Pekalongan – Di tengah tantangan keberlanjutan tradisi membatik di kalangan generasi muda, Kampung Batik Gemah Sumilir menghadirkan ruang perjumpaan antara pembatik senior dan generasi muda melalui Pagelaran Hari Batik yang diselenggarakan pada Jumat Kliwon, 30 Oktober 2026, di Pendopo Gemah Sumilir, Desa Petukangan, Kecamatan Wiradesa, Kabupaten Pekalongan.
Kegiatan ini melibatkan para pembatik senior serta siswa dan siswi MTs dan SMP se-Kabupaten Pekalongan. Keterlibatan generasi muda tersebut menjadi bagian dari upaya regenerasi pembatik sekaligus sarana edukasi untuk mengenalkan nilai-nilai filosofis, historis, dan kebudayaan yang terkandung dalam batik.
Batik bukan sekadar produk kerajinan yang memiliki nilai ekonomis, melainkan warisan kebudayaan yang melambangkan identitas, pengetahuan, serta pandangan hidup masyarakat. Setiap motif memiliki potensi makna yang mencerminkan nilai-nilai luhur yang diwariskan secara turun-temurun. Namun, seiring berkembangnya industri dan tuntutan pasar, terdapat tantangan untuk menjaga agar nilai-nilai tersebut tidak terpinggirkan oleh orientasi produksi dan keuntungan semata.
Komersialisasi batik pada dasarnya merupakan bagian dari dinamika ekonomi masyarakat. Namun, sayangnya ketika nilai jual menjadi satu-satunya orientasi, aspek filosofis dan estetis yang menyertai proses penciptaan batik berpotensi kehilangan tempatnya. Oleh karena itu, pelestarian batik tidak cukup dilakukan dengan mempertahankan bentuk dan motifnya, tetapi juga perlu memastikan bahwa pengetahuan dan nilai yang terkandung di dalamnya tetap dipahami oleh generasi penerus.
Melalui tema “Merajut dalam Ranting Cinta Motif Satrio Mbedhar Adhep-adhepan”, Gemah Sumilir berupaya mengintegrasikan pelestarian kebudayaan dengan gagasan ekonomi hijau. Upaya tersebut diwujudkan melalui pengembangan batik yang tidak hanya memperhatikan nilai budaya dan ekonomi, tetapi juga kelestarian alam dan lingkungan.
“Melalui ‘Merajut dalam Ranting Cinta Motif Satrio Mbedhar Adhep-adhepan’, apa yang menjadi harapan kami melalui ekonomi hijau yang telah digaungkan sejak lama oleh Gemah Sumilir, khas batiknya, asri alam dan lingkungannya, hidupnya berseri-seri; semoga dapat menyongsong masa depan yang lebih baik,” ungkap Amin Maizun selaku Ketua Gemah Sumilir.
Dalam hal ini, regenerasi menjadi salah satu komponen penting dalam menjaga keberlanjutan tradisi membatik. Pewarisan keterampilan tidak cukup berhenti pada pengenalan teknik penggunaan canting dan malam, tetapi juga harus mencakup pemahaman terhadap filosofi motif, proses penciptaan, serta nilai-nilai kebudayaan yang menyertainya. Dengan demikian, generasi muda tidak hanya mampu menghasilkan batik, namun juga memahami identitas budaya yang sedang mereka warisi.
“Regenerasi adalah komponen krusial dalam membatik. Pewarisan keterampilan membatik perlu sebuah langkah yang nyata dan bukan hanya sekadar wacana belaka, dan hari ini Gemah Sumilir telah berhasil melakukannya,” tambah Drs. Ali Reza, M.Si., selaku Ketua Dekranasda Kabupaten Pekalongan.
Pertemuan antara pembatik senior dan generasi muda dalam kegiatan ini juga menjadi ruang komunikasi antargenerasi. Para pembatik senior membawa pengalaman, keterampilan, dan pengetahuan yang diperoleh melalui proses panjang, sementara generasi muda hadir dengan perspektif serta kreativitas yang dapat menjadi bagian dari pengembangan batik di masa mendatang. Melalui interaksi tersebut, pewarisan kebudayaan berlangsung tidak hanya melalui penyampaian informasi, tetapi juga pengalaman dan praktik secara langsung.
Rangkaian kegiatan diisi dengan mbatik bareng yang melibatkan pembatik lintas generasi, Ruang Kreasi Ajar Mbatik bersama peserta didik SMP se-Kabupaten Pekalongan, serta talkshow Gendhu-gendhu Roso bersama budayawan dan akademisi. Rangkaian tersebut menjadi upaya mempertemukan praktik kebudayaan dengan ruang diskusi dan refleksi mengenai keberlanjutan tradisi batik.
Melalui kegiatan ini, Gemah Sumilir berupaya mewujudkan sumber daya gerak dan membangun kesadaran bahwa pelestarian batik merupakan tanggung jawab bersama. Batik tidak cukup hanya dikenakan, diproduksi, atau diperjualbelikan, tetapi juga perlu dipahami nilai dan filosofi yang melatarbelakanginya. Pada akhirnya, keberlanjutan batik tidak hanya diukur dari seberapa banyak produk yang dihasilkan, melainkan juga dari sejauh mana keterampilan, pengetahuan, dan nilai-nilai luhur di dalamnya tetap hidup serta memberikan kesejahteraan bagi masyarakat.
Kontributor: Azimatus Sya’bana
Editor: Khairul Anwar





