Oleh : T.H. Hari Sucahyo*
Apa arti penderitaan manusia jika kita percaya kepada Tuhan? Pertanyaan ini terdengar sederhana, tetapi semakin dipikirkan, semakin sulit menemukan jawaban yang benar-benar memuaskan. Sebab, penderitaan adalah pengalaman yang sering kali membuat manusia mempertanyakan segala sesuatu yang sebelumnya ia yakini. Ketika hidup berjalan baik, percaya kepada Tuhan terasa mudah.
Kita dapat melihat keberuntungan, kesehatan, keluarga, pekerjaan, atau rezeki sebagai bentuk kasih Tuhan. Ketika kehilangan datang, ketika penyakit tidak kunjung sembuh, ketika usaha berkali-kali gagal, atau ketika orang baik justru mengalami kemalangan, keyakinan itu tiba-tiba berhadapan dengan pertanyaan yang jauh lebih berat: jika Tuhan ada dan Tuhan baik, mengapa manusia masih harus menderita?
Pertanyaan semacam ini menjadi semakin menarik jika direnungkan melalui judul novel Tuhan Tiri karya Aris Wahyudi. Kata “tiri” memberi kesan tentang hubungan yang tidak sepenuhnya dekat. Tuhan dalam bayangan tertentu seolah-olah hadir, tetapi terasa jauh; dikenal, tetapi tidak selalu dipahami; dipercaya, tetapi kadang terasa tidak berpihak. Barangkali di situlah letak kegelisahan manusia beriman.
Kita menyebut Tuhan sebagai tempat bersandar, tetapi dalam penderitaan kita sering merasa seperti anak yang sedang mencari orang tua di tengah rumah yang gelap. Tuhan diyakini ada, tetapi mengapa diam? Penderitaan memang sering menjadi ujian terbesar bagi iman. Ketika seseorang kehilangan sesuatu yang sangat dicintainya, nasihat untuk “bersabar” atau “percaya bahwa semua ada hikmahnya” terkadang justru terasa terlalu ringan.
Orang yang sedang terluka tidak selalu membutuhkan penjelasan. Ia mungkin hanya ingin diakui bahwa rasa sakitnya memang nyata. Ada penderitaan yang tidak bisa segera diterjemahkan menjadi hikmah. Ada kematian yang tetap menyisakan kehilangan. Ada kemiskinan yang bukan sekadar ujian batin, tetapi benar-benar membuat seseorang kelaparan. Ada ketidakadilan yang tidak selesai hanya dengan mengatakan bahwa Tuhan pasti mengetahui semuanya.
Karena itu, percaya kepada Tuhan seharusnya tidak membuat kita menutup mata terhadap penderitaan. Sebaliknya, iman semestinya membuat kita lebih peka terhadap penderitaan manusia. Tuhan tidak boleh dijadikan alasan untuk membenarkan keadaan yang menyakitkan. Jika seseorang miskin, kita tidak bisa begitu saja mengatakan bahwa kemiskinannya adalah takdir, lalu merasa tidak perlu melakukan apa-apa.
Jika seseorang tertindas, kita tidak bisa hanya menyuruhnya bersabar sementara kita menikmati kenyamanan di sisi lain. Kepercayaan kepada Tuhan seharusnya melahirkan keberanian untuk bertanya, kepedulian untuk membantu, dan kesediaan untuk melawan ketidakadilan. Di sinilah penderitaan memiliki arti yang berbeda. Penderitaan mungkin tidak selalu memiliki alasan yang dapat kita pahami, tetapi respons manusia terhadap penderitaan dapat memiliki makna.
Kita mungkin tidak tahu mengapa suatu musibah terjadi, tetapi kita bisa memilih apa yang akan kita lakukan setelahnya. Seseorang yang kehilangan orang tua, misalnya, tidak selalu mendapatkan jawaban mengapa kematian itu harus datang begitu cepat. Dari kehilangan itu, ia mungkin belajar tentang arti kasih, tentang rapuhnya kehidupan, atau tentang bagaimana membuat orang lain tidak merasa sendirian ketika mengalami kehilangan yang sama.
Dengan demikian, iman kepada Tuhan bukan berarti memiliki jawaban atas semua pertanyaan. Justru mungkin sebaliknya: iman adalah keberanian untuk tetap berjalan meskipun tidak semua pertanyaan memiliki jawaban. Manusia sering ingin memahami Tuhan dengan ukuran pikirannya sendiri. Kita menginginkan dunia yang sederhana: orang baik mendapat kebaikan, orang jahat mendapat hukuman, orang rajin berhasil, orang yang berdoa dikabulkan.
Kenyataannya tidak sesederhana itu. Hidup sering kali tidak adil menurut ukuran manusia. Orang baik bisa sakit. Orang jujur bisa kalah. Orang yang bekerja keras bisa gagal. Sementara itu, orang yang berbuat buruk kadang justru terlihat hidup nyaman. Keadaan semacam itu membuat konsep Tuhan terasa paradoks. Jika Tuhan Mahakuasa, mengapa penderitaan dibiarkan? Jika Tuhan Maha Pengasih, mengapa ada manusia yang harus merasakan sakit begitu dalam?
Tidak ada jawaban singkat yang mampu menyelesaikan persoalan tersebut. Tetapi mungkin kesalahan kita adalah menganggap bahwa Tuhan hanya dapat dibuktikan melalui hidup yang nyaman. Seolah-olah ketika doa terkabul, Tuhan hadir; ketika doa tidak terkabul, Tuhan pergi. Padahal, pengalaman manusia jauh lebih rumit daripada itu. Ada kalanya Tuhan justru hadir bukan dalam bentuk hilangnya penderitaan, melainkan melalui manusia lain yang datang ketika kita sedang jatuh.
