.D. mengatakan, kelulusan dari perguruan tinggi bukanlah akhir dari proses pembelajaran, melainkan awal untuk memasuki dunia profesional dan kehidupan yang lebih luas.
“Mahasiswa perlu mempersiapkan diri sejak dini dengan mengenali potensi, membangun jejaring, meningkatkan kompetensi, serta memiliki keberanian untuk menentukan pilihan setelah lulus. Dunia kerja yang terus berubah menuntut lulusan tidak hanya mengandalkan ijazah, tetapi juga kemampuan beradaptasi dan kemauan untuk terus belajar.” tuturnya.
Disampaikan, dari FEBI sangat mengapresiasi dan menyambut baik inisiatif ILUIN FEBI melalui kegiatan Alumni Connect ini. “Kegiatan seperti ini penting karena mempertemukan mahasiswa dengan alumni secara langsung, sehingga pengalaman alumni dapat menjadi referensi dan motivasi bagi mahasiswa dalam mempersiapkan masa depan,” tambah M. Shulthoni.
Kegiatan kemudian menghadirkan tiga alumni FEBI sebagai narasumber dengan pengalaman dan bidang yang beragam. Mochamad Yusuf, M.E., yang berkiprah sebagai praktisi sekaligus dosen, membahas tema penguatan karier.
Yusuf mendorong mahasiswa agar tidak menunggu sampai lulus untuk mulai memikirkan karier. “Proses membangun karier dapat dimulai sejak masih menjadi mahasiswa melalui pengalaman organisasi, magang, kegiatan sosial, proyek, maupun berbagai aktivitas yang dapat membentuk portofolio.” jelasnya.
Sementara itu, Rizky Andrean, M.E., MIFP., yang merupakan awardee LPDP dan sedang menempuh program doktoral, berbagi pengalaman mengenai kiat melanjutkan studi.
“Studi lanjut dapat menjadi salah satu pilihan bagi mahasiswa yang ingin memperdalam keilmuan maupun mengembangkan kapasitas profesional. Namun, keputusan melanjutkan pendidikan perlu dipersiapkan secara matang, mulai dari menentukan bidang studi, memilih perguruan tinggi, mempersiapkan kemampuan akademik, hingga mencari informasi mengenai berbagai skema beasiswa.”ujarnya.
Adapun narasumber ketiga, Muhammad Alfansyah, S.Akun., membagikan pengalaman mengenai bisnis dan kompetensi digital. Sebagai digital entrepreneur, Alfansyah menyoroti perubahan dunia bisnis yang semakin dipengaruhi perkembangan teknologi.
“Kompetensi digital bukan hanya kemampuan menggunakan aplikasi. Yang lebih penting adalah bagaimana kita menggunakan teknologi untuk menciptakan peluang, membangun bisnis, menyelesaikan masalah, dan memberikan nilai kepada orang lain,” jelas Alfansyah.
Diskusi tersebut dipandu oleh M. Fathrezza Imani, S.E., praktisi Bank BWS, yang menjadi moderator. Melalui FEBI Alumni Connect Batch 1, ILUIN FEBI UIN Gus Dur berupaya memperkuat hubungan antara alumni dan mahasiswa sekaligus menghadirkan ruang berbagi pengalaman yang relevan dengan kebutuhan generasi muda.
Kegiatan tersebut sekaligus membawa pesan bahwa masa depan lulusan tidak berhenti pada pertanyaan “akan bekerja di mana?”, tetapi juga mencakup pertanyaan yang lebih luas: kompetensi apa yang akan dibangun, kontribusi apa yang akan diberikan, dan peluang apa yang dapat diciptakan.
Kontributor: Reza dan Avi