Tuhan mungkin tidak menghapus kesedihan seseorang, tetapi menghadirkan seorang teman yang bersedia mendengarkan. Tuhan mungkin tidak langsung menyembuhkan penyakit, tetapi memberi seseorang kekuatan untuk menjalani hari demi hari. Tuhan mungkin tidak mengubah keadaan dalam semalam, tetapi memberikan keberanian kepada manusia untuk mengubah keadaan itu bersama-sama.
Pemahaman seperti ini membuat kita perlu berhati-hati dalam berbicara tentang takdir. Terlalu mudah mengatakan bahwa semua penderitaan adalah kehendak Tuhan. Kalimat tersebut bisa menjadi penghiburan bagi sebagian orang, tetapi juga dapat menjadi beban bagi orang lain. Sebab, jika semua penderitaan dianggap sudah ditentukan dan tidak perlu dipersoalkan, manusia bisa kehilangan tanggung jawab moralnya.
Padahal, sebagian penderitaan justru lahir dari tindakan manusia: perang, korupsi, kekerasan, keserakahan, diskriminasi, dan ketidakpedulian. Menyebut semuanya sebagai takdir Tuhan dapat menjadi cara paling nyaman untuk menghindari kesalahan kita sendiri. Mungkin karena itu, pertanyaan “apa arti penderitaan manusia jika kita percaya kepada Tuhan?” seharusnya tidak berhenti pada hubungan manusia dengan Tuhan.
Pertanyaan itu juga harus membawa kita kepada hubungan manusia dengan sesamanya. Ketika melihat orang lain menderita, apa yang kita lakukan? Apakah kita hanya mengatakan bahwa Tuhan sedang menguji mereka, lalu berjalan pergi? Ataukah kita merasa bahwa penderitaan orang lain adalah panggilan bagi kita untuk berbuat sesuatu?
Pada titik ini, penderitaan tidak lagi hanya menjadi persoalan teologis, tetapi juga persoalan kemanusiaan. Kepercayaan kepada Tuhan seharusnya membuat manusia semakin manusiawi. Jika iman justru membuat seseorang kehilangan empati, mudah menghakimi, dan merasa penderitaan orang lain pantas diterima, maka ada sesuatu yang perlu dipertanyakan dari cara kita memahami iman itu sendiri.
Barangkali manusia memang tidak akan pernah mendapatkan jawaban yang sepenuhnya tuntas tentang mengapa penderitaan ada. Kita dapat membaca kitab suci, mempelajari filsafat, berdiskusi tentang teologi, atau mencari penjelasan melalui ilmu pengetahuan, tetapi tetap ada batas yang tidak bisa kita lewati. Pada akhirnya, ada bagian dari kehidupan yang harus diterima sebagai misteri.
Menerima misteri bukan berarti menyerah kepada keadaan. Justru kita tetap dapat memilih untuk mencintai, membantu, melawan ketidakadilan, dan menjaga harapan. Maka, percaya kepada Tuhan bukan berarti hidup tanpa penderitaan. Percaya kepada Tuhan berarti berusaha menemukan makna di tengah penderitaan tanpa berpura-pura bahwa rasa sakit itu tidak ada. Iman bukan obat yang membuat manusia kebal terhadap kehilangan.
Iman adalah cara untuk tetap berdiri ketika kehilangan itu datang. Dan mungkin, dalam keadaan tertentu, pertanyaan terbesar bukan lagi “mengapa Tuhan membiarkan saya menderita?”, melainkan “apa yang bisa saya lakukan agar penderitaan ini tidak berhenti pada diri saya?” Jika Tuhan terasa seperti “Tuhan Tiri”, mungkin persoalannya bukan semata-mata karena Tuhan jauh. Bisa jadi manusia terlalu sering mengukur kedekatan
Tuhan hanya dari kenyamanan hidupnya sendiri. Kita ingin Tuhan hadir dengan cara yang kita inginkan, pada waktu yang kita tentukan, dan dalam bentuk jawaban yang mudah dipahami. Padahal, bisa jadi hubungan manusia dengan Tuhan memang selalu menyimpan jarak dan misteri. Kita tidak sepenuhnya memahami-Nya, tetapi tetap memilih untuk percaya.
Penderitaan tidak selalu memberi jawaban tentang Tuhan, tetapi penderitaan dapat memperlihatkan siapa diri kita di hadapan Tuhan dan sesama manusia. Apakah kita menjadi lebih keras atau lebih peka? Apakah kita menjadi lebih putus asa atau lebih berani? Apakah kita menggunakan Tuhan untuk membenarkan penderitaan, atau justru menjadikan iman sebagai alasan untuk menguranginya?
Mungkin di situlah arti terdalam dari penderitaan bagi manusia yang percaya: bukan bahwa setiap rasa sakit pasti memiliki penjelasan yang indah, melainkan bahwa di tengah sesuatu yang tidak kita mengerti, kita masih mempunyai pilihan untuk tetap menjadi manusia yang berbelas kasih. Dan mungkin, justru melalui pilihan itulah, kehadiran Tuhan menjadi paling terasa.
_________
*pegiat di Cross-Diciplinary Discussion Group “Sapientiae”





